Editor
KOMPAS.com - Di tengah padatnya mobilitas jemaah haji Indonesia di Tanah Suci, peran petugas di lapangan menjadi kunci kelancaran layanan.
Dari beberapa pos penugasan, salah satu titik krusial bagi petugas haji adalah terminal yang menjadi simpul pergerakan jemaah yang menggunakan bus shalawat.
Dalam menjalankan tugasnya, kondisi ekstrem seperti suhu panas tinggi menjadi tantangan tersendiri bagi petugas yang bertugas di terminal.
Namun, dedikasi tetap ditunjukkan demi memastikan pelayanan kepada jemaah haji yang akan menggunakan bus shalawat berjalan optimal.
Baca juga: PPIH Medan Minta Petugas Haji Utamakan Pelayanan Jamaah di Tanah Suci
Salah satunya adalah kisah Kepala Pos (Kapos) Terminal Syib Amir, Dr Iswan Brandes, yang memilih tetap bertugas di terminal meskipun menghadapi panas ekstrem.
Ia mengaku lebih nyaman ditempatkan di terminal dibandingkan sektor lain dalam setiap penugasan haji.
Baca juga: Haji Gratisan? Membongkar Stigma Petugas Haji
Meski sempat ditawari posisi berbeda pada musim haji tahun ini, ia tetap memilih kembali ke terminal.
Baginya, tempat tersebut memberikan pengalaman spiritual sekaligus pembelajaran hidup.
“Dari lima kali penugasan, saya lebih nyaman di terminal. Di sini saya belajar sabar. Terminal itu seperti replika Padang Arafah, bahkan seperti padang pasir. Panasnya terasa dari atas dan bawah,” ujarnya Doktor Brandes dalam wawancara, Minggu (3/5/2026).
Menurutnya, terminal bukan sekadar titik transit jemaah, tetapi juga ruang pengabdian yang menguji kesabaran dan ketulusan.
Ia menggambarkan kondisi panas ekstrem yang dirasakan setiap hari justru menjadi bagian dari pengalaman berharga.
Dalam situasi tersebut, ia mengaku menemukan makna tersendiri dalam melayani jemaah haji.
Pengalaman bertugas di terminal juga didukung capaian kinerja yang baik. Pada musim haji 2024, layanan bus shalawat di terminal yang ditanganinya mencatat tingkat kepuasan hingga 93 persen.
Capaian tersebut menjadi yang tertinggi di antara sembilan sektor pelayanan haji saat itu.
“Alhamdulillah, pelayanan terminal saat itu peringkat pertama. Itu yang membuat saya yakin untuk kembali bertugas,” katanya.
Dari banyaknya petugas yang terlibat dalam penyelenggaraan haji, hanya sebagian kecil yang kembali dipercaya bertugas pada tahun berikutnya.
Dr Iswan Brandes menjadi salah satu yang kembali ditugaskan, khususnya di bidang terminal.
Ia menilai posisi tersebut memang tidak mudah, namun memberikan pengalaman yang bermakna.
Selain di Terminal Syib Amir, ia juga mengungkapkan keinginannya untuk bertugas di terminal lain, termasuk di kawasan Jabal Ka’bah.
Menurutnya, setiap terminal memiliki tantangan dan karakteristik tersendiri dalam pelayanan jemaah.
Di balik dedikasinya, ia menyimpan niat pribadi untuk melayani jemaah dari wilayah tertentu.
Ia mengaku sejak awal berdoa agar diberi kesempatan melayani jemaah asal Sulawesi.
“Saya selalu berdoa, bukan kepada siapa pun, tapi langsung kepada Allah, agar diberi kesempatan melayani jamaah dari Sulawesi. Alhamdulillah, doa itu terkabul,” tuturnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran sumber daya manusia dalam pelayanan haji.
Menurutnya, banyak petugas yang memiliki pengalaman dan latar belakang pendidikan tinggi.
Ia mengaku banyak belajar dari senior, termasuk sosok berusia 70 tahun yang masih aktif bertugas dan menjadi panutan.
“Hebatnya Indonesia, kepala terminal saja ada yang bergelar doktor,” ujarnya.
Kisah ini menunjukkan bahwa pelayanan haji tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga menjadi ruang pengabdian dan pembelajaran spiritual.
Di tengah kondisi ekstrem, petugas tetap menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab.
Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa di balik pelayanan jemaah haji, terdapat dedikasi tinggi yang tidak selalu terlihat, namun berdampak besar bagi kelancaran ibadah di Tanah Suci.
Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Bersabar di "Tengah Panas Terminal, Kisah Petugas asal Sulawesi Doktor Brandes Jadi Kapos Terminal".
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang