Penulis
KOMPAS.com - Manusia sepanjang hidupnya tidak pernah benar-benar lepas dari salah dan dosa. Kesalahan bisa terjadi karena kelalaian, ketidaktahuan, bahkan karena hawa nafsu. Dalam Islam, hal ini bukan sesuatu yang diingkari. Bahkan Al-Qur’an dan hadis menegaskan bahwa berbuat salah adalah bagian dari tabiat manusia.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menjelaskan bahwa manusia diciptakan dengan potensi salah, namun juga dibekali jalan kembali kepada Allah melalui taubat dan amal kebaikan. Karena itu, Islam tidak menutup pintu harapan bagi hamba yang berdosa, selama ia mau kembali dan memperbaiki diri.
Rasulullah SAW bersabda:
وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
Artinya:
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus keburukan. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi).
Baca juga: Dzikir Bulan Sya’ban: 4 Bacaan yang Dianjurkan MUI dan Keutamaannya
Hadits ini menjadi landasan utama para ulama bahwa dosa dapat dihapus dengan amal kebaikan, salah satunya melalui dzikir. Dalam berbagai kitab hadis dan tasawuf, dzikir disebut sebagai amalan ringan di lisan namun berat dalam timbangan amal.
Berikut empat dzikir pendek penghapus dosa yang dianjurkan Rasulullah SAW dan dijelaskan oleh para ulama dalam kitab-kitab klasik.
Istighfar adalah dzikir memohon ampunan kepada Allah SWT. Dalam Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi menempatkan bab istighfar sebagai pembuka taubat, menandakan betapa pentingnya amalan ini dalam kehidupan seorang Muslim.
Rasulullah SAW bersabda:
يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ، ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي لَغَفَرْتُ لَكَ
Artinya:
“Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu setinggi langit, lalu engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu.” (HR. At-Tirmidzi)
Bacaan istighfar paling ringkas adalah:
Arab:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ
Latin:
Astaghfirullah.
Artinya:
Aku memohon ampun kepada Allah.
Dalam Al-Adzkar, Imam Nawawi menjelaskan bahwa memperbanyak istighfar tidak hanya menghapus dosa, tetapi juga membuka pintu rezeki dan ketenangan batin.
Baca juga: 5 Dzikir Ringan Namun Berat di Timbangan
Ucapan لا إله إلا الله (Laa ilaaha illallaah) adalah inti ajaran Islam. Dalam Fathul Baari', Ibnu Hajar Al-Asqalani menegaskan bahwa tahlil merupakan dzikir paling utama karena mengandung pengesaan Allah.
Imam Nawawi Al-Bantani dalam kitab Kasyifatus Saja menyebutkan: “Barang siapa membaca ‘Laa ilaaha illallaah’ tiga kali setiap hari, maka dosa-dosa yang ia lakukan pada hari itu dihapuskan.”
Penjelasan ini menunjukkan bahwa tahlil bukan sekadar pengakuan iman, tetapi juga sarana pembersih dosa harian bila dibaca dengan kesadaran dan keikhlasan.
Tasbih dengan bacaan:
Arab:
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ
Latin:
Subhanallahi wa bihamdi.
Artinya:
Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya.
disebut Rasulullah sebagai dzikir yang sangat dicintai Allah. Dalam Shahih Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
وَمَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
Artinya:
“Barang siapa membaca ‘Subhanallahi wabihamdihi’ seratus kali dalam sehari, maka dihapus dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR. Muslim)
Imam Al-Qurthubi dalam Al-Mufhim menjelaskan bahwa penghapusan dosa dalam hadis ini mencakup dosa-dosa kecil, selama tidak disertai sikap meremehkan maksiat.
Baca juga: 3 Dzikir Pendek Penghapus Dosa
Membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW tidak hanya mendatangkan rahmat, tetapi juga menjadi sebab penghapusan dosa. Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali dan menghapus sepuluh kesalahannya.” (HR. Ahmad)
Dalam Jala’ul Afham, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan bahwa sholawat adalah bentuk dzikir yang mengandung cinta, ketaatan, dan pengakuan atas jasa Rasulullah dalam menyampaikan risalah Islam.
Empat dzikir pendek ini—istighfar, tahlil, tasbih, dan sholawat—merupakan amalan ringan yang dapat diamalkan setiap hari oleh siapa saja. Meski sederhana, dzikir-dzikir ini memiliki kedudukan besar dalam Islam sebagai sarana penghapus dosa dan pembersih hati.
Sebagaimana ditegaskan para ulama, dzikir bukan hanya ritual lisan, tetapi jalan kembali bagi manusia yang ingin dekat dengan Allah. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa menjaga lisan dengan dzikir dan hati dengan taubat.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang