Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Mush’ab bin Umair: Pemuda yang Rela Meninggalkan Kemewahan Dunia

Kompas.com, 11 September 2025, 15:24 WIB
Add on Google
Agus Susanto

Penulis

KOMPAS.com - Mush’ab bin Umair adalah seorang pemuda Quraisy yang berasal dari keluarga kaya raya. Ia dilahirkan sekitar tahun 585 Masehi, selisih 14 tahun dari Nabi Muhammad SAW.

Mush'ab bin Umair tumbuh dalam keluarga yang penuh kasih sayang dan kelimpahan harta. Ia menjelma menjadi pemuda yang tampan dan penuh kharisma. Nabi Muhammad SAW pernah memuji penampilan Mush’ab bin Umair.

مَا رَأَيْتُ بِمَكَّةَ أَحَدًا أَحْسَنَ لِمَّةً ، وَلا أَرَقَّ حُلَّةً ، وَلا أَنْعَمَ نِعْمَةً مِنْ مُصْعَبِ بْنِ عُمَيْرٍ

Artinya: “Aku tidak pernah melihat seorang pun di Mekah yang lebih rapi rambutnya, paling bagus pakaiannya, dan paling banyak diberi kenikmatan selain dari Mush’ab bin Umair.” (H.R. Hakim).

Sementara Imam Ibnul Atsir dalam kitab Asadul Ghabah Fi Ma'rifah Al Shahabah mengatakan bahwa Mush’ab bin Umair adalah seorang pemuda yang tampan dan rapi penampilannya.

Sandal Mush’ab adalah sandal Al Hadrami (sandal mewah dari Yaman), pakaiannya merupakan pakaian yang terbaik, dan dia adalah orang Mekkah yang paling harum sehingga semerbak aroma parfumnya meninggalkan jejak di jalan yang ia lewati.

Baca juga: Kisah Masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin Khattab

Masuk Islamnya Mush’ab bin Umair

Di awal dakwah Islam, Nabi Muhammad SAW mengajarkan Islam secara sembunyi-sembunyi di rumah Arqam bin Abil Arqam. Mendengar kabat tersebut, Mush’ab bin Umair tertarik untuk mengikuti pertemuan tersebut.

Begitu duduk di majelis Nabi Muhammad SAW, Mush’ab langsung tersentuh hatinya dan memutuskan memeluk Islam sebagai agamanya. Tentu saja keputusannya ini ia sembunyikan dari orang-orang terdekatnya, terutama ibunya.

Namun berita masuk Islamnya Mush’ab bin Umair akhirnya sampai kepada ibunya. Sang ibu sangat marah dan merasa kecewa dengan keputusan anaknya. Ia kemudian meminta Mush’ab untuk meninggalkan agama barunya.

Tekad Mush’ab sudah bulat. Ia tidak ingin kembali ke masa jahiliyah. Dengan berat hati, sang ibu kemudian mengurung Mush’ab bin Umair selama beberapa waktu. Ia mendapat siksaan fisik dan mental yang berat dari keluarganya.

Ketika kaum Muslimin diperintahkan untuk hijrah ke Habasyah, Mush’ab berusaha untuk melarikan diri dari kurungannya. Ia berhasil melarikan diri dan ikut berhijrah ke Habasyah. Ia bisa hidup dengan damai meski harus meninggalkan semua kemewahan dunianya.

Baca juga: Kisah Sayyidina Hasan bin Ali: Rela Meletakkan Jabatan Demi Perdamaian

Penampilan Mush’ab bin Umair Setelah Masuk Islam

Saat melarikan diri dari keluarganya, penampilan Mush’ab bin Umair berubah drastis. Ia yang dulunya adalah lelaki tampan dengan penampilan mewah dan wangi berubah menjadi seorang lelaki yang kurus dan berpenampilan seadanya.

Penampilan Mush’ab bin Umair setelah masuk Islam digambarkan oleh Saad bin Abi Waqqash yang dikutip dari kitab Siyar Salafus Shaleh oleh Ismail Muhammad Ashbahani. Saad mengatakan bahwa Mush’ab bin Umair dahulu adalah pemuda Mekkah yang paling harum.

Namun ketika mengalami penyiksaan ketika masuk Islam, keadaannya berubah. Kulit Mush’ab menjadi pecah-pecah mengelupas dan berjalan tertatih-tatih sampai-sampai tidak mampu berjalan dan harus dipapah.

Ketika melihat penampilan Mush’ab bin Umair dengan baju kasar dan bertambal, Nabi

Muhammad SAW meneteskan air mata dan bersabda:

كَيْفَ بِكُمْ إِذَا غَدَا أَحَدُكُمْ فِى حُلَّةٍ وَرَاحَ فِى حُلَّةٍ وَوُضِعَتْ بَيْنَ يَدَيْهِ صَحْفَةٌ وَرُفِعَتْ أُخْرَى وَسَتَرْتُمْ بُيُوتَكُمْ كَمَا تُسْتَرُ الْكَعْبَةُ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ خَيْرٌ مِنَّا الْيَوْمَ نَتَفَرَّغُ لِلْعِبَادَةِ وَنُكْفَى الْمُؤْنَةَ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : لأَنْتُمُ الْيَوْمَ خَيْرٌ مِنْكُمْ يَوْمَئِذٍ

Artinya: “Bagaimanakah keadaan kalian pada suatu hari ketika kalian pergi di waktu pagi dengan satu pakaian, dan pergi di waktu petang dengan pakaian yang lain. Dan bila diberikan satu hidangan, diletakkan pula satu hidangan yang lain. Dan kamu menutupi (menghias) rumah kamu sebagaimana kamu memasang kelambu Ka’bah?”

Shahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, tentunya keadaan kami di waktu itu lebih baik dari pada keadaan kami di hari ini. Kami akan memberikan perhatian sepenuhnya kepada masalah ibadah saja dan tidak bersusah payah lagi untuk mencari rezeki.” Lalu Nabi saw bersabda, “Tidak! Keadaan kamu hari ini adalah lebih baik daripada keadaan kamu pada hari tersebut.“ (H.R. At Tirmizi).

Dengan kondisi Mush’ab yang serba memprihatinkan, Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa itu yang lebih baik daripada sebelumnya. Hal ini karena Mush’ab telah memagang tegung ajaran Islam yang lebih baik dari kenikmatan dunia yang pernah dirasakannya.

Baca juga: Kisah Tsabit bin Ibrahim: Tidak Mau Memakan Barang Haram Sedikitpun

Menjadi Duta Dakwah Islam

Ketika Nabi Muhammad SAW mengikat perjanjian dengan penduduk Yatsrib atau Madinah, Nabi Muhammad SAW mengutus Mush’ab bin Umair menjadi duta dakwah pertama ke Madinah. Ia bertugas mempersiapkan penduduk Madinah untuk menerima hijrah kaum Muhajirin Mekkah.

Mush’ab adalah seorang yang cerdas, cerdik, dan penuh wibawa. Meskipun dengan penampilan sederhana, kharismanya tetap tidak luntur. Hal ini digambarkan oleh Barra’ bin Azib ketika Mush’ab bin Umair tiba di Madinah.

رَجُلٌ لَمْ أَرَ مِثْلَهُ كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ الجَنَّةِ

Artinya: “Seorang laki-laki, yang aku belum pernah melihat orang semisal dirinya. Seolah-olah dia adalah laki-laki dari kalangan penduduk surga.”

Kecerdasan Dakwah Mush’ab bin Umair

Suatu hari, Mush’ab kedatangan pemimpin Bani Abdil Asyhal bernama Usaid bin Hudhair. Tujuan awalnya untuk menghardik dan menghalangi dakwah Mush’ab.

“Apa yang kalian bawa kepada kami? Apakah kalian berdua hendak membodoh-bodohkan orang-orang yang lemah diantara kami? Jauhilah kami jika kalian ada keperluan untuk diri kalian,” ujar Usaid.

Dengan bijak, Mush’ab menjawab: “Silahkan duduk agar engkau bisa mendengar apa yang hendak kusampaikan. Jika engkau suka terhadap sebagiannya, maka engkau bisa menerimanya, dan jika engkau tidak menyukainya, maka engkau tidak perlu menerima apa yang tidak engkau sukai.”

“Engkau cukup adil,” ujar Usaid. Ia kemudian menancapkan tombaknya dan mendengarkan apa yang disampaikan Mush’ab. Dengan tenang, Mush’ab menjelaskan Islam dan membacakan ayat-ayat Al Quran.

Usaid tertegun dengan apa yang disampaikan Mush’ab hingga terucap dari mulutnya: “Alangkah bagus dan indahnya hal ini. Apa yang kalian lakukan jika hendak masuk agama ini?”

“Hendaklah engkau mandi, membersihkan pakaian, kemudian memberikan kesaksian yang benar, kemudian shalat dua rakaat,” ujar Mush’ab.

Baca juga: Kisah Pemugaran Kabah dan Peletakan Hajar Aswad

Usaid kemudian melakukan hal tersebut. Setelah itu, Usaid menyarankan Mush’ab untuk menemui Sa’ad bin Muadz: “Dibelakangku ada seorang laki-laki. Jika dia mau mengikuti seruan kalian, maka taka da seorangpun dari kaumnya yang menyalahinya. Saat ini pula aku akan membawa dia dihadapan kalian.”

Saat Sa’ad bin Muadz menemui Mush’ab, hal yang sama disampaikan. Reaksi Sa’ad hampir sama dengan yang diperlihatkan Usaid sebelumnya. Setelah Sa’ad masuk Islam, ia kemudian menemui kaumnya.

“Siapa pun diantara kalian, laki-laki maupun wanita tidak boleh berbicara denganku kecuali jika kalian beriman kepada Allah dan Rasulnya,” ujar Sa’ad kepada kaumnya.

Sampai sore hari, hampir semua penduduk Bani Abdil Asyhal sudah masuk Islam, kecuali Al Ushairim. Meskipun pada akhirnya ia masuk Islam sebelum perang Uhud berkecamuk.

Dakwah Mush’ab bin Umair di Yatsrib sukses besar. Hampir seluruh perkampungan di Yatsrib ada muslim di dalamnya, kecuali Bani Umayyah bin Zaid, Bani Khathmah, dan Bani Wa’il.

Akhir Hidup Mush’ab bin Umair

Mush’ab bin Umair terlibat dalam perang Uhud bersama Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Tugas Mush’ab adalah memegang panji-panji Islam dalam perang tersebut.

Pada awalnya umat Islam unggul dalam perang tersebut. Namun kemudian keadan berbalik ketika pasukan pemanah tidak disiplin dan meninggalkan posnya untuk turut mengambil ghanimah (harta rampasan perang).

Saat itu komandan pasukan Musyrikin Quraisy, Khalid bin Walid yang saat itu belum masuk Islam, berbalik setelah mengetahui keadaan dan melancarkan serangan.

Pasukan umat Islam yang tidak siap dengan serangan tersebut menjadi kocar-kacir atas serangan tak terduga tersebut.

Mush’ab bin Umair yang memegang panji-panji Islam mendapat serangan dari Ibnu Qamiah karena dikira Nabi Muhamamd SAW. Ibnu Qamiah menebas tangan kanan Mush’ab bin Umair, bendera kemudian jatuh.

Mush’ab bin Umair kemudian bangkit dan memegang bendera dengan tangan kirinya. Ibnu Qamiah menebas lengan kiri Mush’ab bin Umair. Namun Mush’ab tetap bangkit dan mendekap panji-panji Islam dengan dadanya.

Mush’ab akhirnya gugur setelah anak panah menembus tubuhnya. Ia gugur sebagai syahid di medan Perang Uhud. Mush’ab bin Umair meninggal pada usia 40 tahun.

Baca juga: Kisah Baiat Aqabah Pertama dan Kedua: Janji Kesetiaan Penduduk Madinah

Setelah perang usai, Nabi Muhammad SAW dan para sahabat mencari jasad kaum Muslimin yang gugur. Nabi Muhammad kemudian mendapati jasad Mush’ab bin Umair dalam kondisi yang sangat menyedihkan.

Nabi Muhammad SAW kemudian berdoa untuk Mush’ab bin Umair dengan membaca salah satu ayat Al Quran.

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

Artinya: “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23).

Kondisi terakhir Mush’ab bin Umair dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Habab bin Arat

مُصْعَبُ بْنُ عُمَيْرٍ قُتِلَ يَوْمَ أُحُدٍ لَمْ يَتْرُكْ إِلَّا نَمِرَةً كُنَّا إِذَا غَطَّيْنَا بِهَا رَأْسَهُ خَرَجَتْ رِجْلَاهُ وَإِذَا غُطِّيَ بِهَا رِجْلَاهُ خَرَجَ رَأْسُهُ فَقَالَ لَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَطُّوا بِهَا رَأْسَهُ وَاجْعَلُوا عَلَى رِجْلِهِ الْإِذْخِرَ أَوْ قَالَ أَلْقُوا عَلَى رِجْلِهِ مِنْ الْإِذْخِرِ

Artinya: “Mush'ab bin 'Umair yang terbunuh pada perang Uhud, dan kami tidak mendapatkan sesuatu untuk mengkafaninya kecuali sepotong kain, jika kami menutup kepalanya, kedua kakinya tersingkap dan jika kami menutup kakinya, kepalanya tersingkap. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tutuplah kepalanya dengan kain dan dan tutuplah kakinya dengan idzkhir (rumput-rumputan berbau harum)." atau beliau mengatakan: "Jadikanlah idzkhir untuk menutupi kakinya." (H.R. Bukhari).

Demikianlah kisah seorang pemuda tampan dan kaya raya yang rela meninggalkan semua kenikmatannya demi keyakinan yang dipeluknya hingga akhirnya gugur sebagai syahid di medan perang Uhud.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Kisah Mbah Marjiyono, Lansia 103 Tahun yang Berangkat Haji: Saya Ingin Beribadah
Kisah Mbah Marjiyono, Lansia 103 Tahun yang Berangkat Haji: Saya Ingin Beribadah
Aktual
Arab Saudi Terapkan Sensor Pintar di Mina, Terhubung dengan Kartu Nusuk Jemaah Haji
Arab Saudi Terapkan Sensor Pintar di Mina, Terhubung dengan Kartu Nusuk Jemaah Haji
Aktual
74.652 Jemaah Haji 2026 Telah Diberangkatkan, Bus Sholawat Layani 24 Jam di Makkah
74.652 Jemaah Haji 2026 Telah Diberangkatkan, Bus Sholawat Layani 24 Jam di Makkah
Aktual
Suhu Mekah Capai 43 Derajat Celsius, Ini Tips Cegah Heatstroke untuk Jemaah Haji
Suhu Mekah Capai 43 Derajat Celsius, Ini Tips Cegah Heatstroke untuk Jemaah Haji
Aktual
Cuaca Ekstrem di Madinah, Suhu Tembus 40°C, Ini Tips Agar Tidak Tumbang
Cuaca Ekstrem di Madinah, Suhu Tembus 40°C, Ini Tips Agar Tidak Tumbang
Aktual
Doa antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, Lengkap dengan Arti dan Keutamaannya
Doa antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, Lengkap dengan Arti dan Keutamaannya
Doa dan Niat
Bolehkah Kurban dengan Cara Berutang? Ini Penjelasan Hukumnya
Bolehkah Kurban dengan Cara Berutang? Ini Penjelasan Hukumnya
Aktual
Jemaah Haji Kini Lebih Sejuk, Teknologi Kabut Canggih Dipasang di Jamarat
Jemaah Haji Kini Lebih Sejuk, Teknologi Kabut Canggih Dipasang di Jamarat
Aktual
Operasi Sepekan, 11.300 Orang Ditangkap karena Masuk ke Arab Saudi Secara Ilegal
Operasi Sepekan, 11.300 Orang Ditangkap karena Masuk ke Arab Saudi Secara Ilegal
Aktual
1.400 Inspeksi Dilakukan, Saudi Perketat Pengawasan Makanan dan Obat Jemaah Haji 2026
1.400 Inspeksi Dilakukan, Saudi Perketat Pengawasan Makanan dan Obat Jemaah Haji 2026
Aktual
Mengenal Arti Seruan Shalat Jenazah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
Mengenal Arti Seruan Shalat Jenazah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
Aktual
Simak Fakta Lebaran Haji, Asal-usul Nama Idul Adha di Indonesia
Simak Fakta Lebaran Haji, Asal-usul Nama Idul Adha di Indonesia
Aktual
Nekat Haji Tanpa Izin, Denda Rp 80 Juta hingga Deportasi Menanti
Nekat Haji Tanpa Izin, Denda Rp 80 Juta hingga Deportasi Menanti
Aktual
Jejak Rasulullah di Muzdalifah, Kisah Masjid al-Mash’ar al-Haram
Jejak Rasulullah di Muzdalifah, Kisah Masjid al-Mash’ar al-Haram
Aktual
Siapa Sahabat di Samping Makam Rasulullah? Ini Kisah Abu Bakar & Umar
Siapa Sahabat di Samping Makam Rasulullah? Ini Kisah Abu Bakar & Umar
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com