Editor
KOMPAS.com - Kisah Uwais Al-Qarni dikenal sebagai teladan bakti seorang anak kepada ibunya.
Sosok pemuda ini diceritakan rela menggendong sang ibu demi menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.
Nilai ketulusan, pengorbanan, dan cinta tanpa syarat menjadi inti dari kisah tersebut yang membuatnya terus hidup dan menginspirasi banyak orang dalam memuliakan orang tua.
Kini, nilai bakti itu seolah terulang dalam kisah nyata seorang calon haji asal Tangerang Selatan, Tsamrotul Fuadah (53), yang menjalani ibadah di tengah keterbatasan fisik dengan dukungan penuh dari putranya.
Baca juga: Kisah Petugas Haji di Terminal Syib Amir, Tetap Bertugas di Tengah Panas Ekstrem untuk Layani Jemaah
Fuadah akhirnya dapat menyaksikan Ka'bah secara langsung meski harus duduk di kursi roda.
Di pelataran Masjidil Haram, ia bersimpuh penuh haru sambil melantunkan asma-asma Allah.
Baca juga: Kisah Uwais al-Qarni, Dipuji Rasulullah karena Baktinya kepada Sang Ibu
Penantian selama 15 tahun akhirnya terwujud, meski harus dilalui dengan ujian fisik berat yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Saya tidak bisa melukiskan dengan kata-kata, setelah menjalankan umrah wajib, terutama dengan semangat anak saya yang membuktikan baktinya kepada ibunya," tutur Fuadah, seperti dilansir dari Antara.
Perjalanan menuju Tanah Suci merupakan buah kesabaran panjang bagi Fuadah, seorang guru SD swasta di Ciputat. Ia mendaftar haji bersama suaminya 15 tahun lalu.
Namun, sang suami wafat pada 24 Desember 2024 akibat sakit jantung. Porsi keberangkatan kemudian dialihkan kepada putra bungsunya, Muhammad Amri Lubab (24).
Cobaan berlanjut sehari sebelum keberangkatan, tepatnya 22 April 2026 lalu, saat acara pelepasan jamaah di Masjid Islamic Center BSD. Fuadah terjatuh karena tidak menyadari adanya anak tangga menurun di barisan depan.
Insiden tersebut membuatnya harus dievakuasi menggunakan kursi roda dan ambulans. Rangkaian pemeriksaan medis dari asrama haji Cipondoh hingga RSUD Kota Tangerang menunjukkan adanya robekan otot yang sempat mengancam keberangkatannya.
Di tengah kekhawatiran gagal berangkat, tim dokter akhirnya menyatakan Fuadah memenuhi syarat istitha’ah kesehatan.
"Saat dokter membacakan bahwa istitha'ah saya tetap diberlakukan dan saya bisa terbang, semuanya ikut menangis terharu. Teman-teman di asrama semua ikut menangis. Kalau saya sudah dipanggil oleh Yang Mempunyai Rumah, insya Allah saya akan mendapatkan pelayanan yang baik," kenangnya.
Fuadah berangkat secara terpisah menggunakan ambulans dan mendapat kursi kelas bisnis di pesawat Garuda Indonesia untuk menjaga kondisi kakinya.
Setibanya di Madinah, Fuadah dirujuk ke Saudi German Hospital. Pemeriksaan lanjutan mengungkap tulang di bawah lututnya mengalami patah melingkar.
Ia menjalani operasi selama lima setengah jam, dilanjutkan dengan masa pemulihan intensif bersama tim fisioterapi.
Perjalanan Fuadah tak lepas dari peran putranya, Amri, yang setia mendampingi perjalanan ibadahnya di Tanah Suci.
Baktinya kepada sang ibu mengingatkan kita dengan Uwais Al-Qarni saat menjalankan ibadah haji.
Saat Fuadah ingin menyewa jasa pendorong kursi roda untuk tawaf dan sa’i, namun Amri menolak.
"Jangan, Ma. Biarkan ini menjadi takzim Amri kepada Mama hari ini. Jangankan mendorong, menggendong Mama pun Amri siap. Amri ingat cerita Mama tentang sahabat Nabi, Uwais," ucap Fuadah, menirukan perkataan putranya.
Amri dengan setia mendorong kursi roda ibunya mengelilingi Ka’bah tujuh kali, lalu kembali melakukan umrah untuk dirinya sendiri. Ia bahkan menjalankan dua kali umrah berturut-turut tanpa mengeluh lelah.
Selain itu, Amri juga mengurus seluruh kebutuhan ibunya, termasuk mencuci pakaian sendiri dan menolak menggunakan jasa laundry.
"Tenaganya biarkan habis buat merawat ibunya. Alhamdulillah, saya diberikan 'obat' yang luar biasa dari anak saya. Saya tidak takabur, namun saya bersyukur dengan pendidikan yang saya berikan dari rumah. Allah menunjukkannya di sini," kata Fuadah.
Kelancaran ibadah Fuadah juga didukung lingkungan sekitar, termasuk sesama jamaah dan petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.
Teman sekamar membantu kebutuhan harian tanpa pamrih, mulai dari menyiapkan makanan hingga membantu aktivitas pribadi.
Petugas Tim Lansia dan Disabilitas (Landis) serta tim kesehatan PPIH turut memberikan pendampingan intensif sejak di Madinah hingga di Makkah.
"Petugas haji selalu membantu kebutuhan harian calon haji di hotel, mulai dari mandi, hingga hal-hal yang bersifat personal. Tim kesehatan juga melakukan visitasi secara rutin, hingga tiga kali sehari untuk memastikan kondisi fisik jamaah calon haji tetap stabil," papar Sugita Esadora.
Menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, Fuadah terus menjalani pemulihan dengan pengawasan tim medis.
Dari kursi rodanya, Fuadah tidak henti memanjatkan doa untuk sang putra.
"Ya Allah, jadikanlah anak saya penyejuk hati keluarga. Jauhkanlah ia dari orang-orang zalim, dan berilah ia kebahagiaan dunia akhirat. Dan semoga, haji kami semua dicatat sebagai haji yang mabrur," doanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang