KOMPAS.com - Puasa Ayyamul Bidh yang bertepatan dengan Nisfu Syaban menjadi salah satu amalan sunnah yang banyak dikerjakan umat Islam.
Namun dalam praktiknya, tidak sedikit muslim yang lupa melafalkan niat pada malam hari. Kondisi ini kemudian menimbulkan pertanyaan, apakah puasa Ayyamul Bidh Nisfu Syaban tetap sah jika niat baru dibaca pada pagi hari?
Dalam Islam, persoalan niat memiliki kedudukan penting sebagai penentu sah atau tidaknya ibadah.
Meski demikian, syariat juga memberikan kelonggaran tertentu, khususnya dalam ibadah sunnah. Hal inilah yang menjadi dasar perbedaan perlakuan antara puasa wajib dan puasa sunnah.
Mengutip buku Fiqih Ibadah Praktis karya Syaikh Wahbah az-Zuhaili, niat merupakan kehendak hati untuk melaksanakan suatu ibadah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.
Dalam puasa, niat menjadi pembeda antara menahan diri karena kebiasaan dan menahan diri sebagai ibadah.
Puasa wajib seperti Ramadhan, qadha, dan nazar disepakati para ulama harus diniatkan sejak malam hari sebelum terbit fajar. Hal ini didasarkan pada hadis Rasulullah SAW:
“Barang siapa tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)
Namun ketentuan ini berbeda untuk puasa sunnah.
Baca juga: Niat Puasa Syaban Sekaligus Qadha Ramadhan, Bolehkah Digabung?
Dalam mazhab Syafi’i, Hanbali, dan sebagian ulama Malikiyah, niat puasa sunnah diperbolehkan dilakukan pada pagi hari selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar.
Hal ini dijelaskan dalam kitab Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab karya Imam An-Nawawi, bahwa puasa sunnah sah apabila niat dilakukan sebelum zawal (masuk waktu Zuhur), dengan syarat orang tersebut belum makan, minum atau melakukan pembatal puasa lainnya.
Dasar kebolehan ini juga bersumber dari hadis riwayat Muslim, ketika Rasulullah SAW bersabda:
“Suatu hari Nabi SAW masuk menemui keluarganya dan bertanya, ‘Apakah kalian memiliki makanan?’ Mereka menjawab, ‘Tidak.’ Maka beliau bersabda, ‘Kalau begitu aku berpuasa.’” (HR Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW menetapkan niat puasa sunnah setelah pagi hari berlalu dan puasanya tetap sah.
Puasa Ayyamul Bidh adalah puasa sunnah yang dilaksanakan setiap tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriah.
Sementara Nisfu Syaban jatuh pada tanggal 15 Syaban. Artinya, ketika seseorang berpuasa di pertengahan Syaban, ia dapat memperoleh keutamaan ganda, pahala puasa Ayyamul Bidh dan keutamaan waktu Nisfu Syaban.
Dalam buku Kalender Ibadah Sepanjang Tahun karya H. Abdillah F. Hasan dijelaskan bahwa puasa pertengahan bulan termasuk amalan rutin Rasulullah SAW yang dianjurkan karena memiliki nilai konsistensi ibadah dan pembiasaan amal saleh.
Jika seseorang lupa berniat di malam hari, maka selama belum makan dan minum sejak Subuh, ia masih diperbolehkan berniat puasa sunnah di pagi hari.
Baca juga: Niat Puasa Syaban: Panduan Lengkap, Keutamaan, dan Dalilnya
Berikut bacaan niat puasa Ayyamul Bidh yang juga dapat digunakan saat bertepatan dengan Nisfu Syaban.
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ مِنْ أَيَّامِ الْبِيضِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin min ayyāmil bidh lillāhi ta‘ālā.
Artinya: “Aku berniat berpuasa esok hari dari puasa Ayyamul Bidh karena Allah Ta’ala.”
Jika ingin meniatkan sebagai puasa sunnah Syaban, dapat membaca:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ سُنَّةِ شَعْبَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an sunnati Sya‘bān lillāhi ta‘ālā.
Artinya: “Aku berniat berpuasa esok hari dari puasa sunnah Syaban karena Allah Ta’ala.”
Menurut mayoritas ulama, niat tersebut cukup dibaca dalam hati, karena hakikat niat adalah ketetapan batin untuk beribadah.
Mengutip Tuntunan Lengkap Puasa Sunnah karya KH Ali Mustafa Yaqub, niat puasa sunnah boleh dilakukan hingga sebelum matahari tergelincir atau sebelum masuk waktu Zuhur.
Namun jika seseorang baru berniat setelah waktu tersebut, maka puasanya tidak dihitung sebagai puasa sunnah.
Selain itu, syarat penting lainnya adalah belum melakukan perbuatan yang membatalkan puasa sejak terbit fajar, seperti makan, minum, atau berhubungan suami istri.
Baca juga: Puasa Syaban Tanggal Berapa? Ini Jadwal Lengkap 2026
Kemudahan niat puasa sunnah di pagi hari mencerminkan rahmat Allah SWT bagi hamba-Nya. Islam tidak memberatkan umatnya dalam ibadah sunnah, tetapi justru mendorong agar semakin banyak amal saleh dilakukan dengan penuh keikhlasan.
Dalam konteks Nisfu Syaban, kemudahan ini menjadi peluang bagi umat Islam untuk tetap memperoleh pahala, meski lupa berniat di malam hari.
Momentum pertengahan Syaban dikenal sebagai waktu memperbanyak taubat, doa, dan persiapan spiritual menuju Ramadhan.
Dengan memahami ketentuan niat puasa Ayyamul Bidh Nisfu Syaban, diharapkan umat Islam dapat menjalankan ibadah dengan lebih tenang, sah secara syariat, dan bernilai ibadah di sisi Allah SWT.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang