KOMPAS.com – Menjelang Idul Adha, satu pertanyaan klasik kembali muncul di tengah masyarakat, mana yang lebih utama, berkurban dengan tujuh ekor kambing atau satu ekor sapi untuk tujuh orang?
Pertanyaan ini bukan sekadar soal pilihan hewan, melainkan menyentuh aspek fikih, nilai ibadah, hingga pertimbangan sosial dalam Islam.
Di balik praktik yang tampak sederhana, terdapat perbedaan pandangan ulama yang menarik untuk dipahami secara lebih mendalam.
Dalam ajaran Islam, kurban merupakan ibadah yang memiliki landasan kuat dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 36–37 bahwa hewan kurban termasuk syiar yang mengandung kebaikan bagi manusia.
Dalam praktiknya, syariat membolehkan satu ekor kambing atau domba untuk satu orang, sementara satu ekor sapi dapat diperuntukkan bagi tujuh orang.
Ketentuan ini didasarkan pada hadis riwayat Nabi Muhammad yang menyebutkan kebolehan berserikat dalam kurban sapi atau unta.
Dalam kitab Fiqh As-Sunnah, Sayyid Sabiq menjelaskan bahwa pembagian ini menunjukkan fleksibilitas syariat dalam memberi kemudahan kepada umat, tanpa mengurangi nilai ibadah itu sendiri.
Baca juga: Badan Karantina Kawal Distribusi Hewan Kurban via Tol Laut Jelang Idul Adha 2026
Jika dibandingkan antara satu orang yang berkurban satu kambing dengan satu orang yang ikut patungan sapi (sepertujuh bagian), mayoritas ulama berpendapat bahwa kambing lebih utama.
Alasannya bukan semata pada nilai materi, tetapi pada aspek ibadah personal. Dengan satu kambing, seseorang melakukan penyembelihan secara utuh atas namanya sendiri, sehingga nilai simbolik “tumpah darah” (ihraq ad-dam) menjadi lebih sempurna.
Dalam Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab, Imam Nawawi menegaskan bahwa kurban individu memiliki keutamaan tersendiri karena mencerminkan pengorbanan yang lebih personal.
Perbandingan menjadi lebih menarik ketika jumlah orangnya sama, yaitu tujuh orang. Dalam hal ini, pilihan antara tujuh kambing atau satu sapi memunculkan diskusi lebih luas.
Sebagian ulama, khususnya dari mazhab Syafi’i, cenderung menilai bahwa tujuh kambing lebih utama dibanding satu sapi. Ada beberapa alasan yang sering dikemukakan:
Pertama, jumlah hewan yang dikurbankan lebih banyak. Artinya, terdapat lebih banyak “pengorbanan” yang dilakukan. Dalam perspektif ibadah, setiap penyembelihan memiliki nilai tersendiri.
Kedua, distribusi daging menjadi lebih fleksibel. Tujuh kambing dapat disalurkan ke lebih banyak titik atau kelompok masyarakat, sehingga jangkauan manfaatnya bisa lebih luas.
Ketiga, dalam banyak tradisi, daging kambing atau domba memiliki nilai tersendiri, baik dari sisi cita rasa maupun kebiasaan konsumsi masyarakat.
Dalam buku Panduan Lengkap Ibadah Kurban karya Abdul Somad, disebutkan bahwa memperbanyak jumlah hewan kurban dapat menjadi bentuk optimalisasi ibadah, selama tetap mempertimbangkan kemampuan.
Baca juga: Persiapan Kurban 2026: Intip Estimasi Harga Kambing dan Tips Memilih Hewan Terbaik
Meski demikian, tidak berarti sapi selalu berada di bawah kambing dalam hal keutamaan. Dalam kondisi tertentu, sapi justru bisa menjadi pilihan yang lebih baik.
Jika seekor sapi memiliki ukuran besar dan menghasilkan daging dalam jumlah jauh lebih banyak dibanding total tujuh kambing, maka manfaatnya bagi masyarakat bisa lebih besar.
Dalam perspektif maqashid syariah (tujuan hukum Islam), kemaslahatan umat menjadi pertimbangan penting.
Memberi makan lebih banyak orang, terutama fakir miskin, dapat meningkatkan nilai sosial dari ibadah kurban.
Dalam buku Manajemen Qurban karya Ahmad Sarwat, dijelaskan bahwa distribusi dan dampak sosial kurban menjadi bagian penting yang tidak bisa dipisahkan dari nilai ibadah itu sendiri.
Perdebatan antara kambing dan sapi sejatinya mencerminkan dua dimensi dalam ibadah kurban.
Di satu sisi, ada dimensi personal, yaitu ketakwaan, keikhlasan, dan pengorbanan individu kepada Allah. Di sisi lain, ada dimensi sosial, yaitu manfaat yang dirasakan oleh masyarakat luas.
Keduanya tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. Pilihan terbaik sering kali bergantung pada konteks, yaitu kemampuan finansial, kebutuhan masyarakat sekitar, serta tujuan yang ingin dicapai dari ibadah tersebut.
Baca juga: Belum Aqiqah Tapi Mau Kurban, Apakah Sah? Ini Penjelasan Ulama
Pada akhirnya, Al-Qur’an menegaskan bahwa yang sampai kepada Allah bukanlah daging atau darah hewan kurban, melainkan ketakwaan.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa ibadah kurban tidak boleh direduksi menjadi sekadar perhitungan jumlah atau jenis hewan.
Lebih dari itu, kurban adalah simbol ketaatan, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS dalam peristiwa pengorbanan yang menjadi dasar disyariatkannya ibadah ini.
Jika memiliki kemampuan lebih, menyembelih tujuh kambing dapat menjadi pilihan yang sangat dianjurkan karena memperbanyak jumlah hewan yang dikurbankan.
Namun, jika kondisi mengarah pada kebutuhan distribusi yang lebih besar dan efisien, satu sapi juga merupakan pilihan yang sangat baik dan tetap bernilai tinggi di sisi syariat.
Yang terpenting, pilihlah hewan terbaik, sehat, dan sesuai kemampuan. Karena pada akhirnya, kualitas ibadah tidak diukur dari besar kecilnya hewan, tetapi dari keikhlasan hati yang menyertainya.
Dan di situlah, kurban menemukan makna terdalamnya bukan pada apa yang disembelih, tetapi pada apa yang dikorbankan dalam diri manusia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang