KOMPAS.com - Ramadhan selalu hadir sebagai momentum pembaruan spiritual. Ia bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan besar untuk mengendalikan diri, menata ulang orientasi hidup, dan mendekatkan manusia kepada nilai-nilai ketuhanan.
Namun di tengah semangat ibadah yang tinggi, muncul ironi yang kian terasa, pola konsumsi yang justru meningkat, jamuan berbuka yang berlebihan, serta gaya hidup instan yang bertolak belakang dengan pesan kesederhanaan Islam.
Di sinilah pentingnya menghidupkan kembali spirit Ramadhan yang sederhana. Kesederhanaan bukan berarti kekurangan, melainkan kesadaran untuk hidup secukupnya, proporsional, dan bertanggung jawab.
Puasa sejatinya mengajarkan manusia agar tidak dikuasai oleh nafsu, termasuk nafsu konsumsi.
Puasa dalam Islam memiliki dimensi spiritual dan sosial yang kuat. Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan tujuan utama puasa:
Yā ayyuhallażīna āmanū kutiba ‘alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba ‘alallażīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)
Takwa dalam konteks ini bukan sekadar ketaatan ritual, tetapi kemampuan mengendalikan diri dari sikap berlebihan.
Quraish Shihab dalam buku Wawasan Al-Qur’an menjelaskan bahwa puasa adalah sarana pembentukan karakter, di mana manusia dilatih untuk menahan dorongan biologis sekaligus membangun empati sosial.
Ketika seseorang mampu menahan diri dari yang halal pada siang hari Ramadhan, seharusnya ia lebih mudah menahan diri dari perilaku mubazir dan konsumtif.
Kesederhanaan menjadi fondasi dari latihan ini. Nabi Muhammad SAW mencontohkan gaya hidup yang jauh dari kemewahan.
Dalam banyak riwayat, Rasulullah kerap berbuka hanya dengan kurma dan air, tanpa jamuan berlebihan.
Pola hidup ini menunjukkan bahwa keberkahan Ramadhan tidak diukur dari banyaknya hidangan, tetapi dari kualitas ibadah dan kejernihan hati.
Fenomena Ramadhan modern memperlihatkan kontras yang tajam. Pusat perbelanjaan dipenuhi promo besar-besaran, iklan makanan membanjiri layar, dan budaya “balas dendam” makan saat berbuka menjadi hal yang lazim. Padahal Islam dengan tegas melarang pemborosan.
Al-Qur’an mengingatkan:
Innal mubażżirīna kānū ikhwanaś-syayāṭīn, wa kānasy-syayṭānu lirabbihī kafūrā.
“Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara setan. Dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’ [17]: 27)
Menurut Yusuf al-Qaradawi dalam bukunya Islam dan Lingkungan Hidup, pemborosan bukan hanya masalah etika personal, tetapi juga persoalan sosial dan ekologis.
Ketika konsumsi meningkat tanpa kendali, dampaknya merambat pada kerusakan lingkungan, peningkatan sampah makanan, serta eksploitasi sumber daya alam.
Ramadhan yang seharusnya menjadi bulan pengendalian diri justru sering berubah menjadi musim konsumsi.
Di titik inilah umat Islam ditantang untuk mereinterpretasi makna puasa secara lebih kontekstual, yaitu dengan menempatkan kesederhanaan sebagai bagian dari ibadah.
Dalam tradisi Islam, kesederhanaan dikenal dengan konsep zuhd, yakni sikap tidak terikat secara berlebihan pada dunia.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa zuhud bukan berarti meninggalkan dunia sepenuhnya, melainkan menempatkan dunia di tangan, bukan di hati. Artinya, manusia boleh memiliki harta, tetapi tidak menjadikannya sebagai tujuan hidup.
Ramadhan merupakan waktu terbaik untuk mempraktikkan nilai ini. Pola makan yang sederhana, belanja yang terukur, serta gaya hidup yang bersahaja akan membantu umat Islam fokus pada ibadah dan refleksi diri.
Kesederhanaan juga membuka ruang empati. Ketika seseorang merasakan lapar dan dahaga, ia lebih mudah memahami penderitaan kaum miskin dan terdorong untuk berbagi.
Baca juga: Kumpulan Doa Menyambut Ramadhan: Arab, Latin, dan Artinya
Kesederhanaan dalam Ramadhan juga memiliki implikasi ekologis. Islam memandang manusia sebagai khalifah fil ardh, pengelola bumi yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan alam.
Dalam konteks ini, gaya hidup sederhana menjadi bentuk ibadah ekologis.
Mengurangi sampah makanan, menggunakan peralatan yang dapat dipakai ulang, serta menghemat energi selama Ramadhan adalah bagian dari implementasi nilai tersebut.
Dalam buku The Environmental Dimensions of Islam karya Mawil Izzi Dien, ditegaskan bahwa ajaran Islam sangat kaya dengan prinsip-prinsip lingkungan, mulai dari larangan merusak alam hingga perintah menjaga keseimbangan (mizan).
Ramadhan dapat menjadi momentum untuk mengintegrasikan kesadaran spiritual dengan kepedulian ekologis.
Ketika umat Islam berbuka dengan porsi secukupnya, memilih bahan makanan lokal, dan menghindari kemasan berlebihan, mereka tidak hanya menjalankan sunnah kesederhanaan, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian lingkungan.
Salah satu ciri Ramadhan adalah meningkatnya aktivitas sedekah dan berbagi. Namun berbagi pun perlu diletakkan dalam kerangka kesederhanaan dan keberlanjutan.
Memberi tidak selalu berarti menyajikan makanan berlimpah, tetapi memastikan bantuan tepat sasaran dan tidak berujung pemborosan.
Dalam Fiqh Kontemporer, Yusuf al-Qaradawi menekankan bahwa tujuan utama sedekah adalah pemberdayaan dan pemenuhan kebutuhan dasar mustahik.
Oleh karena itu, berbagi di bulan Ramadhan idealnya diarahkan pada pemenuhan gizi, pendidikan, dan kebutuhan pokok, bukan sekadar simbol kedermawanan yang bersifat sesaat.
Dengan pendekatan ini, Ramadhan tidak hanya menjadi bulan ritual, tetapi juga bulan transformasi sosial.
Baca juga: Puasa Ramadhan: Ini Keutamaan Sedekah yang Jarang Disadari
Ramadhan sederhana bukan konsep baru, melainkan upaya kembali ke akar ajaran Islam. Ia mengajak umat untuk menahan diri dari berlebihan, menguatkan empati, dan membangun kesadaran spiritual yang lebih mendalam.
Puasa yang sejati bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan keinginan untuk hidup boros dan konsumtif.
Ketika kesederhanaan dijadikan prinsip utama, Ramadhan akan terasa lebih bermakna, lebih tenang, dan lebih membumi.
Pada akhirnya, Ramadhan adalah undangan untuk berubah. Bukan hanya berubah dalam sebulan, tetapi membawa nilai-nilai kesederhanaan itu ke bulan-bulan berikutnya.
Di situlah letak keberhasilan puasa, ketika ia mampu membentuk manusia yang lebih sadar, lebih peduli, dan lebih bertanggung jawab terhadap Tuhan, sesama, dan alam semesta.
Dengan menjalani Ramadhan secara sederhana, umat Islam tidak hanya menghidupkan sunnah Nabi, tetapi juga merawat masa depan.
Sebab dari meja berbuka yang sederhana, dari pilihan hidup yang bersahaja, lahir peradaban yang lebih adil, berimbang, dan berkelanjutan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang