Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ketika Nabi Pergi, Umat Bertobat: Kisah Nabi Yunus AS

Kompas.com, 2 Januari 2026, 10:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Nama kota itu Ninawa, sebuah kawasan yang oleh sejarawan ditempatkan di wilayah Irak modern.

Di sanalah Yunus bin Mata diutus sebagai nabi. Ia datang membawa pesan tauhid kepada masyarakat yang dikenal keras kepala, penyembah berhala, terbiasa berbuat zalim, dan menolak perubahan. Pola yang berulang dalam sejarah kenabian.

Yunus berdakwah dengan keyakinan penuh. Ia percaya kebenaran akan diterima begitu disampaikan.

Baca juga: Dahsyatnya Doa Nabi Yunus: Rahasia di Balik Doa Cepat Dikabulkan

Namun kenyataan berkata lain. Pesan itu ditampik dengan alasan yang klasik dan diskriminatif, Yunus bukan bagian dari mereka.

Dalih elitis yang masih bertahan hingga hari ini, ketika kebenaran kerap ditolak bukan karena isinya, melainkan karena siapa yang membawanya.

Di tengah penolakan itu, Yunus berhadapan dengan medan dakwah yang porak-poranda secara moral dan sosial.

Di sinilah ujian pertama muncul, iman bukan sekadar keyakinan batin, melainkan proyek perubahan yang menuntut kesabaran dan ketangguhan.

Baca juga: Kisah Nabi Yusuf di Balik Jeruji dan Makna Kekuasaan yang Adil

Iman, Aksi, dan Kesalahan Seorang Nabi

Filsuf Roger Garaudy menyebut iman sebagai dorongan aksi, bukan sekadar pantulan realitas. Iman yang bersumber dari wahyu selalu mengandung kehendak untuk mengubah dunia.

Namun, Yunus seperti manusia pada umumnya yang pernah terjebak dalam keyakinan naif, bahwa status sebagai utusan Tuhan akan otomatis menaklukkan penolakan.

Ketika dakwahnya diabaikan dan ejekan datang bertubi-tubi, kesabaran Yunus runtuh. Ia marah, kecewa, dan memilih pergi.

Dikutip dari buku Kisah-kisah Pembebasan dalam Qur'an karya Eko Prasetyo, Nabi Yunus mengancam kaumnya dengan hukuman Tuhan dan meninggalkan mereka dalam amarah.

Alquran kemudian menyinggung peristiwa ini dengan halus namun tegas, mengingatkan agar Nabi Muhammad tidak meniru sikap Yunus yang kehilangan kesabaran.

Dakwah, pada titik ini, bukan kekurangan kebenaran, melainkan kekurangan ketabahan.

Baca juga: Keutamaan Mengamalkan Doa Nabi Yunus Secara Terus-Menerus

Kebebasan dan Tobat Kaum Ninawa

Yang luput dari perhitungan Yunus adalah hakikat kebebasan manusia. Alquran menegaskan bahwa iman tidak lahir dari paksaan. Tuhan tidak memaksa, dan utusan-Nya pun tidak diberi mandat untuk memaksa.

Ketika ancaman azab membayang, kaum Ninawa justru berubah. Kesadaran kolektif muncul. Mereka bertobat, memohon ampun dan menanggalkan kesombongan.

Para mufasir meriwayatkan bahwa selama puluhan hari mereka berdoa dengan penuh penyesalan. Tobat itu diterima. Hukuman dibatalkan.

Inilah satu-satunya kisah dalam Alquran tentang suatu kaum yang bertobat secara massal sebelum azab diturunkan. Sebuah ironi, ketika nabi pergi, umat justru kembali.

Baca juga: Kisah Nabi Sulaiman AS: Pemimpin Bijak dengan Karunia Besar

Pelarian Yunus dan Perut Ikan

Sementara itu, Yunus telah jauh meninggalkan kaumnya. Ia menaiki sebuah kapal, lalu musibah datang.

Undian dilempar. Nama Yunus keluar. Ia terlempar ke laut dan ditelan ikan besar. Bukan sebagai hukuman semata, melainkan pelajaran.

Di dalam perut ikan, Yunus sampai pada titik kesadaran terdalam. Ia berdoa dengan pengakuan penuh bahwa dirinya termasuk orang yang zalim.

Penyesalan itu membuka pintu ampunan. Tuhan menyelamatkannya, mengeluarkannya ke darat, dan menumbuhkan pohon untuk melindunginya. Pelajaran itu jelas pebawa kebenaran tidak kebal dari koreksi. Bahkan nabi pun diuji egonya.

Baca juga: Kisah Nabi Syu’aib dan Bangsa Madyan, Ketika Kecurangan Menjadi Budaya

Kembali dengan Jiwa yang Ditempa

Yunus kembali berdakwah, kali ini dengan jiwa yang telah ditempa. Ia tidak lagi hanya membawa keyakinan, tetapi juga kesabaran. Kaumnya telah berubah. Dakwahnya diterima.

Kisah Nabi Yunus adalah peringatan keras bagi siapa pun yang membawa pesan kebenaran. Bahwa meninggalkan umat karena kecewa sama artinya memutus mata rantai amanah. Dakwah bukan sekadar mengatakan yang benar, tetapi bertahan saat kebenaran ditolak.

Di tengah dunia yang serba cepat, kisah Yunus mengajarkan bahwa perubahan sejati tidak lahir dari amarah dan ancaman, melainkan dari kesabaran, keteguhan, dan kesediaan untuk terus kembali, bahkan setelah jatuh sedalam-dalamnya.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Terkini Lainnya
Khalid bin Walid, Dari Lawan Tangguh Menjadi Pedang Allah
Khalid bin Walid, Dari Lawan Tangguh Menjadi Pedang Allah
Aktual
Nabi Yahya AS, Iman sebagai Tindakan, Bukan Sekadar Kata
Nabi Yahya AS, Iman sebagai Tindakan, Bukan Sekadar Kata
Aktual
Sholat Sunah Rawatib, Amalan Pendamping Sholat Wajib yang Dianjurkan Rasulullah
Sholat Sunah Rawatib, Amalan Pendamping Sholat Wajib yang Dianjurkan Rasulullah
Aktual
Ketika Nabi Pergi, Umat Bertobat: Kisah Nabi Yunus AS
Ketika Nabi Pergi, Umat Bertobat: Kisah Nabi Yunus AS
Aktual
Khutbah Jumat 2 Januari 2026: Muhasabah Diri, Bekal Menghadapi Hisab di Akhirat
Khutbah Jumat 2 Januari 2026: Muhasabah Diri, Bekal Menghadapi Hisab di Akhirat
Aktual
Banyak yang Keliru, Surat Ini Lebih Dianjurkan Dibaca di Malam Jumat
Banyak yang Keliru, Surat Ini Lebih Dianjurkan Dibaca di Malam Jumat
Doa dan Niat
Mengapa Zohran Mamdani Memilih 3 Mushaf Alquran saat Pelantikan Wali Kota New York?
Mengapa Zohran Mamdani Memilih 3 Mushaf Alquran saat Pelantikan Wali Kota New York?
Aktual
Gelombang Dingin dan Al-Azeerq Melanda Arab Saudi, Warga Diminta Waspada
Gelombang Dingin dan Al-Azeerq Melanda Arab Saudi, Warga Diminta Waspada
Aktual
Kemenhaj Buka Pelunasan Haji Reguler Tahap II Mulai 2 Januari, Jamaah Diminta Bersiap
Kemenhaj Buka Pelunasan Haji Reguler Tahap II Mulai 2 Januari, Jamaah Diminta Bersiap
Aktual
Niat Puasa Ayyamul Bidh Januari 2026 di Bulan Rajab 1447 H, Lengkap dengan Jadwalnya
Niat Puasa Ayyamul Bidh Januari 2026 di Bulan Rajab 1447 H, Lengkap dengan Jadwalnya
Aktual
Pelunasan Haji Reguler Tahap II 2026 Dibuka, Simak Kriteria dan Syarat Terbarunya
Pelunasan Haji Reguler Tahap II 2026 Dibuka, Simak Kriteria dan Syarat Terbarunya
Aktual
Zohran Mamdani Wali Kota New York Pertama yang Disumpah dengan Al Quran
Zohran Mamdani Wali Kota New York Pertama yang Disumpah dengan Al Quran
Aktual
Doa Awal Tahun 2026: Doa Perlindungan untuk Satu Tahun Kedepan
Doa Awal Tahun 2026: Doa Perlindungan untuk Satu Tahun Kedepan
Aktual
Pelunasan Tersendat, 13 Asosiasi Nilai Penyelenggaraan Haji Khusus 2026 Berisiko Gagal
Pelunasan Tersendat, 13 Asosiasi Nilai Penyelenggaraan Haji Khusus 2026 Berisiko Gagal
Aktual
Khutbah Jumat 2 Januari 2026: Waktu Semakin Cepat, Persiapkan Bekal untuk Akhirat
Khutbah Jumat 2 Januari 2026: Waktu Semakin Cepat, Persiapkan Bekal untuk Akhirat
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com