KOMPAS.com - Bulan Ramadhan selalu menghadirkan atmosfer yang berbeda. Tidak hanya menjadi momentum peningkatan ibadah, Ramadhan juga membentuk ruang sosial yang hangat, penuh keceriaan, dan sarat kebersamaan.
Di banyak daerah Indonesia, Ramadhan dahulu identik dengan suara bedug keliling kampung, obor yang menyala di malam hari, hingga anak-anak yang berlarian selepas tarawih.
Namun, perubahan zaman perlahan menggeser wajah Ramadhan. Sejumlah kegiatan khas yang dulu hidup di tengah masyarakat kini semakin jarang ditemui, terutama di wilayah perkotaan.
Fenomena ini bukan sekadar nostalgia, melainkan bagian dari transformasi sosial yang memengaruhi cara umat Islam merayakan bulan suci.
Dalam perspektif sosiologi agama, perubahan tradisi keagamaan kerap terjadi ketika masyarakat memasuki fase modernisasi dan digitalisasi.
Azyumardi Azra dalam bukunya Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan Milenium III, menjelaskan bahwa praktik keagamaan di Indonesia selalu beradaptasi dengan konteks sosial, teknologi, dan budaya yang berkembang. Hal inilah yang turut membentuk wajah Ramadhan hari ini.
Ramadhan sejatinya bukan hanya tentang ritual puasa, tetapi juga pembentukan solidaritas sosial. Al-Qur’an menegaskan tujuan puasa sebagai sarana membangun ketakwaan:
Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush shiyāmu kamā kutiba ‘alalladzīna min qablikum la’allakum tattaqūn.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).
Ketakwaan yang dimaksud tidak hanya bersifat individual, tetapi juga tercermin dalam hubungan sosial.
Tradisi-tradisi Ramadhan tempo dulu pada dasarnya menjadi medium untuk menumbuhkan rasa kebersamaan, empati, dan gotong royong.
Baca juga: Tradisi Unik Menjelang Ramadhan di Berbagai Daerah Indonesia
Di sejumlah daerah seperti Pontianak dan wilayah pesisir Kalimantan, pawai obor menjadi bagian penting menyambut Ramadhan dan malam takbiran.
Anak-anak hingga orang dewasa berkeliling kampung sambil membawa obor dan menabuh bedug atau kentongan.
Aktivitas ini bukan hanya hiburan, tetapi simbol pengumuman sosial bahwa bulan suci telah tiba.
Dalam buku Tradisi Islam Nusantara karya KH. Abdurrahman Wahid, dijelaskan bahwa bedug dan kentongan memiliki fungsi kultural sebagai media dakwah tradisional yang efektif, karena mampu menjangkau masyarakat lintas usia dan latar belakang.
Kini, peran tersebut banyak tergantikan oleh pengeras suara masjid dan media digital. Akibatnya, dimensi partisipatif masyarakat dalam tradisi ini semakin berkurang.
Di lingkungan sekolah, terutama pada era 1990-an hingga awal 2000-an, buku agenda Ramadhan menjadi instrumen pendidikan karakter.
Anak-anak mencatat aktivitas ibadah harian, mulai dari puasa, salat tarawih, hingga tadarus. Guru menggunakan buku ini sebagai sarana pembiasaan disiplin ibadah.
Menurut Kementerian Agama, praktik ini memiliki nilai pedagogis karena mengajarkan konsistensi dan tanggung jawab spiritual sejak dini.
Dalam perspektif pendidikan Islam, sebagaimana dijelaskan dalam buku Pendidikan Islam dalam Keluarga karya Abdullah Nashih Ulwan, pembiasaan ibadah pada masa kanak-kanak menjadi fondasi penting pembentukan akhlak di masa dewasa.
Namun, seiring perubahan kurikulum dan digitalisasi pembelajaran, buku agenda Ramadhan mulai ditinggalkan.
Tradisi mencari tanda tangan imam setelah salat tarawih dahulu menjadi momen unik bagi anak-anak.
Selain sebagai bukti kehadiran ibadah, aktivitas ini mempererat hubungan antara generasi muda dan tokoh agama. Masjid menjadi ruang interaksi sosial yang hidup, bukan sekadar tempat ritual.
Kini, suasana tersebut mulai jarang terlihat. Perubahan pola ibadah yang lebih individual serta penggunaan aplikasi pencatat ibadah digital membuat interaksi langsung semakin berkurang.
Padahal, dalam buku Traditional Islam in the modern world karya Syed Hossein Nasr, dijelaskan bahwa masjid idealnya menjadi pusat pembinaan umat yang menyatukan dimensi spiritual dan sosial.
Baca juga: Sejarah Ngabuburit di Indonesia: Dari Istilah Sunda Menjadi Tradisi Nusantara di Bulan Puasa
Perang sarung menjadi simbol keceriaan anak-anak saat ngabuburit. Permainan sederhana ini menciptakan ruang interaksi tanpa sekat sosial.
Namun, maraknya gawai dan hiburan digital membuat anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di dunia virtual.
Pergeseran aktivitas bermain dari ruang publik ke ruang digital berdampak pada berkurangnya interaksi sosial langsung.
Fenomena ini juga tercermin dalam tradisi Ramadhan yang perlahan kehilangan nuansa kebersamaan fisik.
Tradisi membangunkan sahur dengan kentongan atau drum bekas menjadi alarm sosial yang khas.
Aktivitas ini menumbuhkan rasa kepedulian antarwarga. Kini, peran tersebut diambil alih oleh pengeras suara masjid dan alarm ponsel.
Meski lebih praktis, dimensi kebersamaan yang tercipta dari interaksi langsung perlahan menghilang.
Selepas subuh, anak-anak biasanya berkeliling kampung menikmati udara pagi. Aktivitas sederhana ini memperkuat relasi sosial dan membentuk kenangan kolektif.
Sementara itu, meriam bambu menjadi ikon ngabuburit yang penuh suara dan tawa. Namun, alasan keamanan dan perubahan regulasi membuat permainan ini semakin langka.
Dalam buku Budaya Populer karya Idi Subandy Ibrahim, dijelaskan bahwa modernisasi kerap menggeser praktik budaya lokal yang dianggap tidak relevan dengan standar keamanan dan efisiensi modern.
Baca juga: Makna Tradisi Munggahan Jelang Ramadan 2026, Ini Waktu Idealnya
Ada tiga faktor utama yang mendorong hilangnya tradisi Ramadhan tempo dulu. Pertama, urbanisasi yang membuat masyarakat semakin individualistis. Kedua, digitalisasi yang mengubah pola interaksi sosial. Ketiga, perubahan gaya hidup yang lebih praktis dan efisien.
Namun, hilangnya tradisi bukan berarti hilangnya nilai. Tantangannya adalah bagaimana mengadaptasi semangat kebersamaan Ramadhan ke dalam konteks zaman sekarang.
Ramadhan tetap memiliki potensi besar sebagai ruang pemersatu umat. Meski bentuk tradisinya berubah, nilai kebersamaan, kepedulian, dan solidaritas sosial dapat dihidupkan melalui kegiatan baru seperti kajian daring bersama, sedekah digital kolektif, hingga program berbagi berbasis komunitas.
Allah SWT berfirman:
Innamal mu’minūna ikhwatun.
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10).
Ayat ini menjadi pengingat bahwa esensi Ramadhan bukan terletak pada bentuk tradisinya semata, melainkan pada semangat persaudaraan yang harus terus dirawat.
Di tengah perubahan zaman, Ramadhan tetap dapat menjadi bulan yang penuh makna, asalkan umat mampu menjaga ruh kebersamaan yang menjadi jantung dari setiap tradisi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang