KOMPAS.com - Zakaria merupakan seorang tukang kayu sederhana yang diangkat menjadi utusan Allah.
Hidupnya jauh dari kemegahan, tetapi kaya dengan ketulusan. Dalam sunyi, Zakaria memanjatkan doa yang lembut dan penuh adab.
Ia menginginkan seorang putra, bukan demi kebanggaan duniawi, melainkan untuk menyambung keturunan ketakwaan dan menjaga nilai iman setelah ia tiada.
Permintaan itu terasa mustahil secara logika. Zakaria telah renta, istrinya pun mandul. Bahkan ada rasa malu dalam hatinya ketika memohon.
Baca juga: Kisah Nabi Yusuf di Balik Jeruji dan Makna Kekuasaan yang Adil
Namun ia percaya, Allah tidak pernah mengecewakan hamba yang berharap dengan tulus. Doa itu bukan lahir dari ambisi, melainkan dari kegelisahan akan masa depan nilai kebenaran.
Dan kabar itu datang. Allah menganugerahkan seorang putra bernama Yahya, nama yang bermakna hidup.
Sebuah penanda bahwa kehidupan sejati bukan semata bernapas, tetapi menjalani hidup dengan ketaatan.
Baca juga: Kisah Nabi Yusuf, Ketika Iman Mengalahkan Nafsu dan Kekuasaan
Dikutip dari buku Kisah-kisah Pembebasan dalam Qur'an karya Eko Prasetyo, sejak kecil, Yahya tampil berbeda.
Dalam satu riwayat disebutkan, ketika diajak bermain oleh anak seusianya, Yahya menjawab, “Kita tidak diciptakan untuk bermain.”
Kalimat itu bukan penolakan terhadap kegembiraan, melainkan cerminan kesadaran dini tentang tujuan hidup.
Yahya tumbuh dalam bimbingan Taurat. Kitab suci itu membentuk karakternya yang penuh kasih sayang, patuh kepada orang tua, rendah hati, dan tegas terhadap kebatilan.
Kesalehannya tidak lahir dari keterpaksaan, tetapi dari perenungan mendalam tentang makna hidup.
Dalam tradisi filsafat, Aristoteles menyebut kebajikan sebagai hasil kebiasaan yang dilatih terus-menerus.
Yahya adalah potret hidup dari prinsip itu. Kitab suci tidak berhenti sebagai teks, melainkan menjadi tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Kisah Musa dan Harun, Dakwah Lembut di Hadapan Penguasa Zalim
Yahya memahami agama bukan sebagai hafalan hukum, tetapi sebagai tanggung jawab moral. Ia meneladani roh ajaran Taurat, sebagaimana dirumuskan Hillel bahwa inti agama adalah menolak menyakiti sesama manusia. Selebihnya hanyalah penjelasan.
Dari kesadaran itu, Yahya tampil sebagai figur moral publik. Ia menyerukan pertobatan, memandikan para pendosa di Sungai Yordan sebagai simbol penyucian diri.
Dari sinilah ia dikenal sebagai Yahya Pembaptis. Sebuah sikap religius yang tegas, tetapi tidak brutal.
Bagi Yahya, dosa tidak bisa dihapus tanpa penyesalan. Kebenaran harus disuarakan, meski berisiko.
Baca juga: Kisah Nabi Syu’aib dan Bangsa Madyan, Ketika Kecurangan Menjadi Budaya
Keberanian moral itu membawa Yahya ke jalur berbahaya. Pada masa itu, kekuasaan berada di tangan Raja Hirodus, penguasa zalim yang hendak menikahi kerabat dekatnya sendiri. Yahya menentang rencana itu secara terbuka karena bertentangan dengan hukum Musa.
Fatwa itu mengguncang istana. Hirodia, perempuan yang hendak dinikahi, murka. Kekuasaan pun menunjukkan wajah aslinya.
Yahya ditangkap dan dibunuh secara keji. Sebuah akhir tragis bagi seorang nabi yang menolak berkompromi dengan kebatilan.
Namun sejarah mencatatnya bukan sebagai kekalahan, melainkan sebagai syuhadah, kesaksian iman yang paling tinggi.
Baca juga: Kisah Nabi Musa AS Menurut Al Quran yang Penuh Hikmah
Yahya wafat, tetapi namanya hidup. Ia menjadi simbol bahwa iman sejati sering kali menuntut harga yang mahal.
Ia syahid bukan hanya karena dibunuh, melainkan karena seluruh hidupnya diabdikan untuk menegakkan nilai.
Di tengah dunia yang kian dikuasai oleh uang, hasrat, dan kompromi moral, kisah Yahya terasa relevan.
Ia melawan nafsu kekuasaan di zamannya, sebagaimana manusia modern ditantang melawan penyembahan terhadap materi.
Baca juga: Abu Jahal: Musuh Nabi yang Sadar Kebenaran, tapi Menolaknya
Ayahnya, Zakaria, mengajarkan kesabaran dan doa. Saudaranya, Isa, mengajarkan cinta kasih. Yahya mempersatukan semuanya dalam tindakan.
Ia membuktikan bahwa iman bukan sekadar keyakinan batin, melainkan keberanian bertindak, bahkan ketika nyawa menjadi taruhannya.
Kisah Yahya mengingatkan bahwa hidup tidak diukur dari panjangnya usia, melainkan dari keberanian menjaga nilai hingga akhir. Sebuah teladan sunyi, tetapi menggema sepanjang zaman.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang