KOMPAS.com - Setiap memasuki bulan suci Ramadhan, umat Islam kerap mendengar sabda Rasulullah SAW tentang dibukanya pintu surga, ditutupnya pintu neraka, dan dibelenggunya setan-setan.
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dan menjadi rujukan utama dalam pembahasan keutamaan Ramadhan.
Dalam riwayat Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:
"Jika bulan Ramadhan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu." (HR Muslim no. 1079).
Namun, realitas sosial menunjukkan paradoks. Di tengah suasana Ramadhan, masih ditemukan praktik kemaksiatan, perilaku konsumtif berlebihan, pertengkaran, hingga pelanggaran moral di ruang digital.
Fenomena ini kemudian melahirkan pertanyaan kritis, jika setan benar-benar dibelenggu, mengapa manusia masih berbuat dosa?
Secara bahasa, kata shuffidat berasal dari akar kata shaffada yang berarti mengikat atau membelenggu dengan rantai. Namun, para ulama tidak serta-merta memaknainya secara literal.
Syekh Badruddin Al-‘Aini dalam kitab ‘Umdatul Qari Syarah Shahih al-Bukhari menjelaskan bahwa makna pembelengguan setan dapat dipahami sebagai pembatasan ruang gerak mereka dalam menggoda orang-orang yang menjalankan puasa dengan benar.
Artinya, pengaruh setan menjadi lemah ketika seorang Muslim menjaga puasa secara lahir dan batin.
Pandangan ini sejalan dengan penjelasan Al-Halimi yang menyebutkan bahwa di bulan Ramadhan, setan tidak seleluasa bulan lain karena manusia sibuk beribadah, membaca Al-Qur’an, memperbanyak dzikir, dan menjaga diri dari syahwat.
Dengan demikian, “dibelenggu” bukan berarti setan hilang sepenuhnya, melainkan pengaruhnya dibatasi oleh atmosfer spiritual Ramadhan.
Baca juga: Ramadhan Berapa Hari Lagi? Cek Hitung Mundur Ramadhan 2026 dan Persiapannya
Para ulama juga menegaskan bahwa sumber keburukan manusia tidak hanya berasal dari setan jin.
Dalam kitab Kasyful Musykil min Haditsis Shahihain, Ibnu Al-Jauzi menjelaskan bahwa dalam diri manusia terdapat faktor internal berupa nafsu, kebiasaan buruk, dan dorongan ego yang tetap aktif meskipun setan dibelenggu.
Nafsu amarah dan syahwat, jika tidak dikendalikan dapat mendorong seseorang pada perbuatan maksiat tanpa harus menunggu godaan eksternal.
Hal ini menjelaskan mengapa sebagian orang tetap terjerumus dalam dosa meskipun berada di bulan Ramadhan.
Selain itu, terdapat pula konsep “setan manusia”, sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an Surah Al-An’am ayat 112, yaitu orang yang menyebarkan keburukan, provokasi, dan pengaruh negatif dalam lingkungan sosial.
Ulama besar Andalusia, Abu ‘Umar Al-Qurthubi, memberikan pendekatan majazi (kiasan) terhadap hadits ini.
Dalam kitab Al-Istidzkar, ia menjelaskan bahwa pembelengguan setan bermakna perlindungan ilahi bagi orang-orang beriman yang bersungguh-sungguh menjalankan ibadah Ramadhan.
Artinya, Allah memberikan kekuatan spiritual tambahan kepada hamba-Nya yang berpuasa dengan benar sehingga godaan maksiat dapat ditekan. Dengan kata lain, efek “belenggu” setan sangat bergantung pada kualitas ibadah seseorang.
Hal ini sejalan dengan kaidah dalam tasawuf yang dijelaskan Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, bahwa puasa sejati bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan menahan seluruh anggota tubuh dari dosa.
Fenomena maksiat di bulan Ramadhan dapat dipahami dari beberapa aspek. Pertama, tidak semua orang menjalankan puasa dengan kesadaran spiritual.
Puasa yang hanya bersifat ritual formal tanpa pengendalian diri tidak memberikan efek penguatan iman.
Kedua, budaya permisif dan arus digital mempercepat penyebaran konten negatif yang memicu syahwat dan emosi.
Ketiga, lemahnya kontrol diri dan rendahnya literasi keislaman menyebabkan Ramadhan hanya dimaknai sebagai tradisi, bukan momentum transformasi moral.
Dalam konteks ini, Ramadhan sejatinya bukan jaminan otomatis kesalehan, tetapi peluang emas untuk membangun disiplin spiritual.
Para ulama sepakat bahwa makna terdalam dari hadits pembelengguan setan adalah dorongan agar umat Islam lebih fokus melawan musuh utama dalam diri, yakni hawa nafsu.
Syekh Yusuf Al-Qaradawi dalam buku Fiqh Ash-Shiyam menjelaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk karakter takwa, yaitu kemampuan mengendalikan dorongan destruktif dan memperkuat kesadaran moral.
Dengan demikian, Ramadhan bukan hanya bulan menahan diri dari makan dan minum, melainkan fase latihan spiritual untuk membangun kontrol diri, etika sosial, dan kesalehan pribadi.
Baca juga: Warga Indonesia, Simak Aturan Baru Ramadhan di Arab Saudi
Hadits tentang dibelenggunya setan tidak boleh dipahami sebagai penghapusan tanggung jawab manusia atas perilakunya.
Justru sebaliknya, Ramadhan menghadirkan lingkungan spiritual yang kondusif agar manusia lebih mudah memilih jalan kebaikan.
Ketika maksiat masih terjadi, itu menjadi cermin bahwa tantangan terbesar bukan hanya setan, melainkan nafsu, kebiasaan buruk, dan lemahnya kesadaran iman.
Oleh karena itu, Ramadhan seharusnya dimaknai sebagai momentum perbaikan diri. Semakin seseorang menjaga adab puasa, memperbanyak ibadah, dan mengendalikan hawa nafsu, semakin nyata pula “belenggu” setan itu bekerja dalam kehidupannya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang