KOMPAS.com - Di antara kisah rumah tangga Rasulullah SAW, ada satu cerita yang kerap menarik perhatian pembaca lintas generasi, kecemburuan Aisyah RA kepada Khadijah RA.
Bukan karena perselisihan langsung, bukan pula karena perebutan perhatian yang kasat mata. Kecemburuan itu tumbuh kepada seorang perempuan yang telah wafat bertahun-tahun sebelum Aisyah RA memasuki kehidupan Rasulullah SAW.
Namun justru di situlah letak keunikannya. Dari kisah ini, tampak jelas bagaimana cinta, kesetiaan, dan kejujuran emosi hidup berdampingan dalam keluarga Nabi.
Dalam buku Aisyah Ummul Mukminin karya Abdurrahman Umairah, dijelaskan bahwa Aisyah RA bukan hanya istri termuda Rasulullah SAW, tetapi juga istri yang paling banyak berinteraksi secara personal dengan beliau.
Aisyah tumbuh dalam lingkungan rumah tangga Nabi, menyaksikan langsung wahyu turun, dan menjadi pendamping Rasulullah SAW dalam banyak peristiwa penting.
Kedekatan ini membentuk ikatan emosional yang kuat. Rasulullah SAW sering berdialog dengan Aisyah, bercanda, bahkan berlomba lari dengannya.
Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim, ketika Rasulullah SAW ditanya tentang siapa orang yang paling beliau cintai, beliau menjawab, “Aisyah.”
Jawaban ini memperlihatkan betapa Aisyah RA memiliki posisi istimewa. Namun, justru karena kedekatan itulah, rasa cemburu Aisyah menjadi sangat manusiawi ketika ia merasakan bahwa ada sosok lain yang selalu hadir dalam ingatan Nabi meskipun sosok itu telah tiada.
Baca juga: Aisyah RA: Perjalanan Hidup, Keteladanan, dan Warisannya
Khadijah RA bukan sekadar istri pertama. Dalam buku Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, disebutkan bahwa Khadijah adalah orang pertama yang membenarkan kerasulan Muhammad SAW ketika wahyu pertama turun di Gua Hira.
Di saat Rasulullah pulang dengan tubuh gemetar dan hati penuh ketakutan, Khadijah-lah yang menenangkan dan menguatkan.
Kesetiaan inilah yang membuat Rasulullah SAW tak pernah melupakan Khadijah RA. Bahkan setelah bertahun-tahun wafat, nama Khadijah masih kerap disebut.
Rasulullah SAW memujinya, mengenang pengorbanannya, dan tetap memuliakan sahabat-sahabat Khadijah.
Dalam buku Al-Mar’ah fil Islam: Antologi Kesetaraan Perempuan dalam Al-Quran karya Abbas Mahmud Al-Aqqad, dijelaskan bahwa Rasulullah SAW memandang Khadijah bukan hanya sebagai istri, tetapi sebagai partner perjuangan dalam fase paling sunyi dan berat dalam dakwah Islam.
Aisyah RA mengakui sendiri bahwa ia tidak pernah cemburu kepada istri-istri Nabi yang lain sebagaimana ia cemburu kepada Khadijah RA.
Padahal, ia tidak pernah melihat wajah Khadijah, tidak pernah berbicara dengannya, dan tidak pernah hidup di masa yang sama.
Kecemburuan itu muncul setiap kali Rasulullah SAW menyebut Khadijah dengan pujian. Dalam riwayat Bukhari, Aisyah RA berkata bahwa Rasulullah SAW sering menyembelih kambing lalu membagikan dagingnya kepada sahabat-sahabat Khadijah.
Tindakan itu mempertegas bahwa Khadijah masih memiliki tempat khusus dalam kehidupan Nabi.
Bagi Aisyah RA, situasi ini menimbulkan perasaan seolah-olah Khadijah selalu hadir dalam rumah tangga mereka.
Dalam salah satu riwayat, Aisyah RA bahkan berkata, “Seakan tidak ada wanita lain di dunia ini selain Khadijah.”
Baca juga: Aisyah: Istri Nabi Muhammad SAW Paling Banyak Meriwayatkan Hadits
Puncak kisah ini terjadi ketika Aisyah RA dalam luapan emosi, menyampaikan kecemburuannya secara langsung.
Dalam hadits riwayat Ahmad, Aisyah RA berkata bahwa Allah telah mengganti Rasulullah SAW dengan istri yang lebih baik daripada Khadijah.
Namun jawaban Rasulullah SAW justru menjadi salah satu potret paling indah tentang kesetiaan seorang suami.
Dengan suara tenang dan penuh keyakinan, Rasulullah SAW menjelaskan keutamaan Khadijah satu per satu, imannya di saat orang lain ingkar, pembenarannya di saat orang lain mendustakan, hartanya di saat orang lain menahan diri, serta keturunan yang Allah anugerahkan hanya melalui Khadijah.
Dalam buku Rumah Tangga Rasulullah karya Syaikh Muhammad Ali Ash-Shabuni, dijelaskan bahwa jawaban Nabi bukanlah bentuk kemarahan, melainkan penegasan nilai. Rasulullah SAW tidak mengabaikan perasaan Aisyah, tetapi juga tidak menafikan jasa Khadijah.
Al Quran sendiri mengakui bahwa cinta dan emosi adalah bagian dari fitrah. Allah SWT berfirman:
Wa ja‘ala bainakum mawaddatan wa rahmah.
“Dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)
Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani menegaskan bahwa kecemburuan Aisyah RA termasuk ghairah yang wajar, karena muncul dari rasa memiliki dan cinta, bukan dari niat menyakiti.
Rasulullah SAW pun membedakan antara cemburu yang diridhai dan yang tercela. Cemburu Aisyah RA tidak berujung pada kezaliman, sehingga dimaklumi dan dihadapi dengan kelembutan.
Baca juga: Inilah Cara Rasulullah Menghidupkan Ramadhan dengan Akhlak Mulia
Kisah kecemburuan Aisyah RA terhadap Khadijah RA tidak berakhir dengan konflik atau luka. Ia justru menjadi pelajaran tentang kejujuran emosi, kesetiaan kepada masa lalu, dan kebijaksanaan dalam menyikapi perasaan pasangan.
Aisyah RA tetap menjadi istri yang paling dicintai Rasulullah SAW di masa hidup beliau. Sementara Khadijah RA tetap menjadi perempuan yang tak tergantikan dalam sejarah perjuangan Islam.
Di antara dua cinta inilah, Rasulullah SAW menunjukkan bahwa keadilan dalam rumah tangga bukan berarti menyamakan segalanya, tetapi menempatkan setiap orang pada porsinya.
Dan dari kisah ini, pembaca diajak menyadari bahwa bahkan dalam keluarga Nabi, cinta tidak pernah kaku, ia hidup, bergetar, dan dipelihara dengan kejujuran serta hikmah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang