Penulis
KOMPAS.com - Rasulullah SAW tidak menyebarkan Islam seorang diri. Dakwah beliau ditopang oleh para sahabat yang mengorbankan harta, tenaga, bahkan nyawa. Salah satu sahabat yang memiliki jejak spiritual paling menggetarkan dalam sejarah Islam adalah Bilal bin Rabah RA.
Bilal bukan bangsawan Quraisy. Ia bukan pula tokoh terpandang. Namun Islam datang untuk memuliakan iman, bukan nasab. Dari seorang budak atau hamba sahaya Habasyah, Bilal diangkat Allah SWT menjadi simbol tauhid dan menjadi muadzin pertama dalam Islam.
Baca juga: Tumbuh dalam Dekapan Iman, Inilah Kisah 5 Sahabat Kecil Nabi
Bilal bin Rabah lahir di Makkah sekitar 34 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sementara ibunya adalah seorang budak wanita berkulit hitam bernama Hamamah.
Sejak kecil, Bilal hidup dalam perbudakan dan kemudian dimiliki oleh Bani Abdid Daar, sebelum akhirnya berada di bawah kekuasaan Umayyah bin Khalaf, salah satu tokoh paling keras memusuhi Islam.
Menurut Ibnu Sa‘ad dalam Ath-Thabaqat Al-Kubra, Bilal tumbuh sebagai budak yang jujur, kuat, dan dikenal amanah, meskipun hidup dalam tekanan sosial yang berat.
Ketika Rasulullah SAW mulai menyampaikan dakwah secara sembunyi-sembunyi, Bilal termasuk golongan As-Sabiqunal Awwalun, yakni orang-orang yang pertama kali masuk Islam.
Ia menerima Islam bukan karena imbalan dunia, melainkan karena cahaya tauhid yang menyentuh jiwanya. Kalimat Laa ilaha illallah meresap begitu dalam, hingga tak ada satu pun siksaan yang mampu mencabutnya dari hati Bilal.
Baca juga: 10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga Lengkap dengan Keutamaannya
Menyebarnya Islam membuat para pemuka Quraisy murka. Kaum lemah dan budak menjadi sasaran pelampiasan amarah. Bilal bin Rabah diseret ke padang pasir, dicambuk, dijemur di bawah terik matahari, dan dadanya ditindih batu besar.
Dalam Sirah Ibnu Hisyam diceritakan bahwa Umayyah bin Khalaf memaksa Bilal kembali kepada kekafiran. Namun di tengah penderitaan yang nyaris merenggut nyawa, Bilal hanya mampu mengucapkan satu kalimat:
“Ahad… Ahad…”
(Allah Maha Esa)
Kalimat singkat itu menjadi simbol perlawanan tauhid terhadap kezaliman sepanjang sejarah.
Allah SWT mengirim pertolongan melalui Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Atas perintah Rasulullah SAW, Abu Bakar menebus Bilal dengan harga yang sangat mahal, yakni 9 uqiyah emas atau sekitar 285 gram emas.
Harga tinggi dipasang oleh Umayyah bin Khalaf agar Abu Bakar Ash-Shiddiq mengurungkan niatnya. Tetapi Abu Bakar tidak gentar, ia menyetujui harga tersebut. Tidak ada yang mahal untuk menebus keimanan dan ikatan persaudaraan dalam iman.
Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menjelaskan bahwa tindakan Abu Bakar ini bukan transaksi biasa, melainkan pembebasan iman dari belenggu kezaliman.
Sejak saat itu, Bilal bukan lagi budak manusia, melainkan hamba Allah yang merdeka.
Baca juga: Zaid bin Haritsah, Satu-satunya Sahabat Nabi yang Disebut Alquran
Bilal turut berhijrah ke Madinah dan tinggal bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ketika Masjid Nabawi selesai dibangun, Rasulullah SAW memilih Bilal sebagai muadzin pertama dalam Islam.
Menurut riwayat Imam Abu Dawud dan At-Tirmidzi, Rasulullah SAW memilih Bilal karena suaranya yang lantang, hatinya yang bersih, dan imannya yang kokoh.
Sejak saat itu, nama “Bilal” identik dengan adzan, hingga di banyak daerah muadzin sering disebut dengan istilah bilal.
Bilal bin Rabah menjadi sahabat yang mempunyai kedudukan tersendiri di hati Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW pernah mendapat hadiah 3 tombak pendek dari Raja Najasyi di Habasyah.
Tiga tombak pendek itu diberikan oleh Rasulullah SAW kepada Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib. Sedangkan satu lagi diberikan kepada Bilal bin Rabah. Tombak tersebut senantiasa dibawa Bilal sepanjang hidupnya.
Ketika shalat di lapangan, Bilal senantiasa menjadikan tombak tersebut sebagai pembatas shalatnya, yaitu pada saat shalat Idul Fitri, Idul Adha, dan shalat Istisqa'.
Baca juga: 11 Julukan Sahabat Utama Nabi Muhammad SAW
Bilal bin Rabah turut serta dalam berbagai peperangan, termasuk Perang Badar. Ia menyaksikan sendiri bagaimana Umayyah bin Khalaf—mantan tuannya—tewas sebagai bentuk keadilan Allah SWT.
Pada peristiwa Fathu Makkah, Bilal diperintahkan Rasulullah SAW untuk mengumandangkan adzan di atas Ka’bah, tempat yang dahulu menjadi pusat kemusyrikan.
Momen ini dicatat oleh Imam Al-Waqidi sebagai simbol runtuhnya rasisme dan kezaliman di hadapan tauhid.
Sejak wafatnya Rasulullah SAW, Bilal tidak lagi sanggup mengumandangkan adzan. Setiap sampai pada kalimat:
Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah
suaranya tercekik oleh tangis. Tak kuasa melanjutkan adzannya.
Bilal kemudian meminta izin kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk berjihad dan menetap di negeri Syam. Ia tinggal di Darayya, dekat Damaskus.
Sejak saat itu, Bilal tidak lagi mengumandangkan Adzan. Namun dalam momen kunjungan Khalifah Umar bin Khattab, Bilal diminta untuk kembali mengumandangkan adzan.
Bilal yang sudah lama tidak mengumandangkan adzan akhirnya bersedia. Hal itu membuat kaum muslimin menangis tersedu-sedu. Untuk terakhir kalinya Sang Muadzin Rasulullah menjalankan tugasnya.
Bilal tetap tinggal di Damaskus hingga akhir hayatnya.
Baca juga: 10 Sahabat Nabi Muhammad SAW yang Dijamin Masuk Surga
Salah satu keistimewaan yang dimiliki Bilal bin Rabah adalah amalannya yang membuat suara terompahnya terdengar oleh Rasulullah SAW meskipun ia masih hidup di dunia.
يَا بِلاَلُ، حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الإِسْلاَمِ، فَإنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ في الجَنَّةِ» قَالَ: مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي مِنْ أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طُهُوْرًا فِي سَاعَةٍ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّ
Artinya: “Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku tentang satu amalan yang engkau lakukan di dalam Islam yang paling engkau harapkan pahalanya, karena aku mendengar suara kedua sandalmu di surga.”
Bilal menjawab, “Tidak ada amal yang aku lakukan yang paling aku harapkan pahalanya daripada aku bersuci pada waktu malam atau siang pasti aku melakukan shalat dengan wudhu tersebut sebagaimana yang telah ditetapkan untukku.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menjadi dalil utama tentang keutamaan menjaga wudhu dan shalat sunnah setelah wudhu.
Kisah Bilal bin Rabah bukan sekadar sejarah, melainkan cermin keikhlasan, kesetiaan, dan keteguhan iman. Ia mengajarkan bahwa kemuliaan di sisi Allah tidak ditentukan oleh warna kulit atau status sosial, melainkan oleh tauhid dan ketaatan.
Semoga kisah ini meneguhkan iman dan menghidupkan kembali semangat Islam dalam diri kita semua.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang