KOMPAS.com - Shalat dalam ajaran Islam bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan inti dari hubungan spiritual antara manusia dan Tuhan.
Namun dalam praktiknya, tidak sedikit umat Islam yang mengakui bahwa shalat sering terasa berat untuk dikerjakan secara konsisten.
Fenomena ini tidak hanya terjadi pada kalangan awam, tetapi juga menyentuh berbagai lapisan sosial. Lalu, apa sebenarnya yang membuat shalat terasa berat?
Tulisan ini mencoba mengurai persoalan tersebut secara lebih mendalam, dengan merujuk pada pandangan ulama, serta literatur keislaman klasik maupun kontemporer.
Secara syariat, shalat adalah ibadah yang sangat dimudahkan. Dalam kondisi tertentu, Islam bahkan memberikan keringanan (rukhsah), seperti boleh dilakukan sambil duduk, berbaring, atau dengan isyarat bagi yang tidak mampu berdiri.
Islam tidak mempersulit ibadah. Bahkan dalam kondisi terbatas, shalat tetap bisa dilakukan sesuai kemampuan:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
Lā yukallifullāhu nafsan illā wus‘ahā
Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)
Namun secara psikologis dan spiritual, shalat bisa terasa berat. Dalam Al-Qur’an, Allah sendiri menegaskan bahwa shalat itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.
Hal ini menunjukkan bahwa hambatan utama bukan pada teknis pelaksanaan, melainkan pada kondisi hati.
Berdasarkan penjelasan dari Pengasuh LPD Al-Bahjah, Buya Yahya, dalam salah satu konten YouTube-nya, ia menekankan bahwa tidak semua orang diberi kemudahan untuk shalat.
“Ada orang kuat bekerja berjam-jam, tapi giliran disuruh shalat tidak bisa. Padahal shalat itu ringan. Ini tanda bahwa tidak semua orang diizinkan oleh Allah untuk menghadap-Nya,” ujar Buya Yahya, dikutip dari channel YouTube Al-Bahjah TV, Rabu (6/5/2026).
Pernyataan ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk melaksanakan shalat bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga berkaitan erat dengan izin dan hidayah dari Allah.
Baca juga: Ada Apa dengan Usia 40 Tahun Menurut Islam? Ini Penjelasan Buya Yahya
Jika ditelusuri lebih dalam, sebenarnya tidak ada alasan teknis yang membuat shalat terasa sulit.
Dari sisi bacaan, Islam justru menyederhanakannya. Shalat adalah momen seorang hamba mengadu, memuji, dan menyampaikan salam kepada Allah.
Secara inti bacaan shalat sangat terbatas dan mudah:
Shalat dimulai dengan takbiratul ihram:
اللَّهُ أَكْبَرُ**
Allāhu akbar
Artinya: “Allah Maha Besar”
Dilanjutkan dengan Surah Al-Fatihah sebagai bentuk pujian:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Al-ḥamdu lillāhi rabbil ‘ālamīn
Artinya: “Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam”
Kemudian pada tasyahud, seorang hamba menyampaikan penghormatan dan salam:
التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ
At-taḥiyyātul mubārakātuṣ-ṣalawātut-ṭayyibātu lillāh
Atinya: “Segala penghormatan, keberkahan, dan kebaikan milik Allah”
السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ**
As-salāmu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu
Artinya: “Salam untukmu wahai Nabi”
السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَىٰ عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ
Artinya: “Salam untuk kami dan hamba Allah yang saleh”
Dilanjutkan dengan shalawat:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Allāhumma ṣalli ‘alā sayyidinā Muḥammad
Artinya: “Ya Allah, limpahkan shalawat kepada Nabi Muhammad”
Dan diakhiri dengan salam:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ
As-salāmu ‘alaikum wa raḥmatullāh
Artinya: “Semoga keselamatan dan rahmat Allah tercurah kepada kalian”
Buya Yahya menegaskan bahwa bacaan ini pada dasarnya adalah inti shalat, sementara banyak bacaan lainnya bersifat sunah.
“Bacaan salat itu tidak banyak. Takbir, Fatihah, tasyahud, shalawat, lalu salam,” jelasnya.
Rangkaian ini menunjukkan bahwa shalat sebenarnya sangat ringan. Bahkan dalam kondisi tertentu, pelaksanaannya bisa disesuaikan.
Namun di sinilah letak persoalannya. Ketika shalat tetap ditinggalkan, penyebabnya bukan lagi karena sulit, melainkan karena hati belum tergerak.
Buya Yahya pun mengingatkan bahwa meninggalkan shalat adalah dosa besar, dan jika seseorang merasa tidak mampu shalat, bisa jadi ada masalah dalam pemahaman atau pembinaan sejak awal.
Dengan demikian, sederhana atau tidaknya shalat bukan ditentukan oleh jumlah bacaan, tetapi oleh sejauh mana seseorang memahami maknanya. Ketika makna itu hadir, shalat tidak lagi terasa berat, melainkan menjadi kebutuhan yang dirindukan.
Baca juga: Makna Filosofis Gerakan Shalat Menurut Ulama, dari Berdiri hingga Salam
Dalam kajian tasawuf, shalat dipandang sebagai bentuk komunikasi langsung dengan Allah. Ketika kesadaran ini melemah, shalat hanya menjadi rutinitas kosong tanpa makna, sehingga terasa membebani.
Dalam buku Ihya Ulumuddin, karya Al-Ghazali, dijelaskan bahwa hati yang lalai (ghaflah) menjadi penghalang utama kekhusyukan dalam shalat. Ketika hati tidak hadir, tubuh akan terasa enggan untuk bergerak.
Gaya hidup modern yang serba cepat sering membuat manusia lebih fokus pada urusan dunia. Akibatnya, waktu shalat kerap dianggap sebagai gangguan terhadap produktivitas.
Padahal dalam perspektif Islam, justru shalat menjadi sarana untuk menata ulang fokus hidup. Dalam buku The Productive Muslim, karya Mohammed Faris, disebutkan bahwa shalat berfungsi sebagai “spiritual anchor” yang menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat.
Banyak orang menjalankan shalat tanpa memahami arti bacaan maupun gerakannya. Hal ini membuat shalat terasa monoton dan tidak menyentuh hati.
Dalam buku Fiqh Sunnah, karya Sayyid Sabiq, dijelaskan bahwa memahami makna bacaan shalat dapat meningkatkan kekhusyukan dan menghadirkan rasa nikmat dalam ibadah.
Lingkungan memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan ibadah seseorang. Jika seseorang berada di lingkungan yang tidak mendukung shalat, maka kecenderungan untuk meninggalkan shalat akan semakin besar.
Buya Yahya juga mengingatkan pentingnya peran lingkungan, termasuk dalam keluarga dan tempat kerja.
Ia menegaskan bahwa membiarkan orang di sekitar tidak shalat bisa menjadi tanggung jawab moral.
“Jangan sampai ada di rumah kita satu orang yang tidak shalat. Sebab bisa dicabut rahmat dari rumah tersebut,” tegasnya.
Dalam perspektif teologi Islam, segala sesuatu terjadi atas izin Allah, termasuk kemampuan untuk beribadah. Namun hal ini tidak berarti manusia tidak memiliki tanggung jawab.
Konsep ini dijelaskan dalam keseimbangan antara takdir dan ikhtiar. Dalam buku Aqidah Islam, karya Hasan Al-Banna, dijelaskan bahwa manusia tetap wajib berusaha mendekatkan diri kepada Allah, termasuk dengan melatih diri untuk shalat secara konsisten.
Dengan kata lain, “tidak diizinkan” bukan alasan untuk menyerah, melainkan peringatan agar seseorang segera memperbaiki hubungannya dengan Allah.
Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan bahwa posisi terdekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah saat sujud. Ini menunjukkan bahwa shalat bukan sekadar kewajiban, tetapi juga kehormatan spiritual.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa momen paling dekat seorang hamba dengan Allah terjadi saat sujud:
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ
Aqrabu mā yakūnul ‘abdu min rabbihī wa huwa sājid
Artinya: "Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sujud.” (HR. Muslim)
Buya Yahya menegaskan bahwa kemampuan untuk sujud adalah tanda cinta Allah kepada hamba-Nya.
“Kalau Anda masih diizinkan sujud, ketahuilah Anda masih dicintai oleh Allah,” ujarnya.
Pernyataan ini memberikan perspektif baru bahwa shalat bukan beban, melainkan privilege yang tidak dimiliki semua orang.
Baca juga: Bolehkah Setelah Mandi Junub Langsung Shalat Tanpa Wudhu? Ini Penjelasan Sesuai Syariat
Melihat berbagai penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa beratnya shalat lebih banyak disebabkan oleh faktor internal manusia, seperti kondisi hati, pemahaman, dan prioritas hidup.
Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan bukan sekadar memaksa diri, tetapi membangun kesadaran spiritual secara bertahap.
Memahami makna shalat, memperbaiki lingkungan, serta memperbanyak doa menjadi langkah awal yang bisa dilakukan.
Shalat pada akhirnya bukan tentang kewajiban yang membebani, melainkan panggilan untuk kembali kepada sumber ketenangan.
Ketika perspektif ini berubah, shalat yang semula terasa berat bisa menjadi kebutuhan yang dirindukan.
Fenomena beratnya shalat merupakan realitas yang kompleks, melibatkan aspek psikologis, sosial, dan spiritual.
Namun Islam telah memberikan panduan yang lengkap untuk mengatasinya. Dengan pendekatan yang tepat, shalat tidak hanya menjadi kewajiban, tetapi juga sumber kekuatan dalam menjalani kehidupan.
Pertanyaannya kini bukan lagi “mengapa shalat terasa berat?”, tetapi “sudah sejauh mana kita memahami makna shalat dalam hidup kita?”
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang