KOMPAS.com - Nama kota itu Ninawa, sebuah kawasan yang oleh sejarawan ditempatkan di wilayah Irak modern.
Di sanalah Yunus bin Mata diutus sebagai nabi. Ia datang membawa pesan tauhid kepada masyarakat yang dikenal keras kepala, penyembah berhala, terbiasa berbuat zalim, dan menolak perubahan. Pola yang berulang dalam sejarah kenabian.
Yunus berdakwah dengan keyakinan penuh. Ia percaya kebenaran akan diterima begitu disampaikan.
Baca juga: Dahsyatnya Doa Nabi Yunus: Rahasia di Balik Doa Cepat Dikabulkan
Namun kenyataan berkata lain. Pesan itu ditampik dengan alasan yang klasik dan diskriminatif, Yunus bukan bagian dari mereka.
Dalih elitis yang masih bertahan hingga hari ini, ketika kebenaran kerap ditolak bukan karena isinya, melainkan karena siapa yang membawanya.
Di tengah penolakan itu, Yunus berhadapan dengan medan dakwah yang porak-poranda secara moral dan sosial.
Di sinilah ujian pertama muncul, iman bukan sekadar keyakinan batin, melainkan proyek perubahan yang menuntut kesabaran dan ketangguhan.
Baca juga: Kisah Nabi Yusuf di Balik Jeruji dan Makna Kekuasaan yang Adil
Filsuf Roger Garaudy menyebut iman sebagai dorongan aksi, bukan sekadar pantulan realitas. Iman yang bersumber dari wahyu selalu mengandung kehendak untuk mengubah dunia.
Namun, Yunus seperti manusia pada umumnya yang pernah terjebak dalam keyakinan naif, bahwa status sebagai utusan Tuhan akan otomatis menaklukkan penolakan.
Ketika dakwahnya diabaikan dan ejekan datang bertubi-tubi, kesabaran Yunus runtuh. Ia marah, kecewa, dan memilih pergi.
Dikutip dari buku Kisah-kisah Pembebasan dalam Qur'an karya Eko Prasetyo, Nabi Yunus mengancam kaumnya dengan hukuman Tuhan dan meninggalkan mereka dalam amarah.
Alquran kemudian menyinggung peristiwa ini dengan halus namun tegas, mengingatkan agar Nabi Muhammad tidak meniru sikap Yunus yang kehilangan kesabaran.
Dakwah, pada titik ini, bukan kekurangan kebenaran, melainkan kekurangan ketabahan.
Baca juga: Keutamaan Mengamalkan Doa Nabi Yunus Secara Terus-Menerus
Yang luput dari perhitungan Yunus adalah hakikat kebebasan manusia. Alquran menegaskan bahwa iman tidak lahir dari paksaan. Tuhan tidak memaksa, dan utusan-Nya pun tidak diberi mandat untuk memaksa.
Ketika ancaman azab membayang, kaum Ninawa justru berubah. Kesadaran kolektif muncul. Mereka bertobat, memohon ampun dan menanggalkan kesombongan.
Para mufasir meriwayatkan bahwa selama puluhan hari mereka berdoa dengan penuh penyesalan. Tobat itu diterima. Hukuman dibatalkan.
Inilah satu-satunya kisah dalam Alquran tentang suatu kaum yang bertobat secara massal sebelum azab diturunkan. Sebuah ironi, ketika nabi pergi, umat justru kembali.
Baca juga: Kisah Nabi Sulaiman AS: Pemimpin Bijak dengan Karunia Besar
Sementara itu, Yunus telah jauh meninggalkan kaumnya. Ia menaiki sebuah kapal, lalu musibah datang.
Undian dilempar. Nama Yunus keluar. Ia terlempar ke laut dan ditelan ikan besar. Bukan sebagai hukuman semata, melainkan pelajaran.
Di dalam perut ikan, Yunus sampai pada titik kesadaran terdalam. Ia berdoa dengan pengakuan penuh bahwa dirinya termasuk orang yang zalim.
Penyesalan itu membuka pintu ampunan. Tuhan menyelamatkannya, mengeluarkannya ke darat, dan menumbuhkan pohon untuk melindunginya. Pelajaran itu jelas pebawa kebenaran tidak kebal dari koreksi. Bahkan nabi pun diuji egonya.
Baca juga: Kisah Nabi Syu’aib dan Bangsa Madyan, Ketika Kecurangan Menjadi Budaya
Yunus kembali berdakwah, kali ini dengan jiwa yang telah ditempa. Ia tidak lagi hanya membawa keyakinan, tetapi juga kesabaran. Kaumnya telah berubah. Dakwahnya diterima.
Kisah Nabi Yunus adalah peringatan keras bagi siapa pun yang membawa pesan kebenaran. Bahwa meninggalkan umat karena kecewa sama artinya memutus mata rantai amanah. Dakwah bukan sekadar mengatakan yang benar, tetapi bertahan saat kebenaran ditolak.
Di tengah dunia yang serba cepat, kisah Yunus mengajarkan bahwa perubahan sejati tidak lahir dari amarah dan ancaman, melainkan dari kesabaran, keteguhan, dan kesediaan untuk terus kembali, bahkan setelah jatuh sedalam-dalamnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang