Editor
KOMPAS.com - Ketua Umum Dewan Pembina Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Khofifah Indar Parawansa, mengajak umat Islam menjadikan masjid sebagai pusat penyatuan hati, pikiran, dan gerakan keumatan.
Pesan tersebut disampaikan Khofifah dalam peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (17/1/2025).
“Jadi referensi kita bagaimana gerakan kita minal masjid ilal masjid, bagaimana pikiran kita minal masjid ilal masjid, bagaimana hati kita minal masjid ilal masjid,” ujar Khofifah dalam keterangan yang diterima di Surabaya, Jawa Timur.
Peringatan Isra Miraj itu dihadiri sekitar 6.000 jamaah Muslimat NU dari wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).
Baca juga: 3 Teori Fisika yang Kerap Dikaitkan dengan Peristiwa Isra Miraj
Acara tersebut juga dihadiri Menteri Agama RI Prof KH Nasaruddin Umar, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Choiri Fauzi, serta penceramah Ustadz Das’ad Latif.
Khofifah menegaskan, kecintaan terhadap masjid tidak cukup hanya sebagai niat, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata dengan memakmurkan masjid dan menghidupkan jamaahnya.
“Bahwa ada niat, keinginan, dan kemudian diimplementasikan bagaimana kecintaan kita kepada masjid, ini bisa menjadi referensi untuk selalu meramaikan masjid, memakmurkan masjid dan jamaahnya,” tambahnya.
Menurut Khofifah, kehadiran ribuan jamaah Muslimat NU dalam majelis tersebut merupakan bagian dari penguatan amal ibadah dan spiritualitas umat.
Hal itu diwujudkan melalui majelis ilmu, pembacaan ayat suci Alquran, lantunan kalimat thayyibah, shalawat, serta silaturahmi.
“Hadirnya kita dalam majelis ini semoga dicatat sebagai amal ibadah, dan amal ibadah ini yang akan mengantarkan kita saat menghadap Allah agar kita dipanggil sebagai husnul khotimah,” tuturnya.
Khofifah juga menekankan pentingnya keseimbangan antara hablu minallah dan hablu minannas. Ibadah kepada Allah SWT, seperti shalat dan puasa, harus berjalan seiring dengan kepedulian sosial melalui kolaborasi, sinergi, dan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.
Sementara itu, Menteri Agama RI yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof KH Nasaruddin Umar, memaknai Isra Miraj sebagai perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW atas undangan Allah SWT.
Ia menjelaskan bahwa Isra merupakan perjalanan yang masih dapat dicerna oleh akal manusia, sedangkan Miraj adalah perjalanan dari bawah ke atas yang berada di luar jangkauan nalar.
“Miraj ini tujuannya adalah bagaimana setelah kita naik ke puncak, kita bisa kembali bersosialisasi dengan masyarakat. Inilah sesungguhnya hakikat Miraj,” jelasnya.
Menag juga mengapresiasi Khofifah dan Ketua Pengurus Pusat Muslimat NU Arifah Choiri Fauzi atas kolaborasi penyelenggaraan peringatan Isra Miraj di Masjid Istiqlal. Ia bahkan membuka peluang bagi Muslimat NU untuk rutin memanfaatkan Masjid Istiqlal.
“Terima kasih Ibu Khofifah sebagai orang tertinggi di Muslimat NU. Silakan kalau Muslimat ingin memanfaatkan Masjid Istiqlal sekali sebulan seperti ini, insyaallah kami akan fasilitasi,” ujarnya.
Baca juga: Makna Isra Miraj bagi Dedi Mulyadi: Kesunyian, Keikhlasan, dan Introspeksi Seorang Pemimpin
Dalam tausiyahnya, Ustadz Das’ad Latif menegaskan bahwa inti utama peristiwa Isra Miraj adalah perintah shalat. Ia mengingatkan agar setiap persoalan hidup dikembalikan kepada kualitas shalat.
“Saat ada masalah jangan dibagikan di media sosial, tetapi kembali shalat, evaluasi shalat kita,” tegasnya.
Usai acara, Khofifah bersama Arifah Choiri Fauzi meninjau Terowongan Silaturahmi, jalur bawah tanah yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta, sebagai simbol toleransi dan persaudaraan antarumat beragama.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang