KOMPAS.com - Dalam ajaran Islam, harta tidak pernah diposisikan sebagai tujuan akhir hidup manusia. Ia adalah titipan sekaligus ujian.
Cara seseorang memperlakukan hartanya akan menentukan apakah kekayaan itu menjadi jalan keselamatan atau justru sumber penyesalan di akhirat.
Salah satu sikap yang paling dikecam dalam Alquran dan hadis adalah kikir, yaitu enggan mengeluarkan harta pada jalan yang diwajibkan dan dianjurkan oleh Allah.
Baca juga: Doa Dijauhkan dari Sifat Kikir Lengkap dengan Terjemahannya
Islam memandang bahwa kepemilikan manusia atas harta bersifat relatif. Semua kekayaan hakikatnya milik Allah SWT, sementara manusia hanya diberi amanah untuk mengelolanya.
Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa kecintaan berlebihan terhadap harta merupakan cabang dari cinta dunia dan cinta dunia adalah akar dari berbagai kerusakan akhlak.
Ketika seseorang meyakini hartanya sebagai milik mutlak, lahirlah rasa takut kehilangan yang kemudian memicu sifat kikir dan enggan berbagi.
Baca juga: Nisab dan Haul Zakat, Penentu Kapan Harta Menjadi Kewajiban
Sifat kikir tidak hanya tampak dari keengganan bersedekah, tetapi juga dari sikap menunda atau bahkan meninggalkan kewajiban zakat.
Orang yang kikir cenderung menimbun hartanya dengan keyakinan semu bahwa kekayaan itu akan melindunginya di masa depan.
Padahal, Alquran secara tegas mengingatkan bahwa harta yang ditimbun justru dapat menjadi sebab kebinasaan.
Dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa kebakhilan adalah perbuatan yang merugikan diri sendiri, meski pelakunya sering merasa sedang bersikap hemat dan berhati-hati.
Al-Qur’an dan hadis memberikan gambaran yang kuat tentang konsekuensi moral dan spiritual dari sifat kikir.
Salah satunya disebutkan bahwa harta yang ditahan dari hak Allah akan berbalik menjadi beban bagi pemiliknya.
Dalam kitab Tanbihul Ghafilin karya Imam Abu Laits As-Samarqandi menggambarkan bahwa harta yang tidak dizakati akan berubah menjadi alat siksaan pada hari kiamat, sebagai peringatan keras bagi orang-orang yang lalai dan kikir.
Rasulullah SAW pun mengingatkan bahwa harta yang ditimbun dapat menjelma menjadi azab yang nyata.
Dalam sebuah hadis shahih, digambarkan bagaimana kekayaan yang tidak ditunaikan zakatnya akan hadir dalam wujud yang menakutkan dan menyiksa pemiliknya.
Gambaran ini menunjukkan bahwa azab tersebut bukan semata simbolik, melainkan bentuk pertanggungjawaban yang nyata.
Baca juga: Siapa Saja Penerima Zakat Maal? Ini 8 Golongan yang Berhak Menerimanya Menurut Al-Qur’an
Selain ancaman akhirat, sifat kikir juga membawa dampak sosial di dunia. Orang yang bakhil cenderung terisolasi, kehilangan kepercayaan, dan terputus dari empati sosial.
Dalam Al-Adab Al-Mufrad karya Imam Al-Bukhari menempatkan kedermawanan sebagai salah satu akhlak utama yang mempererat hubungan antarmanusia, sementara kikir menjadi sebab renggangnya persaudaraan.
Kikir juga menghilangkan keberkahan harta. Banyak ulama menegaskan bahwa keberkahan bukan diukur dari jumlah, melainkan dari manfaat dan ketenangan yang menyertainya.
Islam tidak hanya memberikan peringatan, tetapi juga solusi. Kunci utama untuk keluar dari sifat kikir adalah melatih keikhlasan dan membangun keyakinan bahwa rezeki tidak berkurang karena dibagikan.
Dalam Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi mengutip berbagai hadis tentang keutamaan sedekah, salah satunya menegaskan bahwa harta tidak akan berkurang karena sedekah.
Membiasakan berbagi, meski dari jumlah kecil, menjadi langkah awal membersihkan hati dari kecintaan berlebihan terhadap dunia.
Menunaikan zakat tepat waktu, memperbanyak infak dan menyadari bahwa harta adalah sarana ibadah merupakan cara efektif agar kekayaan menjadi penyelamat, bukan penjerat.
Baca juga: Mengenal Sifat Kikir: Penyakit Hati yang Membinasakan
Harta pada dasarnya netral. Ia bisa menjadi kendaraan menuju surga jika digunakan sesuai tuntunan atau berubah menjadi beban jika ditimbun dan disembah secara tidak sadar.
Islam mengajarkan keseimbangan bekerja dan memiliki harta diperbolehkan, tetapi keterikatan berlebihan justru berbahaya.
Dengan memahami peringatan Alquran, hadis, dan penjelasan para ulama, umat Islam diingatkan agar tidak terjebak dalam ilusi kepemilikan.
Sebab pada akhirnya, harta yang paling bernilai bukan yang disimpan, melainkan yang dibelanjakan di jalan kebaikan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang