Penulis
KOMPAS.com - Ramadhan datang setiap tahun membawa janji perubahan. Ia bukan sekadar pergantian jam makan, melainkan latihan besar menundukkan nafsu dan menata kembali orientasi hidup. Namun ada ironi yang sulit diabaikan, saat puasa dijalankan di siang hari, pemborosan justru dirayakan di malam hari.
Meja berbuka semakin sesak dengan menu beragam. Belanja semakin tak terkendali, sementara puasa serasa kehilangan makna. Inilah fenomena yang kerap ditemui di rumah-rumah umat Islam.
Padahal Allah menegaskan tujuan puasa dengan sangat jelas:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Puasa tidak berhenti pada lapar. Ia bertujuan melahirkan takwa, kesadaran dan ketaatan penuh akan apa yang dilarang dan apa yang diperbolehkan. Puasa akan melahirkan pengendalian diri dan sikap sederhana dalam kehidupan.
Baca juga: Berapa Hari Lagi Puasa? Ini Hukum Puasa Sambil Niat Diet
Fenomena Ramadhan modern menghadirkan paradoks. Secara logika, puasa seharusnya mengurangi konsumsi karena konsumsi hanya dibatasi di malam hari. Namun yang terjadi sering kali sebaliknya.
Pasar takjil membludak, menu setiap hari lebih beragam dari biasanya. Bukan untuk menghormati bulan Ramadhan, tetapi untuk memuaskan lapar dan dahaga yang telah tertahan sepanjang hari.
Tanpa disadari, Ramadhan berubah menjadi musim konsumsi, bukan musim pengendalian diri. Puasa pun direduksi menjadi aktivitas fisik di siang hari, lalu “dibayar lunas” dengan pesta di malam hari.
Al-Qur’an memberikan peringatan tegas tentang bahaya berlebihan, bahkan dalam perkara halal:
كُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ
Artinya: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A‘raf: 31)
Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini mencakup seluruh bentuk israf—baik dalam jumlah, jenis, maupun cara konsumsi. Berlebihan, meski halal, tetap tercela jika melampaui kebutuhan dan melalaikan ketaatan.
Ibnu Katsir menambahkan bahwa israf adalah pintu menuju kelalaian hati. Ketika perut dipenuhi, ruh sering kali dikosongkan.
Ironisnya, pemborosan justru terjadi di bulan yang seharusnya menjadi sarana untuk bisa mengendalikan diri sepanjang waktu, tidak hanya di siang hari.
Rasulullah SAw bersabda:
مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ
Artinya: “Tidak ada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih buruk daripada perutnya.” (HR. At Tirmidzi).
Hadis ini bukan sekadar nasihat kesehatan, tetapi peringatan spiritual, perut yang berlebihan sering kali mematikan kepekaan jiwa.
Baca juga: Puasa Ramadhan: Menguak Makna Sederhana di Tengah Budaya Konsumtif
Di sinilah krisis makna puasa itu terasa. Puasa tetap dijalankan, tarawih tetap ramai, tetapi ruh Ramadhan melemah.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin membagi puasa menjadi tiga tingkatan:
Konsumsi berlebihan menandakan puasa masih terjebak di tingkat paling dasar, bahkan belum tentu lulus sepenuhnya. Puasa gagal menata hawa nafsu sehingga hanya akan melahirkan rasa lapar dan dahaga, bukan ketakwaan.
Ironi umat Islam di bulan Ramadhan ini bukan untuk disesali, tetapi direnungi. Allah SWT selalu memberi ruang untuk kembali.
Untuk itu, ada beberapa langkah sederhana namun bermakna yang bisa dilakukan agar Ramadhan kembali menjadi bulan pembentukan pribadi yang bisa mengendalikan diri dan menjadi manusia bertakwa:
Puasa bukan tentang seberapa banyak yang kita santap setelah maghrib, tetapi seberapa kuat kita menahan diri sepanjang hari.
Baca juga: Niat Qadha Puasa Ramadhan: Arab, Arti, dan Penjelasan Ulama
Ramadhan adalah cermin. Ia memperlihatkan seperti apa pribadi kita sesungguhnya. Jika puasa tidak mengubah cara makan, berbelanja, dan berbagi, maka krisis makna itu nyata. Yang berpuasa mungkin tubuh, tetapi jiwa masih terbelenggu oleh nafsu.
Puasa hanya menjadi ajar rutinitas tahunan yang tidak memberikan sentuhan apapun bagi hati. Ia hanya menjadi ritual tanpa makna yang tidak mampu mengubah jiwa menjadi manusia bertakwa.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang