KOMPAS.com - Ramadhan selalu datang membawa harapan baru. Di bulan inilah pahala dilipatgandakan, pintu-pintu ampunan dibuka lebar, dan rahmat Allah mengalir tanpa henti.
Namun, tidak semua orang benar-benar siap menyambutnya. Sebagian hanya menunggu tanggal puasa, tanpa sempat menata batin dan membersihkan hati.
Padahal, para ulama menegaskan bahwa keberhasilan Ramadhan sangat ditentukan oleh kesiapan spiritual sebelum ia datang.
Di sinilah muhasabah mengambil peran penting. Muhasabah bukan sekadar refleksi diri, tetapi proses menyadari kekurangan, memperbaiki arah hidup, serta membangun komitmen baru dalam beribadah.
Ia menjadi “self reminder” agar Ramadhan tidak berlalu sebagai rutinitas tahunan tanpa makna.
Konsep muhasabah bukan sekadar anjuran moral, tetapi perintah langsung dari Allah SWT. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya pada Surah Al-Hasyr ayat 18:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
Yā ayyuhalladzīna āmanuttaqullāha waltandzur nafsum mā qaddamat lighad, wattaqullāh, innallāha khabīrum bimā ta‘malūn.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Ayat ini menunjukkan bahwa setiap mukmin dituntut untuk menilai dirinya sendiri. Menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, muhasabah merupakan sarana untuk menjaga hati agar tetap hidup dan peka terhadap dosa.
Ia menyebut muhasabah sebagai “timbangan amal” yang membuat seorang hamba tidak terjebak dalam kelalaian.
Baca juga: Ramadhan 2026 Bertepatan Musim Hujan, Begini Cara Tetap Khusyuk Puasa
Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan haus. Tanpa persiapan ruhani, ibadah puasa bisa kehilangan makna sejatinya. Rasulullah SAW mengingatkan:
“Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah)
Hadis ini menjadi peringatan bahwa kualitas ibadah tidak otomatis meningkat hanya karena Ramadhan datang.
Muhasabah membantu seseorang menata niat, memperbaiki kebiasaan ibadah, serta mengurangi dosa yang menjadi penghalang keberkahan.
Selain itu, muhasabah juga menjadi pintu taubat. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan penuh iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Namun, ampunan ini akan lebih mudah diraih jika hati telah disiapkan sejak awal. Membersihkan dendam, meninggalkan kebiasaan buruk, dan memperbaiki hubungan sosial menjadi bagian dari muhasabah yang berdampak langsung pada kualitas Ramadhan.
Salah satu tantangan terbesar manusia modern adalah kerasnya hati. Kesibukan, tekanan hidup, dan rutinitas duniawi sering membuat seseorang jauh dari perenungan spiritual. Al-Qur’an mengingatkan dalam Surah Az-Zumar ayat 22:
“Maka celakalah bagi mereka yang hatinya keras dari mengingat Allah.”
Dalam kitab Tazkiyatun Nufus karya Syekh Ahmad Farid dijelaskan bahwa muhasabah adalah sarana untuk melembutkan hati, karena dengannya seseorang belajar jujur pada dirinya sendiri.
Ketika seseorang menyadari kelemahannya, ia akan lebih mudah menerima nasihat, lebih rendah hati, dan lebih terbuka terhadap hidayah.
Baca juga: Amalan Utama di Bulan Ramadhan Beserta Dalilnya
Rasa gelisah yang muncul menjelang Ramadhan sering kali dianggap sebagai kegelisahan biasa.
Padahal, menurut para ulama, kegelisahan spiritual merupakan tanda bahwa Allah sedang memanggil hamba-Nya untuk kembali.
Dalam kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah As-Sakandari disebutkan bahwa kesadaran untuk berubah adalah bentuk rahmat.
Ketika seseorang mulai merasa ingin memperbaiki shalat, ingin meninggalkan maksiat, dan ingin mendekat kepada Allah, itu bukan kebetulan, melainkan undangan ilahi untuk memulai perjalanan taubat.
Ramadhan kemudian hadir sebagai momentum emas. Bagi sebagian orang, ia menjadi awal disiplin ibadah.
Bagi yang lain, ia menjadi titik balik memperbaiki akhlak dan hubungan sosial. Semua berawal dari satu langkah kecil yaitu muhasabah.
Muhasabah tidak harus dilakukan dengan cara rumit. Ia bisa dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti meluangkan waktu sebelum tidur untuk menilai aktivitas harian, mengevaluasi shalat, menjaga lisan, serta mengingat kembali dosa yang perlu segera ditaubati.
Para ulama juga menganjurkan untuk menulis target ibadah Ramadhan, seperti konsistensi shalat berjamaah, tilawah Al-Qur’an, sedekah, dan menjaga adab sosial. Cara ini membantu seseorang lebih fokus dan terarah dalam menjalani ibadah.
Baca juga: Puasa 2026 Berapa Hari Lagi? Ini Perkiraan Awal Ramadhan Menurut Hisab dan Rukyat
Ramadhan bukan sekadar tamu tahunan. Ia adalah kesempatan besar yang belum tentu datang kembali di tahun berikutnya. Karena itu, menyiapkannya dengan muhasabah bukan pilihan, melainkan kebutuhan spiritual.
Ketika hati telah dibersihkan, niat telah diperbaiki, dan tekad telah diperkuat, Ramadhan akan terasa berbeda. Ibadah menjadi lebih khusyuk, doa terasa lebih hidup, dan setiap amal terasa lebih bermakna.
Ramadhan datang bukan hanya untuk mengubah jadwal makan, tetapi untuk memperbarui jiwa, sehingga muhasabah adalah pintu pertama menuju perubahan itu.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang