Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Terjebak Hujan Disertai Petir? Ini Doa Rasulullah Agar Terhindar Bahaya

Kompas.com, 24 April 2026, 18:00 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Hujan deras yang datang tiba-tiba, disertai angin kencang dan kilatan petir, kerap membuat banyak orang terpaksa berhenti sejenak dan berteduh.

Dalam situasi seperti ini, rasa khawatir sering muncul, terutama ketika suara guruh terdengar keras dan kondisi sekitar terasa tidak aman.

Bagi seorang muslim, momen seperti ini bukan hanya soal mencari perlindungan secara fisik, tetapi juga kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui doa.

Dalam tradisi Islam, terdapat sejumlah amalan yang dianjurkan ketika hujan, angin, hingga petir terjadi, sebagai bentuk ikhtiar batin memohon keselamatan.

Hujan dan Petir dalam Perspektif Islam

Dalam ajaran Islam, hujan pada dasarnya adalah rahmat. Namun, dalam kondisi tertentu, hujan juga bisa menjadi ujian, terlebih jika disertai angin kencang dan petir yang berpotensi membahayakan.

Al-Qur’an menggambarkan fenomena alam seperti petir bukan sekadar gejala fisik, tetapi juga tanda kebesaran Allah.

Dalam Surat Ar-Ra’d ayat 13 disebutkan bahwa guruh bertasbih memuji-Nya, sementara para malaikat merasa takut kepada-Nya.

Pemahaman ini menunjukkan bahwa setiap fenomena alam memiliki dimensi spiritual. Karena itu, respons seorang muslim tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga reflektif dan penuh kesadaran.

Baca juga: Doa Saat Hujan Deras Lengkap Arab, Latin, Arti & Keutamaannya

Doa Saat Mendengar Petir dan Guruh

Dalam kitab Al-Adzkar, karya Imam Nawawi, dijelaskan bahwa Rasulullah SAW memiliki doa khusus ketika mendengar suara petir.

Meski riwayatnya berstatus dhaif, para ulama tetap membolehkannya dalam konteks keutamaan amal.

Doa tersebut berbunyi:

اللَّهُمَّ لَا تَقْتُلْنَا بِغَضَبِكَ وَلَا تُهْلِكْنَا بِعَذَابِكَ وَعَافِنَا قَبْلَ ذَالِكَ

Allâhumma lâ taqtulnâ bighadlabika wa lâ tuhliknâ bi‘adzâbika wa ‘âfinâ qabla dzâlika.

Artinya: “Ya Allah, janganlah Engkau bunuh kami dengan kemarahan-Mu, janganlah Engkau hancurkan kami dengan siksa-Mu, dan selamatkanlah kami sebelum hal itu terjadi.”

Doa ini mencerminkan kerendahan hati manusia di hadapan kekuatan alam yang berada di luar kendalinya.

Amalan Sahabat: Dzikir Saat Petir

Selain itu, terdapat pula amalan yang diriwayatkan dari sahabat Nabi, yakni Abdullah bin Zubair.

Dalam riwayat yang terdapat dalam Al-Muwatha’, disebutkan bahwa ia menghentikan pembicaraan saat mendengar petir, lalu membaca:

سُبْحَانَ الَّذِي يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ

Subhânal ladzî yusabbihur ra‘du bihamdihî wal malâ’ikatu min khîfatih.

Artinya: “Mahasuci Allah yang petir itu bertasbih memuji-Nya, dan para malaikat takut kepada-Nya.”

Amalan ini menunjukkan sikap adab terhadap fenomena alam, yaitu dengan memperbanyak dzikir dan mengingat kebesaran Allah.

Baca juga: Hujan Tak Kunjung Reda? Ini Doa Rasulullah yang Dianjurkan

Riwayat Ulama Tabi’in dan Tradisi Keilmuan

Dalam kitab Al-Umm, Imam Syafi'i meriwayatkan kebiasaan seorang tabi’in bernama Thawus. Ia membaca dzikir singkat ketika mendengar petir:

سُبْحَانَ مَنْ سَبَّحَتْ لَهُ

Subhâna man sabbaḥat lahu

Artinya: “Mahasuci Allah yang guruh itu bertasbih kepada-Nya.”

Riwayat lain juga menyebutkan pengalaman Ibnu Abbas bersama Umar bin Khattab saat dalam perjalanan.

Ketika hujan dan petir datang, mereka membaca dzikir tersebut berulang kali hingga akhirnya selamat dari potensi bahaya.

Tradisi ini menunjukkan bahwa doa bukan sekadar bacaan, tetapi bagian dari kesadaran kolektif umat Islam dalam menghadapi situasi genting.

Ikhtiar Lahir: Tetap Utamakan Keselamatan

Selain doa, Islam juga menekankan pentingnya ikhtiar lahir. Dalam konteks cuaca ekstrem, langkah-langkah seperti mencari tempat berteduh yang aman, menghindari pohon tinggi, dan tidak berada di area terbuka saat petir adalah bagian dari upaya menjaga diri.

Lembaga seperti Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika secara rutin mengingatkan masyarakat untuk tidak berteduh di bawah pohon saat terjadi hujan disertai petir, karena risiko sambaran listrik yang tinggi.

Hal ini sejalan dengan prinsip Islam yang mengajarkan keseimbangan antara tawakal dan ikhtiar.

Baca juga: Badai Petir dan Hujan Lebat Landa Saudi, Ini Imbauan untuk Jamaah Haji

Antara Rasa Takut dan Harap

Fenomena hujan, angin, dan petir sejatinya menghadirkan dua rasa sekaligus: takut dan harap. Takut akan potensi bahaya, dan harap akan perlindungan Allah.

Dalam buku Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali menjelaskan bahwa keseimbangan antara rasa khauf (takut) dan raja’ (harap) adalah kunci dalam membangun kedekatan spiritual dengan Allah.

Doa-doa yang dibaca saat petir bukan sekadar permohonan keselamatan, tetapi juga bentuk pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan, sementara Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Momen Sederhana yang Penuh Makna

Berteduh saat hujan mungkin terlihat sebagai aktivitas biasa. Namun dalam perspektif Islam, momen ini bisa menjadi ruang refleksi yang mendalam.

Di tengah suara gemuruh langit dan derasnya hujan, seorang muslim diajak untuk berhenti sejenak, menenangkan diri, dan mengingat bahwa di balik setiap peristiwa alam, ada kekuasaan Allah yang bekerja.

Maka ketika suatu hari terjebak hujan dan petir, bukan hanya jas hujan atau payung yang perlu disiapkan.

Ada doa yang bisa dipanjatkan, ada kesadaran yang bisa dihadirkan, dan ada harapan yang bisa digantungkan.

Karena pada akhirnya, perlindungan terbaik bukan hanya datang dari tempat berteduh, tetapi dari kedekatan kepada-Nya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Bandara Syamsudin Noor Beroperasi 24 Jam untuk Layani Penerbangan Haji 2026
Bandara Syamsudin Noor Beroperasi 24 Jam untuk Layani Penerbangan Haji 2026
Aktual
PPIH Arab Saudi Siagakan Tim Kesehatan di Bandara Madinah, Jamaah Haji Sakit Langsung Diperiksa
PPIH Arab Saudi Siagakan Tim Kesehatan di Bandara Madinah, Jamaah Haji Sakit Langsung Diperiksa
Aktual
Dedikasi PPIH Arab Saudi, Cek Makanan Tiga Kali Sehari demi Jaga Kesehatan Jemaah Haji
Dedikasi PPIH Arab Saudi, Cek Makanan Tiga Kali Sehari demi Jaga Kesehatan Jemaah Haji
Aktual
Terjebak Hujan Disertai Petir? Ini Doa Rasulullah Agar Terhindar Bahaya
Terjebak Hujan Disertai Petir? Ini Doa Rasulullah Agar Terhindar Bahaya
Doa dan Niat
Petugas Keamanan Mulai Lakukan Random Checking Jamaah Haji di Makkah, Kartu Nusuk Jadi Sasaran
Petugas Keamanan Mulai Lakukan Random Checking Jamaah Haji di Makkah, Kartu Nusuk Jadi Sasaran
Aktual
Suhu Uni Emirat Arab Tembus 44 Derajat di Bulan April, Ini Penyebabnya
Suhu Uni Emirat Arab Tembus 44 Derajat di Bulan April, Ini Penyebabnya
Aktual
Sistem Rombongan Jadi Kunci Penataan Jamaah Haji Indonesia Sejak Tiba di Madinah
Sistem Rombongan Jadi Kunci Penataan Jamaah Haji Indonesia Sejak Tiba di Madinah
Aktual
Bolehkah Satu Kambing untuk Kurban dan Akikah Sekaligus? Ini Hukum dan Pendapat Ulama
Bolehkah Satu Kambing untuk Kurban dan Akikah Sekaligus? Ini Hukum dan Pendapat Ulama
Aktual
Keutamaan Silaturahmi dalam Islam: Jalan Melapangkan Rezeki
Keutamaan Silaturahmi dalam Islam: Jalan Melapangkan Rezeki
Aktual
Surah Al-Hujurat: Larangan Menghina dan Makna 'Khairun Minhum'
Surah Al-Hujurat: Larangan Menghina dan Makna "Khairun Minhum"
Aktual
Haji 2026 Dimulai: Saudi Siapkan 3,1 Juta Kursi, RI Matangkan Layanan Jemaah
Haji 2026 Dimulai: Saudi Siapkan 3,1 Juta Kursi, RI Matangkan Layanan Jemaah
Aktual
Hukum Sholat Sambil Baca Al-Qur’an di HP, Sah atau Tidak?
Hukum Sholat Sambil Baca Al-Qur’an di HP, Sah atau Tidak?
Aktual
Hari Keempat Haji 2026, 15.349 Jemaah Indonesia Sudah Berangkat, Ini Imbauannya
Hari Keempat Haji 2026, 15.349 Jemaah Indonesia Sudah Berangkat, Ini Imbauannya
Aktual
Ketika Dunia Jadi Tujuan, Agama Hanya Tinggal Formalitas
Ketika Dunia Jadi Tujuan, Agama Hanya Tinggal Formalitas
Aktual
Tak Pernah Gelap, Listrik Masjidil Haram Tembus Rp 69 Miliar Per Bulan
Tak Pernah Gelap, Listrik Masjidil Haram Tembus Rp 69 Miliar Per Bulan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com