CIREBON, KOMPAS.com - Santri Kalong, istilah yang akrab ditelinga Pondok Buntet Pesantren. Istilah ini unik karena menggabungkan dua kata yang jauh berbeda.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata "kalong" berarti kelelawar berukuran besar, pemakan buah-buahan dan tidur di siang hari dengan menggantungkan diri pada dahan pohon.
Sedangkan Santri memiliki makna orang yang mendalami agama Islam. Santri juga bisa dimaknai sebagai seorang murid yang belajar ilmu agama.
Sedangkan Santri Kalong, bukan berarti seorang santri yang mirip kelelawar, atau kekelawar yang menjadi santri. Tetapi istilah untuk seorang santri yang tidak menetap di asrama.
Baca juga: Rahasia Pesantren Buntet Bertahan 275 Tahun: Manuskrip, Sorogan, dan Bandongan
Hal tersebut diungkapkan oleh KH Muhammad Imaduddin Ishom, pengasuh Pondoj Pesantren Buntet, Artapada Kulon, Astanajapura, Cirebon, Jawa Barat, saat berjumpa Kompas.com, 5 Desember 2025.
"Santri Kalong itu kan santri yang datang ke sini pagi, malam pulang. Jadi enggak stay. Enggak stay mereka itu. Ya mereka yang ada di sekitar Buntet. Dari desa-desa sekitar Buntet. Mereka datang ke sini pagi-pagi, ikut formal, kemudian juga ikut informal di pondok-pondok, ikut ngajinya, tapi tidak tidur di sini, tidak tidur di pondok. Tapi pulang karena dekat," imbuhnya saat ditemui Tim Jelajah Pesantren Kompas.com, Jumat sore, 15 Desember 2025 lalu.
Dinamakan santri kalong karena santri yang pulang dan tidak menetap di pondok pesantren memiliki kebiasaan yang hampir sama.
Karena pada masa lampau, pengajian atau pembelajaran di pesantren lebih banyak dilakukan pada malam hari, kemudian para santri banyak yang beraktivitas di malam hari.
Kalau siang tidur kalau malam beraktivitas. Tapi seiring berjalannya waktu, aktivitas sudah bergeser, pagi berfokus pada pembelajaran di pesantren, sedangkan malam hari tetap digunakan untuk beristirahat.
Namun istilah santri kalong tetap melekat untuk mereka yang tidak tidur di asrama pondokk pesantren.
"Jadi mereka sekolah tidur siang itu. Kemudian malamnya datang ke pondok, ngajinya malam. Nanti pulang-pulang itu Subuh. Nah itu makanya dikatain Kalong itu ya kayak kayak Kalong hidupnya gitu loh, santri-santri itu. Awal istilahnya disebut Santri Kalong itu," ucapnya.
Salah satu santri kalong yang ditemui Kompas.com adalah Abdullah, ia sudah menjadi santri kalong sejak 2016 silam, saat dirinya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Kesitimewaan santri kalong adalah bisa belajar dengan fleksibel, memberikan keleluasaan pembagian waktu antara sekolah formal dan sekolah keagamaan.
"Selama menjadi santri kalong, saya belajar tentang fikih, nahwu, tasawuf dan yang lainnnya," kata Abdullah.
Dia mengatakan, menjadi santri kalong memberikan bekal lebih dalam ajaran agama, karena di sekolah formal tidak diajarkan secara mendalam.
"Alhamdulillahnya saya jadi Santri Kalong di sini dapet reward-lah, reward-nya itu bisa memperdalam ilmu agama lebih dalam, gitu," tuturnya.
Selama menjadi santri kalong, Abdullah mencicipi metode pengajaran agama dengan sorogan dan bandongan.
Dilansir dari jurnal yang ditulis Dia Fathul Jannah dari Universitas Sains Alquran Jawa Tengah, sorogan memiliki makna pembelajaran yang mendalam antara individu santri dengan seorang Kiai.
Metode ini memiliki akar bahasa dari bahasa Jawa yakni sorong, yang berarti maju atau menyodorkan.
Seorang santri akan menghadap Kiai satu persatu dengan membawa kitab yang telah dipelajari. Santri tersebut akan membaca di hadapan Kiai dan menjadi metode paling efektif untuk santri yang bercita-cita menjadi seorang alim ulama.
Metode ini disebut memiliki efektivitas yang tinggi dan bisa diselesaikan dengan cepat untuk santri dengan keunggulan kognitif yang baik.
Kelemahan metode ini adalah harus ada durasi yang panjang untuk menyelesaikan pelajaran tertentu, karena jumlah santri yang tidak sedikit.
Sedangkan metode bandongan, masih dari jurnal yang sama, diartikan sebagai sekelompok murid bisa belasan, puluhan, hingga ratusan yang mendengarkan seorang Kiai mengajar.
Kiai akan mendikte kitab dan memberikan penjelasan, sedangkan para santri memberikan catatan untuk kata atau kalimat yang tidak mereka mengerti di dalam kitab yang mereka pegang masing-masing.
Kelebihan metode ini yaitu memberikan layanan luas kepada para santri, namun dinilai kurang intens dan interaktif karena disampaikan lewat satu arah saja.
Dengan cara ini, eksistensi keilmuan Pesantren Buntet yang berusia lebih tua dari republik ini masih tetap terjaga dan terus menelurkan insan cendekia yang peduli terhadap negeri.
Dapat mencicipi dua metode ini menjadi salah satu kebanggaan Abdullah menjadi santri kalong.
Baca juga: Hari Santri di Buntet, Ketum Ansor: Kita Adalah Satu, Warisi Semangat Kiai Abbas
Abdullah berharap tradisi yang dia dapat selama menjadi santri kalong bisa tetap terjaga di Pesantren Buntet.
"Harapan selanjutnya itu sebenarnya sebagai pegangan. Pegangan saya, di manapun saya berada, apapun yang saya sudah lakukan di pondok, tetap saya pegang, tetap saya jaga. Tetap saya berikan buah hasil ilmu saya, hasil dari mondok saya ke masyarakat," imbuhnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang