KOMPAS.com - Bulan Ramadhan menempati posisi istimewa dalam kalender ibadah umat Islam.
Ia bukan sekadar bulan puasa, tetapi momentum spiritual untuk membersihkan jiwa, memperbaiki akhlak, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Dalam Al-Qur’an, Ramadhan disebut sebagai bulan diturunkannya wahyu pertama, yang sekaligus menandai dimulainya fase pembinaan ruhani umat Islam secara komprehensif.
Dalam buku Fadhail Syahr Ramadhan karya Syekh Yusuf al-Qaradawi dijelaskan bahwa Ramadhan merupakan “madrasah ruhani” yang dirancang Allah untuk membentuk pribadi bertakwa melalui rangkaian ibadah yang saling melengkapi.
Karena itu, umat Islam dianjurkan tidak hanya berpuasa, tetapi juga menghidupkan Ramadhan dengan berbagai amalan utama.
Baca juga: Allahumma Bariklana fi Rajaba wa Sya’bana wa Balighna Ramadhan, Doa dan Maknanya
Puasa Ramadhan menjadi ibadah pokok yang menjadi dasar seluruh aktivitas spiritual di bulan suci.
Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 183 bahwa puasa diwajibkan agar manusia mencapai derajat takwa.
Puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih pengendalian diri, kesabaran, dan disiplin moral.
Dalam Fiqh as-Sunnah, Sayyid Sabiq menjelaskan bahwa puasa memiliki dimensi lahir dan batin.
Secara lahiriah, seseorang menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Secara batiniah, puasa mengajarkan pengendalian hawa nafsu, menjaga lisan, serta menahan emosi negatif yang dapat merusak nilai ibadah.
Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa puasa Ramadhan memiliki dampak langsung pada pembersihan spiritual seorang Muslim.
Baca juga: Ramadhan 2026: Zakat di Bulan Ramadhan dan Cara Sedekah yang Benar
Shalat Tarawih merupakan ibadah sunnah yang hanya dilaksanakan pada malam-malam Ramadhan. Tradisi ini menjadi ciri khas Ramadhan yang memperkuat suasana religius di masjid-masjid.
Dalam kitab Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab, Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa Tarawih merupakan bentuk qiyam Ramadhan yang sangat dianjurkan karena menghidupkan malam dengan ibadah berjamaah.
Rasulullah SAW menegaskan bahwa siapa yang melaksanakan shalat malam Ramadhan dengan penuh keimanan dan harapan pahala akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.
Tarawih tidak hanya bernilai ibadah individual, tetapi juga memiliki dimensi sosial. Kehadirannya menghidupkan masjid, mempererat ukhuwah, dan membangun atmosfer kebersamaan dalam ketaatan.
Baca juga: Mengapa Awal Ramadhan 2026 Berpotensi Berbeda? Ini Penjelasan Kemenag dan BRIN
Ramadhan sering disebut sebagai “bulan Al-Qur’an” karena pada bulan inilah wahyu pertama diturunkan.
Dalam Tafsir al-Misbah, Prof M Quraish Shihab menjelaskan bahwa interaksi dengan Al-Qur’an di bulan Ramadhan tidak hanya terbatas pada membaca, tetapi juga memahami makna dan mengamalkan isinya.
Rasulullah SAW menyampaikan bahwa setiap huruf Al-Qur’an bernilai pahala berlipat ganda. Karena itu, para ulama salaf menjadikan Ramadhan sebagai momentum memperbanyak khataman.
Imam Malik bahkan mengurangi aktivitas mengajar hadisnya demi fokus membaca Al-Qur’an selama Ramadhan.
Tilawah yang disertai tadabbur akan memperdalam kesadaran spiritual dan memperkuat komitmen moral dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Bulan Puasa 2026 Berapa Hari Lagi? Hitung Mundur dan Persiapan Menyambut Ramadhan 1447 H
Dimensi sosial Ramadhan tercermin kuat dalam anjuran memperbanyak sedekah. Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang sangat dermawan dan kedermawanannya semakin meningkat pada bulan Ramadhan.
Dalam Ihya Ulumuddin, Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa sedekah bukan sekadar pemberian materi, tetapi sarana membersihkan jiwa dari sifat kikir serta menumbuhkan empati sosial.
Sedekah Ramadhan juga berfungsi mempersempit jurang sosial dan menghadirkan keadilan ekonomi dalam skala mikro masyarakat.
Memberi makan orang berbuka puasa, membantu fakir miskin, dan menyalurkan zakat fitrah merupakan bagian dari ekosistem ibadah sosial yang menjadi ciri khas Ramadhan.
Baca juga: Ini Jadwal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha 2026 Versi Muhammadiyah
Sepuluh malam terakhir Ramadhan memiliki keistimewaan tersendiri karena di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.
Rasulullah SAW secara konsisten melakukan i’tikaf sebagai bentuk totalitas dalam mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam kitab Subulus Salam, Imam ash-Shan’ani menjelaskan bahwa i’tikaf bertujuan memutus ketergantungan hati dari kesibukan dunia dan mengarahkan fokus sepenuhnya kepada ibadah.
Di masa inilah seorang Muslim diajak untuk melakukan refleksi diri, memperbanyak doa, serta memperkuat hubungan spiritual.
I’tikaf juga menjadi momentum evaluasi diri menjelang akhir Ramadhan agar perubahan spiritual tidak berhenti ketika bulan suci berlalu.
Baca juga: Hitung Mundur Ramadhan 2026: Awal Puasa Diprediksi 18 atau 19 Februari
Selain ibadah ritual, Ramadhan menuntut perubahan perilaku. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa puasa tidak bernilai sempurna bila seseorang masih melakukan kebohongan, ghibah, dan perbuatan tercela.
Dalam Riyadhus Shalihin, Imam an-Nawawi menekankan bahwa Ramadhan adalah waktu terbaik untuk melatih akhlak.
Menahan emosi, memperbaiki tutur kata, dan meningkatkan kesabaran menjadi bagian dari ibadah yang tidak kalah penting dibandingkan shalat dan puasa.
Transformasi akhlak inilah yang menjadi indikator keberhasilan Ramadhan dalam membentuk pribadi bertakwa.
Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan kesempatan besar untuk memperbarui kualitas iman.
Dalam pandangan para ulama, ibadah Ramadhan harus berdampak pada kehidupan setelah bulan suci berlalu.
Sebagaimana dijelaskan Syekh Yusuf al-Qaradawi, keberhasilan Ramadhan diukur dari keberlanjutan amal setelah Idul Fitri.
Jika kebiasaan shalat malam, membaca Al-Qur’an, dan bersedekah tetap terjaga, maka Ramadhan telah menjalankan fungsinya sebagai madrasah spiritual umat Islam.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang