KOMPAS.com - Rasulullah SAW bukan hanya membawa risalah tauhid, tetapi juga memberikan panduan praktis tentang kehidupan sosial dan keluarga.
Salah satu perhatian Nabi yang kerap dikutip dalam kajian rumah tangga adalah peringatan tentang tabiat tertentu yang dapat merugikan perempuan sendiri di akhirat jika tidak disadari dan diperbaiki.
Peringatan ini bukan bertujuan merendahkan perempuan, melainkan sebagai bentuk kasih sayang agar umat Islam, khususnya kaum perempuan dan para suami, mampu membangun relasi yang sehat, adil, dan penuh empati.
Baca juga: Peringatan Isra Mikraj, Menag: Jika Ada Masalah Rumah Tangga, Jangan Langsung ke Pengadilan
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
Uritun-nāra fa ra’aitu aktsara ahlihā an-nisā’a.
“Aku diperlihatkan neraka, dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah perempuan.”
Ketika para sahabat bertanya tentang sebabnya, Nabi menjelaskan bahwa salah satu di antaranya adalah kebiasaan mengingkari kebaikan suami dan tidak menghargai perlakuan baik yang telah diterima.
Hadis ini sering dipahami secara parsial, padahal para ulama menegaskan bahwa konteksnya berkaitan dengan perilaku tertentu, bukan sifat kodrati perempuan secara keseluruhan.
Dalam buku Kado Pernikahan karya Karim Asy-Syadzili (Insan Kamil), dijelaskan bahwa peringatan Rasulullah SAW harus dibaca sebagai nasihat moral dan psikologis, terutama terkait cara perempuan mengekspresikan perasaan dan cara laki-laki memahami bahasa emosional pasangannya.
Baca juga: Hak dan Kewajiban Suami Istri dalam Islam: Kunci Rumah Tangga Bahagia
Karim Asy-Syadzili menjelaskan bahwa perempuan cenderung menggunakan bahasa kiasan, ungkapan umum, dan simbol emosional dalam menyampaikan keinginan.
Misalnya, ketika seorang istri berkata, “Kamu tidak pernah memperhatikanku,” yang dimaksud sering kali bukan tuduhan mutlak, melainkan permintaan perhatian, kasih sayang, atau waktu bersama.
Fenomena ini juga dibahas dalam literatur psikologi keluarga modern. John Gray dalam bukunya Men Are from Mars, Women Are from Venus menegaskan bahwa perempuan lebih ekspresif secara emosional dan menggunakan bahasa relasi, sementara laki-laki cenderung komunikatif secara langsung dan fungsional. Perbedaan ini, jika tidak dipahami, dapat memicu konflik dan rasa tidak dihargai.
Baca juga: Jin Dasim, Penggoda Rumah Tangga yang Disebut dalam Literatur Islam
Dalam perspektif Islam, komunikasi yang baik merupakan bagian dari akhlak mulia.
Allah SWT berfirman:
Wa qūlū linnāsi ḥusnā.
“Dan ucapkanlah perkataan yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 83)
Ayat ini menjadi dasar penting bahwa cara berbicara dan menyampaikan perasaan harus dijaga agar tidak melukai, baik dalam hubungan sosial maupun rumah tangga.
Salah satu poin yang ditekankan Rasulullah SAW adalah sikap kufr al-‘asyīr, yaitu mengingkari kebaikan pasangan.
Dalam konteks hadis, kebiasaan ini lebih sering muncul dalam bentuk keluhan emosional yang tidak proporsional.
Namun, para ulama menegaskan bahwa perilaku ini tidak eksklusif milik perempuan. Laki-laki pun bisa terjatuh dalam sikap serupa jika mengabaikan kontribusi istri dan meremehkan peran domestik.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa peringatan Nabi bertujuan untuk mengingatkan bahaya sikap tidak bersyukur dalam relasi rumah tangga.
Ketika seseorang terbiasa melihat kekurangan pasangan tanpa menghargai kebaikan yang telah diberikan, maka keharmonisan akan rapuh.
Islam sendiri menempatkan syukur sebagai fondasi kehidupan. Allah SWT berfirman:
La’in syakartum la-azīdannakum.
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)
Dalam konteks keluarga, rasa syukur dapat diwujudkan dengan penghargaan, ucapan terima kasih, dan pengakuan atas usaha pasangan.
Baca juga: Tanggung Jawab Suami-Istri dalam Islam yang Harus Dipahami Muslim
Karim Asy-Syadzili menekankan bahwa suami yang bijak adalah mereka yang memahami karakter emosional istri dan tidak terpancing oleh ungkapan kiasan yang keluar dari lisan pasangannya.
Menurutnya, banyak konflik rumah tangga bermula dari kegagalan suami menangkap pesan di balik kata-kata istri.
Hal ini sejalan dengan pandangan Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Zād al-Ma‘ād, yang menegaskan bahwa Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam memperlakukan istri.
Nabi tidak hanya menafkahi secara materi, tetapi juga memberikan perhatian emosional, mendengarkan keluhan, dan menenangkan perasaan istri-istrinya dengan penuh kelembutan.
Rasulullah SAW bersabda:
Khairukum khairukum li ahlihi.
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini menegaskan bahwa kualitas iman seseorang tercermin dari cara ia memperlakukan pasangan dan keluarga.
Peringatan Rasulullah SAW tentang tabiat tertentu seharusnya menjadi bahan muhasabah bagi perempuan Muslim, bukan sumber rasa takut semata.
Islam mendorong perempuan untuk menjaga lisan, mengelola emosi, dan menumbuhkan rasa syukur dalam rumah tangga.
Dalam buku Fiqhul Islami wa Adillatuhu karya Prof. Wahbah az-Zuhaily, dijelaskan bahwa keharmonisan rumah tangga bertumpu pada dua pilar utama, komunikasi yang sehat dan sikap saling menghargai.
Ketika istri mampu mengekspresikan kebutuhan dengan cara yang baik dan suami mampu merespons dengan empati, maka konflik dapat diminimalkan.
Lebih dari itu, rumah tangga dalam Islam bukan sekadar ikatan biologis, tetapi ruang ibadah. Setiap sikap sabar, setiap kata lembut, dan setiap upaya menjaga perasaan pasangan bernilai pahala di sisi Allah SWT.
Baca juga: Peran Suami dalam Islam: Tanggung Jawab dan Kepemimpinan Keluarga
Peringatan Rasulullah SAW tentang tabiat perempuan bukanlah stigma, melainkan panggilan untuk memperbaiki diri dan memperkuat relasi keluarga.
Pesan utamanya adalah pentingnya kesadaran emosional, komunikasi yang sehat, dan rasa syukur dalam rumah tangga.
Ketika perempuan mampu mengelola ekspresi perasaan dengan bijak, dan laki-laki berusaha memahami bahasa emosional pasangannya, maka pernikahan tidak lagi menjadi ladang konflik, tetapi ruang tumbuh bersama menuju ketenangan jiwa.
Di situlah makna sakinah, mawaddah, dan rahmah menemukan bentuk nyatanya dalam kehidupan sehari-hari.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang