KOMPAS.com – Di tengah dinamika ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil, Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengambil langkah strategis dengan menyerukan efisiensi dan penguatan budaya hidup hemat di seluruh lini organisasi.
Melalui Surat Edaran Nomor 5/EDR/I.0/B/2026, organisasi Islam modernis terbesar di Indonesia ini mengajak seluruh elemen persyarikatan untuk lebih bijak dalam mengelola sumber daya, baik dalam aktivitas kelembagaan maupun kehidupan sehari-hari.
Langkah ini bukan sekadar respons administratif, melainkan refleksi nilai keislaman yang menekankan keseimbangan antara pengelolaan duniawi dan tanggung jawab spiritual.
Baca juga: Pandangan Muhammadiyah tentang Nikah Siri, Sah Secara Agama tetapi...
Ketua Umum Haedar Nashir bersama Sekretaris Muhammad Sayuti menandatangani edaran tersebut sebagai bentuk keprihatinan sekaligus kewaspadaan terhadap kondisi ekonomi yang tidak menentu.
Dalam kutipan edaran, ditegaskan secara tidak langsung bahwa situasi ekonomi saat ini menuntut kehati-hatian kolektif dalam pengelolaan anggaran. Setelah itu, penegasan tersebut diperkuat melalui kutipan langsung:
“Kami mengimbau kepada seluruh elemen persyarikatan untuk senantiasa menerapkan prinsip kehati-hatian dan efisiensi dalam pengelolaan anggaran, melaksanakan kegiatan, dan menjalani kehidupan.” tulis edaran tersebut.
Seruan ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak hanya bergerak dalam ranah dakwah, tetapi juga aktif merespons isu-isu strategis yang berdampak pada keberlanjutan organisasi dan kesejahteraan umat.
Baca juga: Muhammadiyah Tegaskan Idul Adha 27 Mei 2026 Berdasarkan KHGT
Dalam edaran tersebut, Muhammadiyah merumuskan delapan langkah konkret yang menjadi pedoman bagi seluruh pimpinan di berbagai tingkatan.
1. Mengedepankan efisiensi, penggunaan anggaran belanja, dan menghindari pengeluaran yang tidak mendesak.
2. Memprioritaskan program dan kegiatan yang bersifat strategis dan berdampak langsung serta mengurangi kegiatan-kegiatan seremonial yang kurang diperlukan.
3. Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia secara efektif dan bertanggung jawab.
4. Mengurangi acara-acara regional-nasional dan kunjungan-kunjungan langsung berbiaya tinggi yang dapat digantikan dengan rapat koordinasi atau kegiatan secara daring.
5. Membatasi frekuensi kunjungan ke luar negeri, khususnya untuk kegiatan yang tidak bersifat prioritas, serta tidak melibatkan pihak yang tidak memiliki kepentingan langsung, dengan memperhatikan prinsip efisiensi anggaran.
6. Penghematan air, listrik, dan energi di setiap kantor, gedung, dan ruangan. Sebagai alternatif, penghematan listrik dapat dimulai dengan menggunakan panel surya.
7. Menguatkan budaya hidup cukup, sehat, bersih, dan produktif.
8. Mempraktikkan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) serta Risalah Islam Berkemajuan dalam seluruh aspek kegiatan.
Menariknya, Muhammadiyah juga mendorong transformasi cara kerja dengan mengurangi pertemuan tatap muka yang berbiaya tinggi. Kegiatan regional hingga nasional diimbau untuk dialihkan ke format daring jika memungkinkan.
Langkah ini selaras dengan tren global yang mengedepankan efisiensi melalui digitalisasi.
Salah satu poin penting dalam edaran tersebut adalah pembatasan kunjungan kerja, terutama yang bersifat non-prioritas.
Kunjungan luar negeri, misalnya, diminta untuk lebih selektif dan hanya dilakukan jika memiliki urgensi tinggi serta melibatkan pihak yang benar-benar berkepentingan.
Kebijakan ini mencerminkan perubahan paradigma dalam tata kelola organisasi modern—dari mobilitas tinggi menuju efisiensi berbasis kebutuhan.
Baca juga: UEA Terapkan Belajar Online usai Serangan Rudal dan Drone dari Iran
Tidak berhenti pada aspek kegiatan, Muhammadiyah juga menyoroti pentingnya penghematan energi di lingkungan kantor dan fasilitas organisasi.
Penggunaan listrik dan air diminta untuk lebih terkendali, bahkan organisasi ini mulai mendorong pemanfaatan energi alternatif seperti panel surya.
Langkah ini menunjukkan kesadaran Muhammadiyah terhadap isu keberlanjutan lingkungan, yang kini menjadi perhatian global.
Seruan efisiensi ini sejatinya memiliki akar kuat dalam ajaran Islam. Dalam berbagai literatur klasik, prinsip tidak berlebih-lebihan (israf) menjadi bagian penting dalam etika kehidupan Muslim.
Dalam buku Ekonomi Islam: Teori dan Praktik karya M. Umer Chapra dijelaskan bahwa Islam mendorong penggunaan sumber daya secara seimbang, tidak boros, namun juga tidak kikir.
Sementara itu, dalam perspektif organisasi, konsep efisiensi juga berkaitan erat dengan keberlanjutan.
Dalam buku Manajemen Organisasi Nirlaba karya Peter F. Drucker, disebutkan bahwa organisasi yang mampu bertahan adalah mereka yang dapat mengelola sumber daya secara efektif tanpa kehilangan orientasi nilai.
Dalam konteks Muhammadiyah, nilai tersebut terangkum dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) dan Risalah Islam Berkemajuan yang turut ditekankan dalam edaran tersebut.
Baca juga: Muhammadiyah Jadi Ormas Islam dengan 23 Fakultas Kedokteran Terbanyak di Dunia, Ini Faktanya
Seruan untuk mengurangi kegiatan seremonial menjadi sinyal penting adanya pergeseran fokus dalam tubuh Muhammadiyah.
Organisasi ini ingin memastikan bahwa setiap kegiatan benar-benar memberikan dampak nyata, bukan sekadar formalitas.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep “Islam Berkemajuan” yang selama ini menjadi identitas Muhammadiyah, yaitu Islam yang adaptif, rasional, dan berorientasi pada kemaslahatan.
Melalui edaran ini, Muhammadiyah tidak hanya berbicara tentang penghematan, tetapi juga tentang kemandirian.
Efisiensi anggaran dan gaya hidup hemat diyakini dapat memperkuat daya tahan organisasi di tengah ketidakpastian global.
Sebagaimana ditegaskan dalam bagian akhir edaran, langkah-langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan penghematan sekaligus menjaga stabilitas dan keberlangsungan persyarikatan.
Seruan hidup hemat dari Muhammadiyah bukan sekadar imbauan teknis, melainkan bagian dari gerakan moral yang lebih luas.
Di tengah tantangan ekonomi dan perubahan zaman, efisiensi menjadi bentuk ikhtiar kolektif untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan tanggung jawab.
Pada akhirnya, langkah ini menegaskan bahwa kekuatan sebuah organisasi tidak hanya terletak pada besarnya sumber daya, tetapi pada bagaimana sumber daya tersebut dikelola dengan bijak, beretika, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang