Editor
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan itulah bekal terbaik dalam menjalani kehidupan, dan ketakwaan pula yang menjadi tujuan utama hadirnya bulan suci Ramadhan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 183)
Baca juga: Khutbah Jumat 6 Februari 2026: Menyambut Ramadhan dengan Memaknai Keutamaan Bulan Sya’ban
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Kita kini berada di awal bulan Sya’ban. Artinya, Ramadhan sudah di depan mata. Bulan yang selalu kita rindukan, bulan yang penuh ampunan, bulan diturunkannya Al-Qur’an, bulan dilipatgandakannya pahala, dan bulan dibukanya pintu-pintu surga.
Namun pertanyaannya, sudahkah hati kita siap menyambut Ramadhan?
Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ramadhan adalah madrasah besar pembentuk jiwa. Tempat kita dilatih menahan diri, mengendalikan hawa nafsu, memperbaiki akhlak, dan memperbanyak ibadah.
Para ulama mengatakan, siapa yang tidak mempersiapkan diri sebelum Ramadhan, maka ia akan kesulitan memaksimalkan Ramadhan.
Ma’asyiral muslimin,
Persiapan menyambut Ramadhan bukan dimulai saat hilal terlihat. Persiapan itu dimulai sejak sekarang.
Pertama, persiapan iman. Perbanyak istighfar, taubat, dan memperbaiki hubungan dengan Allah. Hati yang kotor akan sulit merasakan manisnya ibadah di bulan Ramadhan.
Kedua, persiapan ilmu. Pelajari kembali fiqih puasa, pahami adab-adabnya, sunnah-sunnahnya, dan hal-hal yang mengurangi pahala puasa. Banyak orang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga.
Ketiga, persiapan amal. Mulailah membiasakan diri dengan tilawah Al-Qur’an, shalat malam, sedekah, dan menahan lisan dari perkataan sia-sia.
Keempat, persiapan hati. Saling memaafkan, menyelesaikan konflik, memperbaiki hubungan dengan keluarga dan sesama.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Nabi Muhammad SAW ketika memasuki bulan Sya’ban, beliau sudah memperbanyak puasa sunnah. Ini menunjukkan bahwa beliau menyiapkan diri secara spiritual sebelum Ramadhan tiba.
Ramadhan ibarat tamu agung. Tidak pantas kita menyambutnya dengan hati yang lalai, dengan kebiasaan maksiat yang belum ditinggalkan, dengan shalat yang masih bolong-bolong, dengan Al-Qur’an yang jarang disentuh.
Jika kita ingin Ramadhan kita berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, maka persiapannya juga harus berbeda.
Bayangkan, berapa Ramadhan yang sudah kita lewati? Berapa yang benar-benar mengubah hidup kita?
Jangan sampai Ramadhan datang dan pergi, sementara kita tetap sama.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ramadhan adalah kesempatan emas yang belum tentu kita temui lagi. Banyak saudara kita yang tahun lalu masih bersama kita di Ramadhan, kini telah tiada.
Karena itu, mari kita niatkan dari sekarang:
Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang merugi adalah orang yang bertemu Ramadhan tetapi tidak mendapatkan ampunan Allah.
Betapa ruginya jika Ramadhan berlalu tanpa perubahan dalam diri kita.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Mari jadikan Ramadhan tahun ini sebagai titik balik kehidupan kita. Ramadhan sebagai momentum hijrah dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik. Dari lalai menjadi taat. Dari jarang beribadah menjadi rajin beribadah.
Ajak keluarga kita, anak-anak kita, untuk ikut bersiap menyambut Ramadhan. Jadikan rumah kita lebih hidup dengan Al-Qur’an, dengan dzikir, dengan suasana ibadah.
Baca juga: 5 Rukun Khutbah Jumat yang Wajib Dipenuhi Khatib
Tutup khutbah ini dengan doa agar Allah menyampaikan kita pada Ramadhan dan memberi kekuatan untuk mengisinya dengan amal terbaik.
اللَّهُمَّ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ، وَأَعِنَّا فِيْهِ عَلَى الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ
“Ya Allah, sampaikanlah kami pada Ramadhan, dan bantulah kami di dalamnya untuk berpuasa, shalat malam, dan membaca Al-Qur’an.”
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang benar-benar siap menyambut Ramadhan.
Amin ya Rabbal ‘alamin.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang