KOMPAS.com – Di jantung kota suci Makkah, berdiri megah Masjidil Haram yang hampir tak pernah benar-benar gelap.
Siang dan malam, kawasan ini terus bercahaya, mengiringi jutaan langkah jemaah yang datang dari berbagai penjuru dunia untuk beribadah.
Namun di balik kemegahan itu, tersimpan fakta yang jarang disadari, kebutuhan energi masjid terbesar di dunia ini mencapai angka luar biasa. Bahkan, tagihan listriknya disebut-sebut menembus sekitar Rp 69 miliar per bulan.
Baca juga: MUI Minta Jemaah Haji Doakan RI di Tanah Suci, Ini Pesannya
Sebagai pusat pelaksanaan Haji dan Umrah, Masjidil Haram beroperasi nyaris tanpa jeda. Aktivitas ibadah berlangsung sepanjang waktu, mulai dari tawaf, salat berjamaah, hingga berbagai layanan penunjang bagi jemaah.
Berbeda dengan masjid pada umumnya yang memiliki waktu operasional terbatas, Masjidil Haram justru dirancang sebagai ruang ibadah yang hidup 24 jam.
Konsekuensinya, seluruh sistem pendukung seperti pencahayaan, pendingin udara, hingga teknologi informasi harus terus menyala.
Dalam laporan yang dilansir media internasional seperti Gulf News dan Al Ekhbariya TV, konsumsi listrik di kawasan ini mencapai hampir 100 megavolt ampere (MVA) per hari, angka yang setara dengan kebutuhan listrik sebuah kota kecil.
Baca juga: Lokasi Penitipan Bagasi di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Jemaah Bisa Titip Gratis hingga 4 Jam
Besarnya tagihan listrik Masjidil Haram tidak muncul tanpa alasan. Hampir setiap sudut masjid dipenuhi fasilitas modern yang membutuhkan daya listrik tinggi.
Beberapa di antaranya meliputi:
Tak hanya itu, sistem pendingin udara menjadi penyumbang energi terbesar. Mengingat suhu di Makkah bisa sangat ekstrem, Masjidil Haram dilengkapi sistem AC berkapasitas hingga 155.000 ton.
Pendinginan ini didistribusikan melalui dua stasiun utama, memastikan suhu tetap nyaman bagi jutaan jemaah yang beribadah, terutama saat musim panas dan puncak haji.
Baca juga: Polisi Makkah Tangkap Sindikat Penipuan Haji, Iklan Palsu Beredar di Media Sosial
Modernisasi Masjidil Haram tidak hanya terlihat dari pencahayaan dan pendingin udara. Berbagai fasilitas lain juga turut menopang operasional masjid, antara lain:
Semua ini dirancang untuk memberikan pengalaman ibadah yang aman, nyaman, dan inklusif bagi jemaah dari berbagai latar belakang negara.
Dalam buku Hajj and the Muslim Pilgrimage Experience karya Eric Tagliacozzo, dijelaskan bahwa pengelolaan haji modern telah berkembang menjadi sistem kompleks yang memadukan dimensi spiritual dan teknologi tinggi.
Infrastruktur seperti di Masjidil Haram menjadi contoh nyata bagaimana ibadah massal dikelola secara profesional dan berbasis teknologi.
Konsumsi energi yang besar juga tidak bisa dilepaskan dari proyek perluasan Masjidil Haram yang terus dilakukan dalam beberapa dekade terakhir. Tujuannya adalah menampung lebih dari dua juta jemaah dalam satu waktu.
Lonjakan jumlah pengunjung, terutama saat bulan Ramadan dan musim haji, membuat kebutuhan listrik meningkat drastis. Setiap tambahan area berarti tambahan lampu, pendingin, dan sistem pendukung lainnya.
Dalam perspektif fikih, menjaga kenyamanan dan keselamatan jemaah merupakan bagian dari maqashid syariah (tujuan syariat).
Hal ini sejalan dengan penjelasan dalam kitab Fiqh al-Ibadat karya Wahbah az-Zuhaili, yang menekankan bahwa ibadah tidak hanya berkaitan dengan ritual, tetapi juga dengan aspek kemaslahatan dan perlindungan manusia.
Baca juga: 5.997 Jemaah Haji Indonesia Tiba di Madinah, Hotel Hanya 50 Meter dari Masjid Nabawi
Angka Rp 69 miliar per bulan mungkin terdengar fantastis, namun di balik itu tersimpan tanggung jawab besar. Masjidil Haram bukan sekadar bangunan megah, melainkan pusat spiritual umat Islam dunia.
Setiap lampu yang menyala, setiap hembusan udara sejuk, hingga setiap suara azan yang terdengar jelas, semuanya adalah bagian dari upaya menghadirkan kenyamanan bagi jemaah dalam beribadah.
Di tengah hiruk-pikuk jutaan manusia, Masjidil Haram tetap menjadi ruang yang menghadirkan ketenangan.
Dan mungkin, di balik cahaya yang tak pernah padam itu, ada satu pesan yang tersirat, bahwa ibadah tidak hanya tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga tentang bagaimana fasilitas dan teknologi mendukung kekhusyukan tersebut.
Pada akhirnya, kemegahan energi yang digunakan bukan sekadar angka, melainkan representasi dari pelayanan global bagi umat Islam, sebuah perpaduan antara iman, teknologi, dan manajemen modern yang terus berkembang dari waktu ke waktu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang