KOMPAS.com – Menjelang waktu berbuka puasa, suasana di sebuah kampung di Ciater, Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, terasa lebih hangat dari biasanya.
Ratusan warga berkumpul dengan wajah penuh harap, menanti adzan magrib yang akan menandai berakhirnya puasa hari itu.
Di tempat sederhana tersebut, kegiatan buka puasa bersama digelar oleh Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bersama sejumlah mitra, termasuk pegiat literasi nasional Maman Suherman yang akrab disapa Kang Maman.
Acara ini melibatkan sekitar 150 warga mualaf eks-Baduy yang selama beberapa tahun terakhir mendapat pendampingan keagamaan dan sosial.
Momentum berbuka puasa bersama ini bukan sekadar agenda rutin Ramadan, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi yang mempertemukan relawan, tokoh masyarakat, dan komunitas mualaf dalam suasana kebersamaan.
Kegiatan buka puasa bersama berlangsung pada Sabtu (7/3/2026) di wilayah Ciater, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.
Ratusan warga, termasuk anak-anak dan para relawan, tampak berkumpul sejak sore hari. Mereka menunggu waktu berbuka sambil berbincang dan menikmati kebersamaan yang jarang terjadi di hari-hari biasa.
Komunitas mualaf eks-Baduy di wilayah ini telah mendapatkan pembinaan selama kurang lebih enam tahun melalui program dakwah yang dijalankan oleh BMH.
Pendampingan tersebut dilakukan oleh dai lapangan, salah satunya Ustadz Suprianto, yang secara rutin mendampingi masyarakat dalam belajar agama dan penguatan sosial.
Bagi sebagian warga, momen berbuka puasa bersama seperti ini menjadi pengalaman yang membahagiakan karena mereka dapat merasakan kebersamaan dengan masyarakat dari berbagai latar belakang.
Baca juga: Itikaf di 10 Hari Terakhir Ramadhan: Pengertian, Hukum Keluar Masjid, dan Amalan yang Dianjurkan
Salah satu warga mualaf eks-Baduy, Mang Edo, mengungkapkan rasa syukurnya atas kegiatan tersebut.
Ia mengaku bahagia karena perhatian yang diberikan tidak hanya berupa makanan berbuka, tetapi juga hadiah kecil yang membawa kegembiraan bagi anak-anak.
“Alhamdulillah, kami senang sekali. Selain buka puasa bersama, anak-anak juga dapat hadiah mainan mobil dari Kang Maman,” ujarnya dengan senyum.
Keceriaan anak-anak yang menerima hadiah sederhana itu menjadi pemandangan yang mencairkan suasana. Di tengah keterbatasan, kebahagiaan kecil seperti itu terasa begitu berarti.
Bagi Kang Maman, kegiatan tersebut memberikan pengalaman yang lebih dari sekadar berbagi makanan berbuka puasa.
Menurutnya, masyarakat mualaf eks-Baduy justru menunjukkan nilai kehidupan yang sering terlupakan dalam kehidupan modern.
“Masyarakat di sini dengan kesederhanaannya mengajarkan kita tentang makna saling menguatkan, saling membantu, dan saling peduli,” ujar Kang Maman.
Ia menilai nilai-nilai kebersamaan seperti itu mulai jarang terlihat di masyarakat perkotaan yang cenderung sibuk dengan kehidupan masing-masing.
Karena itu, pertemuan dengan komunitas seperti ini menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah masyarakat sering kali lahir dari solidaritas dan kepedulian antarwarganya.
Baca juga: 5 Rekomendasi Masjid untuk Iktikaf di Jakarta pada 10 Malam Terakhir Ramadhan
Selain buka puasa bersama, kegiatan ini juga diisi dengan dialog mengenai kesejahteraan masyarakat.
Tim dari komunitas Impact Plus Mahasiswa Universitas Indonesia turut hadir untuk melakukan observasi serta berdiskusi mengenai potensi penguatan program pemberdayaan bagi komunitas mualaf eks-Baduy.
Public Relations BMH, Imam Nawawi, menjelaskan bahwa kegiatan ini menunjukkan bagaimana budaya kebaikan masih hidup di tengah masyarakat Indonesia.
Menurutnya, kebaikan sering kali menjadi penghubung bagi orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal untuk bekerja sama dalam kegiatan sosial.
“Ini adalah bukti bahwa nilai-nilai kebaikan masih kuat di negeri ini. Kebaikan membuat orang yang tidak saling mengenal bisa bergerak bersama dalam kebersamaan yang membahagiakan,” katanya.
Baca juga: Doa Lailatul Qadar yang Dianjurkan Rasulullah, Dibaca Saat 10 Malam Terakhir Ramadhan
Bulan Ramadan memang kerap menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas sosial. Tradisi berbagi makanan berbuka, memberikan santunan, hingga kegiatan sosial lainnya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama bulan suci ini.
Kegiatan yang dilakukan BMH bersama para relawan menunjukkan bahwa kepedulian tidak selalu harus diwujudkan dalam program besar.
Kebersamaan sederhana pun dapat membawa dampak yang berarti bagi masyarakat yang membutuhkan dukungan.
Melalui kolaborasi berbagai pihak, kegiatan seperti ini diharapkan tidak hanya menghadirkan kebahagiaan sesaat, tetapi juga membuka peluang bagi program pemberdayaan yang lebih berkelanjutan.
Dengan pendampingan yang terus berjalan, masyarakat mualaf eks-Baduy diharapkan dapat semakin mandiri, baik secara spiritual maupun sosial, sekaligus tetap menjaga nilai kebersamaan yang selama ini menjadi kekuatan mereka.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang