Penulis
KOMPAS.com - Dalam Islam, tidur bukan hanya aktivitas biologis dan rutinitas di malam hari, melainkan ibadah yang bernilai pahala jika diawali dengan niat dan amalan yang benar.
Rasulullah SAW mengajarkan umatnya agar menutup hari dengan dzikir, doa, dan kesadaran penuh kepada Allah SWT, karena tidur adalah “kematian kecil” yang bisa saja menjadi penutup usia untuk selamanya.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa malam adalah waktu paling jujur antara hamba dan Tuhannya, termasuk saat menjelang tidur, ketika hati mulai hening dan pikiran berhenti dari hiruk-pikuk dunia.
Baca juga: Shalat Tahajud Tanpa Tidur, Bolehkah? Simak Penjelasannya
Ada beberapa amalan yang diajarkan Rasulullah SAW sebelum seseorang terlelap di alam mimpinya. Berikut rinciannya:
Berwudhu sebelum tidur menjadi amalan pembuka. Berwudhu sebelum tidur menjadi kebiasaan Rasulullah SAW dan diajarkan kepada umatnya.
“Jika engkau hendak tidur, maka berwudulah sebagaimana wudumu untuk sholat.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Para ulama, seperti Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Baari', menjelaskan bahwa wudhu sebelum tidur memiliki hikmah menjaga kesucian lahir dan batin, serta perlindungan dari gangguan setan sepanjang malam.
Amalan kedua sebelum tidur adalah membaca Ayat Kursi. Sebuah hadits dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dijelaskan bahwa ia bertemu dengan seseorang dan menasehatkan agar ia membaca Ayat Kursi sebelum tidur agar tidak diganggu setan dan dilindungi Allah SWT.
Ketika kisah tersebut disampaikan kepada Rasulullah SAW, Beliau menyampaikan bahwa apa yang dikatakan orang tersebut benar meskipun pada dasarnya ia suka berdusta. Sosok tersebut adalah Iblis kata Rasulullah SAW.
Dari hadits ini dapat dipahami bahwa Ayat Kursi akan memberikan perlindungan bagi orang yang membacanya dari gangguan setan sebelum tidur.
Menurut Tafsir Ibnu Katsir, Ayat Kursi mengandung tauhid Rububiyyah dan Uluhiyyah yang menjadi benteng akidah paling kokoh bagi seorang Muslim, termasuk saat jiwa berada dalam kondisi paling lemah—yaitu tidur.
Baca juga: 8 Keutamaan Membaca Doa Sebelum dan Sesudah Tidur Menurut Ajaran Islam
Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas dibaca sebelum tidur dengan cara meniup kedua telapak tangan, membaca ketiga surat tersebut, dan diakhiri dengan mengusapkannya ke seluruh tubuh sebelum tidur.
إذا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ، ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرأَ فِيْهِمَا : (( قُلْ هُوَ اللهُ أحَدٌ ، وَقَلْ أعُوذُ بِرَبِّ الفَلَقِ ، وَقُلْ أعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ )) ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ
Artinya: "Apabila akan tidur, beliau meniup di kedua tangannya, membaca surah mu’awwidzaat (surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas) lalu mengusapkan kedua tangannya pada tubuhnya." (H.R. Bukhari dan Muslim)
Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menyebutkan bahwa tiga surah ini adalah perlindungan ruhani dari bahaya yang tampak maupun tersembunyi, termasuk gangguan jin dan kecemasan batin.
Salah satu dzikir sebelum tidur yang sangat dianjurkan adalah membaca:
إِذَا أَوَيْتُمَا إِلَى فِرَاشِكُمَا، أَوْ أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا، فَكَبِّرَا ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ، وَسَبِّحَا ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ، وَاحْمَدَا ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ
Artinya: "Jika kalian hendak tidur, ucapkanlah takbir 33 kali, tasbih 33 kali, dan tahmid 33 kali." (H.R. Bukhari dan Muslim)
Bacaan takbir dibaca 34 kali untuk menggenapi menjadi seratus.
Dalam kitab Syarh Riyadhus Shalihin, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa dzikir ini bukan hanya pengganti kelelahan fisik, tetapi juga penenang jiwa dan penguat iman, terutama bagi mereka yang lelah menghadapi ujian hidup.
Baca juga: Beberapa Doa Sebelum Tidur Sesuai Sunnah Rasulullah SAW
Amalan selanjutnya yang dibaca sebelum tidur adalah doa sebelum tidur. Ada beberapa versi doa sebelum tidur, namun yang populer adalah doa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.
Arab:
بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَحْيَا وَأموتُ
Latin:
Bismika Allaahumma ahyaa wa amuut.
Artinya:
Dengan menyebut nama-Mu Ya Allah, aku hidup dan aku mati.
Dalam Tuhfatul Ahwadzi, disebutkan bahwa doa ini mengajarkan kepasrahan total kepada Allah SWT, mengingatkan bahwa tidur dan bangun adalah hak prerogatif-Nya.
Rasulullah SAW menganjurkan tidur dengan posisi miring ke kanan, sebagaimana disebutkan dalam banyak hadis sahih.
Lebih dari itu, para ulama seperti Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Zaadul Ma’ad menekankan pentingnya niat sebelum tidur, seperti berniat bangun untuk sholat Subuh atau tahajud, karena niat tersebut sudah bernilai pahala meski seseorang tertidur.
Baca juga: 4 Waktu Terlarang Untuk Tidur dalam Islam
Amalan sebelum tidur bukan ritual berat, melainkan jalan lembut untuk menutup hari dengan iman. Di saat tubuh terlelap, ruh seorang mukmin tetap terhubung dengan Rabb-nya.
Jika pagi masih diberi kehidupan, ia bangun dengan jiwa yang lebih tenang. Jika malam itu adalah akhir, ia menghadap Allah dalam keadaan berdzikir.
Imam Hasan Al-Bashri pernah berpesan, “Siapa yang mengenal Allah, maka tidurnya pun bernilai ibadah.” Maka melakukan amalan sebelum tidur menjadi langkah untuk membuat tidur bernilai ibadah.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang