KOMPAS.com - Memasuki penghujung bulan Syaban, pencarian terkait “berapa hari lagi puasa 2026” terus meningkat di mesin pencari.
Fenomena ini menunjukkan antusiasme umat Islam di Indonesia dalam menyambut Ramadhan sebagai bulan pendidikan spiritual, sosial, dan moral.
Bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, Ramadhan adalah momentum transformasi diri yang membutuhkan kesiapan sejak jauh hari.
Baca juga: Mengapa Muhammadiyah Menetapkan 1 Ramadan 1447 H pada 18 Februari 2026? Ini Penjelasannya
Berdasarkan perhitungan kalender dan maklumat resmi, kini hitung mundur menuju Ramadhan 1447 H telah dimulai.
Jika dihitung dari hari ini, Jumat, 30 Januari 2026, maka waktu persiapan semakin sempit. Inilah fase krusial untuk memantapkan niat, memperbaiki ibadah, serta menata ulang pola hidup agar Ramadhan tidak berlalu begitu saja tanpa makna.
Kementerian Agama RI melalui Kalender Hijriah Indonesia 2026 memprakirakan awal Ramadhan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Meski demikian, penetapan resmi tetap menunggu hasil sidang isbat yang biasanya digelar pada akhir bulan Syaban.
Sementara itu, Muhammadiyah telah menetapkan lebih awal melalui Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 serta rujukan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) bahwa 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.
Dengan demikian, jika dihitung dari 30 Januari 2026, maka:
Perbedaan satu hari ini bukan hal baru dalam tradisi penetapan kalender Islam di Indonesia. Namun esensinya tetap sama yaitu waktu persiapan semakin singkat dan Ramadhan sudah di depan mata.
Baca juga: Hitung Mundur Puasa 2026: Kurang Berapa Hari Lagi Ramadhan 1447 H?
Al-Qur’an menegaskan bahwa tujuan utama puasa bukan sekadar ritual formal, melainkan pembentukan karakter takwa. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:
Yā ayyuhallażīna āmanū kutiba ‘alaikumush-ṣiyāmu kamā kutiba ‘alallażīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Ayat ini menunjukkan bahwa puasa adalah instrumen pendidikan spiritual yang bersifat universal.
Menurut Quraish Shihab dalam buku Tafsir Al-Mishbah, puasa melatih pengendalian diri, empati sosial, dan kedisiplinan moral yang berkelanjutan, bukan hanya selama Ramadhan, tetapi juga setelahnya.
Baca juga: Puasa Ramadhan: Siapa Wajib Qadha, Siapa Cukup Fidyah?
Dalam buku Fiqh Islam wa Adillathu karya Wahbah Az-Zuhaily dijelaskan bahwa kesiapan mental dan pemahaman hukum puasa menjadi faktor penentu kualitas ibadah Ramadhan.
Banyak orang gagal meraih nilai spiritual Ramadhan bukan karena kurang ibadah, tetapi karena tidak memahami prioritas dan adab dalam menjalankannya.
Ramadhan yang datang tanpa persiapan sering kali hanya menghasilkan rutinitas fisik, sahur, menahan lapar, berbuka, lalu kembali ke pola hidup lama.
Sebaliknya, Ramadhan yang dipersiapkan dengan baik akan menjadi titik balik perubahan perilaku.
Baca juga: Niat Puasa Ramadhan: Doa Sahur Rasulullah yang Jarang Diketahui
Dalam kitab Fiqh Islam wa Adillatuhu, Wahbah Az-Zuhaily menegaskan bahwa orang yang memiliki utang puasa wajib menyegerakan qadha sebelum Ramadhan berikutnya tiba.
Menunda tanpa uzur syar’i dapat menimbulkan kewajiban fidyah menurut sebagian pendapat ulama.
Karena itu, sisa hari di bulan Syaban sebaiknya dimanfaatkan untuk menyelesaikan tanggungan puasa sekaligus melatih tubuh menghadapi ritme Ramadhan.
Dalam buku Tuntunan Puasa Ramadhan karya Rudsiana dijelaskan bahwa memahami rukun, syarat sah, sunnah, dan pembatal puasa merupakan bekal utama agar ibadah tidak sia-sia. Kesalahan kecil, seperti lalai menjaga lisan atau emosi, dapat menggerus nilai pahala puasa.
Umar bin Abdul Aziz pernah mengingatkan:
“Barangsiapa beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka kerusakan yang ditimbulkannya lebih banyak daripada kebaikannya.”
Pesan ini relevan di era digital, ketika informasi keagamaan mudah diakses, tetapi sering tidak diverifikasi.
Ramadhan menuntut kesiapan fisik. Mengatur jam tidur, mengurangi konsumsi berlebihan, serta melatih puasa sunnah di bulan Syaban menjadi strategi adaptasi tubuh.
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah SAW memperbanyak puasa sunnah di bulan Syaban sebagai bentuk latihan menjelang Ramadhan.
Dalam kitab Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi, dianjurkan untuk memperbanyak doa menjelang datangnya waktu-waktu utama ibadah. Salah satu doa yang sering dibaca adalah:
Allahumma laa sahla illaa maa ja‘altahu sahlaa, wa anta taj‘alul hazna idza syi’ta sahlaa.
Artinya: “Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau jadikan mudah. Engkau mampu menjadikan kesulitan menjadi mudah jika Engkau kehendaki.”
Doa ini mencerminkan kesadaran bahwa kekuatan menjalani Ramadhan bukan semata hasil usaha manusia, melainkan karunia Allah SWT.
Baca juga: Yang Membatalkan Puasa Ramadhan: Ini 7 Hal yang Harus Dihindari
Dengan sisa waktu kurang dari tiga pekan, umat Islam sejatinya berada di fase krusial persiapan.
Setiap hari yang berlalu tanpa perencanaan akan menjadi peluang yang hilang. Ramadhan tidak datang dua kali dalam setahun dan tidak semua orang diberi kesempatan bertemu kembali dengannya.
Karena itu, hitung mundur menuju Ramadhan 2026 bukan sekadar soal kalender, melainkan alarm spiritual untuk mulai berbenah.
Dari memperbaiki niat, menuntaskan utang puasa, memperdalam ilmu, hingga menata kebiasaan hidup, semuanya adalah investasi ibadah yang hasilnya akan terasa sepanjang bulan suci.
Ramadhan sudah di depan mata. Tinggal pertanyaannya, apakah kita siap menyambutnya sebagai tamu agung atau membiarkannya datang tanpa persiapan?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang