KOMPAS.com - Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, Ramadan adalah momentum pendidikan spiritual yang mendorong umat Islam untuk memperbanyak amal sosial, salah satunya melalui sedekah.
Di bulan yang penuh rahmat ini, setiap kebaikan dilipatgandakan nilainya. Maka tak heran jika Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang paling dermawan dan kedermawanannya semakin meningkat ketika memasuki Ramadan.
Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan, Rasulullah SAW “lebih dermawan daripada angin yang berhembus” ketika bulan Ramadan tiba.
Gambaran ini menunjukkan bahwa sedekah bukan hanya anjuran biasa, melainkan bagian dari ruh ibadah puasa yang mengajarkan empati dan kepedulian sosial.
Baca juga: Berapa Hari Lagi Puasa Ramadhan 2026? Prediksi Awal dan Tips Persiapannya
Secara bahasa, sedekah berasal dari kata shadaqah yang berakar dari kata shidq, yang berarti kejujuran dan kebenaran.
Dalam konteks ibadah, sedekah menjadi bukti keimanan seorang hamba. Hal ini ditegaskan oleh Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, bahwa sedekah merupakan amal yang mencerminkan ketulusan hati dan keikhlasan seseorang dalam beribadah.
Sedekah dalam Islam tidak terbatas pada harta. Dalam buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa setiap bentuk kebaikan yang dilakukan dengan niat karena Allah, seperti membantu orang lain, memberikan ilmu atau bahkan menyingkirkan duri di jalan, termasuk dalam kategori sedekah.
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) juga mendefinisikan sedekah sebagai pemberian sukarela, baik berupa harta maupun non-harta, di luar kewajiban zakat, yang bertujuan untuk kemaslahatan umat dan kesejahteraan sosial.
Baca juga: Puasa Ramadhan: Ini Keutamaan Sedekah yang Jarang Disadari
Keutamaan sedekah ditegaskan dalam banyak ayat Alquran.
Salah satunya terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 271:
In tubdus shadaqāti fa ni‘immā hiya, wa in tukhfūhā wa tu’tūhal fuqarā’a fahuwa khairul lakum wa yukaffiru ‘ankum min sayyiātikum.
Artinya: “Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu. Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu.” (QS. Al-Baqarah: 271)
Ayat ini menunjukkan bahwa sedekah yang dilakukan secara ikhlas, baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, memiliki nilai spiritual yang tinggi dan menjadi sarana penghapus dosa.
Selain itu, dalam Surah Saba ayat 39, Allah menegaskan bahwa harta yang dikeluarkan di jalan-Nya tidak akan berkurang:
Wa mā anfaqtum min syai’in fahuwa yukhlifuh, wa huwa khairur rāziqīn.
Artinya: “Apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya. Dan Dialah sebaik-baik pemberi rezeki.” (QS. Saba: 39)
Baca juga: Fatwa MUI: Dana Zakat, Infak, dan Sedekah Kini Bisa untuk Iuran BPJS Ketenagakerjaan
Ramadan menjadi bulan istimewa karena seluruh amal saleh dilipatgandakan pahalanya. Dalam kitab Lathā’if al-Ma‘ārif karya Ibnu Rajab Al-Hanbali dijelaskan bahwa amal kebaikan di bulan Ramadan memiliki nilai spiritual yang lebih tinggi karena dilakukan dalam suasana ibadah yang intens dan penuh pengendalian diri.
Sedekah di bulan Ramadan juga menjadi sarana untuk menyempurnakan ibadah puasa. Puasa mengajarkan menahan diri, sementara sedekah melatih memberi.
Keduanya saling melengkapi dalam membentuk karakter mukmin yang seimbang antara kesalehan personal dan sosial.
Baca juga: Ramadhan 2026: Zakat di Bulan Ramadhan dan Cara Sedekah yang Benar
Sedekah tidak hanya berdampak pada penerima, tetapi juga membawa manfaat besar bagi pemberi. Rasulullah SAW bersabda:
“Sedekah itu dapat memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi)
Dalam kehidupan dunia, sedekah menghadirkan ketenangan batin. Psikolog Muslim modern juga menyebut bahwa memberi kepada orang lain mampu meningkatkan kebahagiaan dan mengurangi stres.
Hal ini sejalan dengan pesan Al-Qur’an dalam Surah Al-Munafiqun ayat 10 yang mendorong umat Islam untuk berinfak sebelum datang penyesalan di akhir hayat.
Sedekah juga menjadi bekal di akhirat. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa sedekah akan menjadi naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat ketika tidak ada perlindungan selain dari Allah.
Sedekah di bulan Ramadan tidak harus selalu berupa uang. Memberi makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, membantu tetangga yang kesulitan, berdonasi untuk kegiatan sosial, mengajarkan ilmu, hingga membantu dengan tenaga termasuk bentuk sedekah yang bernilai ibadah.
Dalam buku Tazkiyatun Nafs karya Imam Al-Ghazali dijelaskan bahwa sedekah terbaik adalah yang dilakukan secara konsisten, meskipun nilainya kecil, karena keistiqamahan menunjukkan ketulusan hati.
Baca juga: 5 Doa Sedekah Subuh agar Rezeki Lancar dan Penuh Keberkahan
Ramadan sejatinya bukan hanya tentang ritual individu, tetapi juga momentum membangun solidaritas sosial.
Dengan memperbanyak sedekah, umat Islam diajak untuk lebih peka terhadap penderitaan sesama, mempersempit jurang sosial, dan memperkuat ukhuwah.
Ketika tangan memberi, hati ikut dibersihkan. Ketika harta dibagikan, jiwa justru diperkaya. Inilah rahasia mengapa sedekah selalu disebut sebagai investasi akhirat yang tak pernah merugi.
Ramadan pun menjadi waktu terbaik untuk memulai kebiasaan berbagi yang berkelanjutan, tidak hanya selama bulan suci, tetapi juga setelahnya, agar nilai puasa benar-benar membentuk karakter mukmin yang peduli, rendah hati, dan penuh kasih sayang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang