KOMPAS.com - Malam Nisfu Sya’ban selalu hadir sebagai momentum spiritual yang dinanti umat Islam.
Di tengah kesibukan dunia dan rutinitas harian, malam pertengahan bulan Sya’ban menjadi ruang jeda bagi jiwa untuk kembali menata hubungan dengan Allah.
Salah satu amalan yang paling ditekankan para ulama pada malam ini adalah memperbanyak istighfar, yaitu memohon ampun atas dosa dan kelalaian yang dilakukan manusia sepanjang hidupnya.
Dalam tradisi Islam, istighfar tidak sekadar ucapan lisan, tetapi ekspresi kesadaran batin bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan penuh kekurangan.
Karena itu, Nisfu Sya’ban kerap dipahami sebagai malam pembersihan jiwa sebelum memasuki bulan Ramadhan.
Secara etimologis, kata “nisfu” berarti pertengahan. Nisfu Sya’ban merujuk pada malam tanggal 15 bulan Sya’ban dalam kalender Hijriah.
Dalam kitab Lathâ’if al-Ma‘ârif, Imam Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa sebagian tabi‘in di wilayah Syam memuliakan malam ini dengan memperbanyak ibadah, doa, dan istighfar. Tradisi ini kemudian berkembang luas di berbagai wilayah Muslim, termasuk Nusantara.
Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki dalam kitab Madza fi Sya’ban menegaskan bahwa salah satu waktu yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak istighfar adalah pada bulan Sya’ban, khususnya malam pertengahannya.
Ia menyebut istighfar sebagai amalan besar yang memiliki dampak spiritual dan sosial bagi kehidupan seorang Muslim.
Dalam pandangannya, dosa yang menumpuk menjadi penyebab kesempitan hidup, kegelisahan batin, dan tertutupnya keberkahan. Karena itu, obatnya adalah taubat yang tulus dan istighfar yang terus-menerus.
Baca juga: Malam Nisfu Sya’ban 2026, Ini Doa lengkap dan Amalan yang Dianjurkan
Anjuran memperbanyak istighfar tidak hanya bersumber dari hadis, tetapi juga ditegaskan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surah Nuh ayat 10–12:
Faqultu istaghfirû rabbakum innahû kâna ghaffârâ. Yursilissamâ’a ‘alaikum midrârâ. Wa yumdidkum bi amwâlin wa banîna wa yaj‘al lakum jannâtin wa yaj‘al lakum anhârâ.
Artinya: “Maka aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan untukmu kebun-kebun dan sungai-sungai.”
Ayat ini menunjukkan bahwa istighfar tidak hanya berdimensi ukhrawi, tetapi juga berdampak pada kehidupan dunia.
Pengampunan dosa, kelapangan rezeki, dan keberkahan hidup menjadi buah dari kesungguhan seorang hamba dalam memohon ampun.
Rasulullah SAW memberikan penegasan kuat tentang keutamaan istighfar. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Al-Hakim, Nabi bersabda:
“Barangsiapa yang membiasakan diri membaca istighfar, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar dari setiap kesempitan, kelapangan dari setiap kesedihan, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
Hadis ini sering dikutip para ulama sebagai landasan bahwa istighfar bukan hanya ibadah individual, tetapi juga solusi spiritual atas problem kehidupan modern, kegelisahan, tekanan ekonomi, dan ketidakpastian masa depan.
Dalam riwayat lain yang dikutip Imam Al-Baihaqi, Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang ingin catatan amalnya menggembirakan pada hari kiamat hendaknya memperbanyak istighfar.
Pesan ini menegaskan bahwa istighfar memiliki nilai strategis dalam pembentukan identitas spiritual seorang Muslim.
Baca juga: Puasa Nisfu Syaban 2026: Waktu Pelaksanaan, Niat, Tata Cara, dan Keutamaannya
Imam Al-Ghazali dalam Ihyâ’ ‘Ulumuddin menjelaskan bahwa istighfar sejati bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi harus disertai kesadaran hati, penyesalan atas dosa, dan tekad untuk tidak mengulanginya.
Menurut Al-Ghazali, istighfar yang dilakukan dengan penuh kesadaran akan melahirkan ketenangan jiwa dan kejernihan batin.
Sementara itu, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitab Madarijus Salikin menyebut istighfar sebagai “pintu besar rezeki dan kebahagiaan”.
Ia menegaskan bahwa banyak kesempitan hidup bersumber dari dosa yang tidak disadari dan istighfar menjadi sarana penyucian yang paling efektif.
Pandangan para ulama ini memperkuat posisi istighfar sebagai ibadah inti yang seharusnya mendapat perhatian khusus, terutama pada malam Nisfu Sya’ban.
Di tengah masyarakat Muslim, terdapat beberapa bentuk bacaan istighfar yang umum diamalkan pada malam Nisfu Sya’ban. Yang paling sederhana adalah:
Astaghfirullâh
Artinya: Aku memohon ampun kepada Allah.
Ada pula bacaan yang lebih lengkap:
Astaghfirullâhal ‘azhîm
Artinya: Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung.
Bacaan lain yang dianjurkan berdasarkan hadis Nabi adalah:
Astaghfirullâhalladzî lâ ilâha illâ huwa al-hayyal qayyûma wa atûbu ilaih
Artinya: Aku memohon ampun kepada Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup dan Maha Mengurus segala urusan, dan aku bertaubat kepada-Nya.
Allahumma anta robbii laa ilaaha illaa anta, kholaqtanii wa anaa ‘abduka wa anaa ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu, abuu-u laka bini’matika ‘alayya, wa abuu-u bi dzanbii, faghfirlii fainnahuu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta
Artinya: Ya Allah, Engkau Tuhanku. Tidak ada Tuhan selain Engkau, yang menciptakanku. Aku adalah hambamu. Aku memegang baiat dan janjimu semampuku. Aku memohon perlinduangan kepada-Mu dari keburukan apa yang aku perbuat. Aku mengakui anugerah kenikmatan-Mu padaku dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah untukku. Karena sungguh tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.
Sementara itu, Rasulullah SAW menyebut Sayyidul Istighfar sebagai istighfar paling utama. Doa ini memuat pengakuan ketuhanan Allah, pengakuan dosa, serta permohonan ampunan secara menyeluruh.
Membacanya pada malam Nisfu Sya’ban dipandang sebagai bentuk taubat total seorang hamba kepada Tuhannya.
Baca juga: Sayyidul Istighfar: Doa Penghapus Dosa dan Jaminan Surga
Secara spiritual, malam Nisfu Sya’ban sering disebut sebagai fase pemanasan ruhani sebelum Ramadhan.
Dalam hadis yang diriwayatkan An-Nasa’i, Rasulullah SAW menyebut bulan Sya’ban sebagai bulan yang sering dilalaikan manusia, padahal di dalamnya amal-amal diangkat kepada Allah.
Karena itu, memperbanyak istighfar di malam Nisfu Sya’ban bukan hanya tentang mencari ampunan, tetapi juga tentang menyiapkan hati agar Ramadhan dijalani dengan kesadaran spiritual yang lebih dalam.
Istighfar menjadi cara membersihkan “debu batin” yang menumpuk agar ibadah puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi sarana transformasi diri.
Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, malam Nisfu Sya’ban menawarkan ruang keheningan yang langka.
Ketika lisan melafalkan istighfar, hati diajak menunduk, mengakui keterbatasan, dan berharap pada rahmat Allah yang luas.
Para ulama sepakat bahwa perubahan besar dalam hidup sering kali dimulai dari kesadaran kecil, satu doa, satu istighfar, dan satu air mata taubat. Dari sinilah lahir ketenangan, kelapangan rezeki, dan keberkahan hidup.
Malam Nisfu Sya’ban, dengan segala kemuliaannya, menjadi undangan terbuka bagi siapa pun yang ingin memulai kembali.
Sebab, sebagaimana ditegaskan dalam banyak riwayat, pintu ampunan Allah tidak pernah tertutup bagi hamba yang sungguh-sungguh kembali kepada-Nya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang