Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hukum Iktikaf di Rumah, Boleh atau Tidak? Ini Penjelasan Ulama

Kompas.com, 10 Maret 2026, 15:18 WIB
Add on Google
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, umat Muslim dianjurkan memperbanyak ibadah untuk meraih keutamaan malam Lailatul Qadar.

Salah satu amalan yang dianjurkan adalah iktikaf, yakni berdiam diri di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ibadah ini umumnya dilakukan dengan memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, doa, serta shalat malam.

Namun, muncul pertanyaan di kalangan masyarakat mengenai boleh tidaknya melaksanakan iktikaf di rumah.

Baca juga: Bacaan Niat Iktikaf Lengkap: Arab, Latin, dan Artinya

Hal ini karena secara harfiah, iktikaf berarti berdiam diri di dalam masjid dengan syarat tertentu semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa iktikaf dilakukan di masjid. Namun, persoalan iktikaf di rumah termasuk dalam masalah khilafiyah atau perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Berikut adalah penjelasan lengkapnya seperti dilansir dari laman Baznas

Pendapat Ulama yang Memperbolehkan Iktikaf di Rumah

Sejumlah ulama berpendapat bahwa iktikaf dapat dilakukan di rumah, terutama dalam kondisi tertentu.

Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa iktikaf boleh dilakukan di rumah. Pendapat serupa juga disampaikan oleh Imam Rafii.

Ia menambahkan bahwa apabila shalat sunnah bagi laki-laki lebih utama dikerjakan di rumah, maka ketentuan tersebut juga dapat berlaku pada iktikaf. (Fath al-Aziz bi Syarh al-Wajiz al-Syarah al-Kabir li Rafii).

Dalam mazhab Hanafi juga disebutkan bahwa seorang perempuan yang melaksanakan iktikaf diperbolehkan melakukannya di mushala yang ada di rumahnya. Bahkan, jika perempuan beriktikaf di masjid hukumnya dianggap makruh tanzih.

Pendapat tersebut didasarkan pada sabda Rasulullah SAW:
"Shalatnya wanita adalah lebih baik di rumahnya ketimbang di kamarnya, dan shalatnya pada ruangan tertentu dari bagian rumahnya adalah lebih baik baginya ketimbang shalat dalam rumahnya.”

Al-Kubaisi juga berpendapat bahwa jika shalat perempuan lebih utama dilakukan di rumahnya, maka dalam hal iktikaf pun berlaku demikian. Imam Malik menyampaikan pandangan serupa dengan menegaskan:

"Hadits itu dengan gamblang menjelaskan kepada kita bahwa prinsipnya, Rasulullah SAW mengatakan bahwa shalatnya kaum wanita pada bagian tertentu di dalam rumahnya (mushola dalam rumahnya) adalah paling baik dibandingkan shalat di tempat lain."

Pendapat Ulama yang Tidak Memperbolehkan Iktikaf di Rumah

Di sisi lain, sebagian ulama berpendapat bahwa iktikaf tidak sah dilakukan selain di masjid.

Sayyid Sabiq berpendapat bahwa iktikaf tidak sah jika dilakukan di luar masjid. Pendapat ini didasarkan pada dalil Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 187.

Dalam penggunaan dalil tersebut dijelaskan bahwa apabila iktikaf sah dilakukan di luar masjid, maka Allah SWT tidak akan mengkhususkan larangan mencampuri istri ketika sedang iktikaf di masjid. Hal tersebut dianggap bertentangan dengan prinsip pelaksanaan iktikaf.

Selain itu, sebagian ulama juga menyatakan bahwa iktikaf perempuan di rumah tidak dianggap sah karena tempat shalat di dalam rumah tidak dapat disamakan dengan masjid.

Hal ini juga merujuk pada praktik para istri Rasulullah SAW yang diizinkan beriktikaf di masjid bersama beliau.

Pendapat ini juga sejalan dengan pandangan mazhab Maliki, Syafii, dan Hanbali yang menegaskan bahwa iktikaf seharusnya dilakukan di masjid.

Perbedaan Pendapat dalam Ibadah Iktikaf

Perbedaan pandangan ulama mengenai iktikaf di rumah menunjukkan bahwa persoalan tersebut termasuk dalam ranah khilafiyah dalam fiqih Islam.

Sebagian ulama memperbolehkan iktikaf di rumah dalam kondisi tertentu, sementara ulama lainnya menegaskan bahwa iktikaf hanya sah jika dilakukan di masjid.

Perbedaan ini menjadi bagian dari dinamika pemahaman hukum Islam yang memiliki dasar dan dalil masing-masing.

Karena itu, umat Islam dapat menyikapi perbedaan tersebut dengan saling menghargai dan menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan masing-masing, tanpa memperbesar perbedaan yang ada.

Dengan demikian, tujuan utama iktikaf untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT tetap dapat tercapai.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Arab Saudi Berlakukan Sanksi Berat bagi Pelaku Usaha Pangan Ilegal saat Musim Haji 2026
Arab Saudi Berlakukan Sanksi Berat bagi Pelaku Usaha Pangan Ilegal saat Musim Haji 2026
Aktual
Imranul Karin, Qari Asal Kaltim Berhasil Raih juara MTQ Internasional 2026 di Rusia
Imranul Karin, Qari Asal Kaltim Berhasil Raih juara MTQ Internasional 2026 di Rusia
Aktual
Cara Naik Bus Shalawat ke Masjidil Haram, Panduan Jemaah Haji untuk Bepergian hingga Pulang ke Hotel
Cara Naik Bus Shalawat ke Masjidil Haram, Panduan Jemaah Haji untuk Bepergian hingga Pulang ke Hotel
Aktual
Jemaah Haji Indonesia Dapat Jatah Air Minum di Makkah, PPIH Perkuat Antisipasi Hadapi Cuaca Panas
Jemaah Haji Indonesia Dapat Jatah Air Minum di Makkah, PPIH Perkuat Antisipasi Hadapi Cuaca Panas
Aktual
Kisah Petugas Haji yang Bekerja Tanpa Pamrih, Ikhlas Bantu Ganti Popok Jemaah Lansia di Bandara Madinah
Kisah Petugas Haji yang Bekerja Tanpa Pamrih, Ikhlas Bantu Ganti Popok Jemaah Lansia di Bandara Madinah
Aktual
Tips Ampuh Cegah Kaki Lecet dan Melepuh bagi Jemaah Haji Saat Ibadah di Tanah Suci
Tips Ampuh Cegah Kaki Lecet dan Melepuh bagi Jemaah Haji Saat Ibadah di Tanah Suci
Aktual
Jemaah Haji Pacitan Tandai Koper Bagasi dengan Pita dan Boneka, Mudahkan Identifikasi di Tanah Suci
Jemaah Haji Pacitan Tandai Koper Bagasi dengan Pita dan Boneka, Mudahkan Identifikasi di Tanah Suci
Aktual
Jemaah Haji Lansia Tak Perlu Paksakan Diri Shalat Arbain, Ini Penjelasannya
Jemaah Haji Lansia Tak Perlu Paksakan Diri Shalat Arbain, Ini Penjelasannya
Aktual
Keringat di Pasar Japura Antarkan Hasanudin dan Kudaedah ke Tanah Suci
Keringat di Pasar Japura Antarkan Hasanudin dan Kudaedah ke Tanah Suci
Aktual
Jemaah Haji Kini Bisa Lapor Kendala di Tanah Suci lewat Aplikasi Kawal Haji
Jemaah Haji Kini Bisa Lapor Kendala di Tanah Suci lewat Aplikasi Kawal Haji
Aktual
PPIH Jelaskan Cara Membaca Kode Sektor Penginapan dan Nomor Hotel Jemaah Haji di Makkah
PPIH Jelaskan Cara Membaca Kode Sektor Penginapan dan Nomor Hotel Jemaah Haji di Makkah
Aktual
Hari Keenam Haji 2026: 28.274 Jemaah Berangkat, 125 Ribu Nikmati Fast Track Tanpa Antre
Hari Keenam Haji 2026: 28.274 Jemaah Berangkat, 125 Ribu Nikmati Fast Track Tanpa Antre
Aktual
Arab Saudi Perketat Aturan Haji 2026, Jamaah Dilarang Live Streaming di Masjid Nabawi
Arab Saudi Perketat Aturan Haji 2026, Jamaah Dilarang Live Streaming di Masjid Nabawi
Aktual
Kemenhaj Siapkan 177 Hotel untuk Jamaah Haji di Makkah, Ada yang Bisa Tampung 21.500 Orang
Kemenhaj Siapkan 177 Hotel untuk Jamaah Haji di Makkah, Ada yang Bisa Tampung 21.500 Orang
Aktual
Sudah Dilarang, Petugas Masih Temukan Rice Cooker hingga Pemanas Air di Bagasi Jemaah Haji
Sudah Dilarang, Petugas Masih Temukan Rice Cooker hingga Pemanas Air di Bagasi Jemaah Haji
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com