Editor
KOMPAS.com-Ibadah haji bukan sekadar perjalanan ke Tanah Suci, tetapi juga perjalanan hati menuju kedekatan dengan Allah SWT.
Banyak umat Islam menantikan momen ini sebagai kesempatan untuk menyempurnakan rukun Islam dan memperbaiki diri.
Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan bagi Muslim yang mampu secara fisik, finansial, dan keamanan perjalanan.
Baca juga: 423 Tenaga Pendukung PPIH Disiapkan, Perkuat Layanan Jemaah Haji 2026
Kewajiban ini ditegaskan dalam Surah Ali Imran ayat 97:
فِيهِ ءَايَٰتٌۢ بَيِّنَٰتٌ مَّقَامُ إِبْرَٰهِيمَ ۖ وَمَن دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
Fīhi āyātum bayyinātum maqāmu ibrāhīm, wa man dakhalahụ kāna āminā, wa lillāhi 'alan-nāsi ḥijjul-baiti manis-taṭā'a ilaihi sabīlā, wa man kafara fa innallāha ganiyyun 'anil-'ālamīn.
Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) Maqam Ibrahim. Siapa yang memasukinya (Baitullah), maka amanlah dia. (Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Siapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari seluruh alam.
Dilansir dari laman Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Kepala Bidang Pengalaman AIK dan Kaderisasi LPPIK UMS, Yayuli, menjelaskan bahwa makna mampu mencakup kemampuan harta, fisik, dan keamanan perjalanan.
“Mampu perjalanannya, mampu bekalnya, dan juga mampu fisiknya. Juga mampu menyediakan bekal untuk keluarga yang ditinggalkannya,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, ibadah haji memiliki dua komponen penting, yaitu rukun haji dan wajib haji.
Rukun haji menjadi bagian utama yang menentukan sah atau tidaknya ibadah haji.
Jika salah satu rukun ditinggalkan, maka ibadah haji tidak sah dan tidak dapat digantikan dengan denda.
Baca juga: Gelombang Awal Jemaah Haji Tiba, Awal Perjalanan Suci Menuju Baitullah
Dalam mazhab Syafi’i, terdapat enam rukun haji yang harus dilakukan secara berurutan.
1. Ihram
Ihram adalah niat untuk memulai ibadah haji yang ditandai dengan mengenakan pakaian ihram dan membaca talbiyah.
2. Wukuf di Arafah
Wukuf dilakukan pada 9 Dzulhijjah di Padang Arafah sebagai puncak ibadah haji.
3. Thawaf Ifadah
Thawaf dilakukan dengan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali.
4. Sa’i antara Shafa dan Marwah
Sa’i dilakukan dengan berjalan bolak-balik antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali.
5. Tahallul
Tahallul dilakukan dengan mencukur atau memotong rambut sebagai tanda berakhirnya ihram.
6. Tertib
Tertib adalah melaksanakan seluruh rukun secara berurutan sesuai ketentuan.
Baca juga: Menhaj Lantik PPIH Embarkasi 2026, Tekankan Layanan Inklusif untuk Jemaah Haji
Ihram melambangkan kesucian dan kesetaraan manusia di hadapan Allah SWT.
Pakaian sederhana yang dikenakan menunjukkan bahwa semua manusia sama tanpa perbedaan status.
Wukuf menjadi inti ibadah haji sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
الْحَجُّ عَرَفَةُ
Artinya: “Haji itu Arafah.”
Momen ini menjadi waktu terbaik untuk berdoa, berzikir, dan bermuhasabah.
“Ada komunikasi dialogis antara manusia dengan Allah SWT lewat doa dan zikir,” kata Yayuli.
Thawaf menggambarkan perjalanan hidup manusia yang berputar dan kembali kepada Allah SWT.
Sa’i mengajarkan pentingnya usaha dan ketekunan, meneladani perjuangan Siti Hajar.
Tahallul menjadi simbol pembebasan diri dari dosa dan kesombongan.
Proses ini juga menandai berakhirnya sebagian larangan dalam ihram.
Tertib menunjukkan pentingnya disiplin dan kepatuhan dalam menjalankan ibadah.
Urutan yang benar menjadi syarat sah pelaksanaan haji.
Baca juga: Haji 2026 Berangkat Kapan? Ini Jadwal Lengkap Keberangkatan hingga Kepulangan Jemaah
Rukun haji adalah bagian utama yang menentukan sah atau tidaknya ibadah haji.
Rukun tidak dapat digantikan dengan denda jika ditinggalkan.
Sementara itu, wajib haji tidak memengaruhi sahnya ibadah, tetapi jika ditinggalkan harus diganti dengan dam.
Ibadah haji wajib dilakukan oleh Muslim yang memenuhi syarat.
Syarat tersebut meliputi kemampuan secara fisik, finansial, dan keamanan perjalanan.
“Mampu perjalanannya, mampu bekalnya, dan juga mampu fisiknya,” ujar Yayuli.
Selain itu, jemaah juga harus mampu menyediakan kebutuhan keluarga yang ditinggalkan.
Ibadah haji bukan hanya ritual fisik, tetapi perjalanan spiritual yang mendalam.
Setiap rangkaian ibadah mengajarkan kesabaran, keikhlasan, dan ketundukan kepada Allah SWT.
Haji juga menjadi sarana untuk membersihkan diri dari dosa dan memperbaiki hubungan dengan sesama.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang