KOMPAS.com - Dalam kehidupan seorang Muslim, doa menempati posisi yang sangat penting. Doa bukan sekadar permohonan, melainkan bentuk penghambaan dan pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan, sementara Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah membuka pintu seluas-luasnya bagi hamba yang memohon kepada-Nya. Allah SWT berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Wa qāla rabbukum ud‘ūnī astajib lakum
Artinya: “Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan permohonanmu.” (QS. Ghafir: 60)
Namun, Islam juga mengajarkan bahwa terdapat waktu-waktu tertentu yang memiliki keutamaan khusus, di mana peluang terkabulnya doa lebih besar. Waktu-waktu ini dikenal sebagai waktu mustajab.
Dalam kitab Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi dijelaskan bahwa waktu mustajab bukan berarti doa di luar waktu tersebut tidak diterima, melainkan pada waktu-waktu tertentu Allah memberikan keutamaan tambahan berupa rahmat, keberkahan, dan kemudahan pengabulan doa.
Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Latha’if Al-Ma’arif menyebutkan bahwa pemilihan waktu yang tepat untuk berdoa merupakan bagian dari adab berdoa yang diajarkan Rasulullah SAW.
Berikut sejumlah waktu mustajab doa yang dijelaskan dalam Al-Qur’an, hadis sahih, serta keterangan para ulama.
Baca juga: Doa Mustajab Nabi Musa AS agar Dimudahkan Segala Urusan
Salah satu waktu paling utama untuk berdoa adalah sepertiga malam terakhir, yakni waktu menjelang fajar.
Pada waktu ini, Allah membuka pintu rahmat-Nya bagi hamba yang bangun untuk bermunajat. Allah SWT berfirman:
وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Wa bil-ashāri hum yastaghfirūn
Artinya: “Dan pada waktu sahur mereka memohon ampun.” (QS. Adz-Dzariyat: 18)
Rasulullah SAW bersabda:
"Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku beri, dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku akan Aku ampuni." (HR. Bukhari dan Muslim)
Menurut Imam Ibn Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, ayat dan hadis ini menunjukkan bahwa waktu sahur bukan hanya waktu makan sebelum puasa, tetapi momentum spiritual yang sangat besar nilainya.
Waktu berbuka puasa juga termasuk waktu yang penuh keberkahan. Dalam kondisi menahan lapar, haus, dan hawa nafsu, hati seorang hamba berada dalam keadaan tunduk dan khusyuk.
Rasulullah SAW bersabda:
"Tiga doa yang tidak tertolak: doa orang yang berpuasa hingga ia berbuka, doa pemimpin yang adil, dan doa orang yang terzalimi." (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)
Dalam kitab Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa doa orang yang berpuasa dikabulkan karena kondisi spiritual yang bersih dari syahwat dan kelalaian dunia.
Baca juga: Doa Mustajab di Masjid Nabawi: Melangitkan Harapan di Kota Rasulullah
Lailatul Qadar merupakan malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam ini menjadi waktu istimewa untuk memanjatkan doa.
Allah SWT berfirman:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Lailatul qadri khairum min alfi syahr
Artinya: “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)
Aisyah RA bertanya kepada Rasulullah tentang doa terbaik di malam tersebut. Beliau menjawab:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Allāhumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa‘fu ‘annī
Artinya: “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka ampunilah aku.” (HR. Tirmidzi)
Ketika adzan dikumandangkan, pintu langit terbuka dan doa lebih mudah naik kepada Allah.
Rasulullah SAW bersabda:
"Doa tidak tertolak ketika adzan berkumandang dan ketika dua pasukan saling berhadapan." (HR. Abu Daud)
Selain itu, waktu antara adzan dan iqamah juga memiliki keutamaan khusus.
"Doa di antara adzan dan iqamah tidak tertolak." (HR. Tirmidzi)
Dalam Syarh Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi menjelaskan bahwa jeda ini seharusnya dimanfaatkan untuk doa pribadi, bukan sekadar berbincang atau menyibukkan diri dengan hal duniawi.
Sujud adalah posisi paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya. Oleh karena itu, Rasulullah menganjurkan memperbanyak doa saat sujud.
Rasulullah SAW bersabda:
"Posisi terdekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah saat ia bersujud, maka perbanyaklah doa." (HR. Muslim)
Dalam kitab Fiqh As-Sunnah karya Sayyid Sabiq disebutkan bahwa doa dalam sujud boleh menggunakan bahasa Arab doa Al-Qur’an maupun doa permohonan pribadi selama isinya baik dan sesuai adab.
Salah satu waktu yang jarang diketahui adalah hari Rabu antara Zuhur dan Ashar. Jabir bin Abdillah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW berdoa di Masjid Al-Fath pada hari Senin, Selasa, dan Rabu, lalu dikabulkan pada hari Rabu di antara dua shalat.
Jabir berkata:
"Tidaklah aku menghadapi perkara berat kecuali aku memilih waktu itu untuk berdoa dan aku mendapati doaku dikabulkan." (HR. Ahmad)
Menurut Al-Hafizh Al-Mundziri, hadis ini menunjukkan adanya pengalaman praktik sahabat dalam menghidupkan waktu tersebut sebagai momentum doa.
Baca juga: Kapan Waktu Mustajab untuk Berdoa di Hari Jumat? Simak Penjelasannya
Waktu setelah salat fardu juga termasuk waktu yang dianjurkan untuk berdoa. Dalam Bulughul Maram karya Ibnu Hajar dijelaskan bahwa Rasulullah SAW sering memanjatkan dzikir dan doa setelah salam yang menunjukkan keutamaan momen tersebut.
Rasulullah SAW juga menyebutkan bahwa doa saat hujan turun dan doa orang yang sedang safar termasuk doa yang mustajab.
Dalam Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi memasukkan kedua waktu ini dalam bab khusus tentang waktu-waktu dikabulkannya doa.
Waktu mustajab merupakan karunia besar dari Allah agar manusia lebih mendekatkan diri kepada-Nya.
Islam tidak hanya mengajarkan isi doa, tetapi juga momentum terbaik untuk memanjatkan permohonan.
Dengan memahami waktu-waktu mustajab, seorang Muslim dapat mengatur ritme ibadahnya secara lebih terarah dan bermakna.
Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an:
إِنَّ اللَّهَ قَرِيبٌ مُجِيبٌ
Innallāha qarībun mujīb
Artinya: “Sesungguhnya Allah Maha Dekat dan Maha Mengabulkan doa.” (QS. Hud: 61)
Dengan ikhtiar, kesungguhan, adab yang baik, dan pemilihan waktu yang utama, doa bukan hanya menjadi permohonan, tetapi juga jalan spiritual menuju ketenangan dan kedekatan dengan Allah SWT.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang