KOMPAS.com - Gelombang jemaah dari berbagai penjuru dunia memadati Tanah Suci pada bulan Rajab 1447 Hijriah.
Data resmi Otoritas Umum Pengelolaan Dua Masjid Suci mencatat lebih dari 78 juta umat Islam mengunjungi Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah sepanjang Rajab 2026.
Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi juga cerminan kerinduan spiritual umat Islam menjelang Ramadhan.
Lonjakan ini menjadi sinyal kuat bahwa Rajab kembali menjadi momentum persiapan ruhani global.
Dari lantunan talbiyah jemaah umrah hingga doa-doa yang mengalir di Raudhah, Tanah Suci kembali menjadi pusat denyut ibadah umat Islam dunia.
Berdasarkan laporan Saudi Gazette, total pengunjung dua masjid suci mencapai 78.843.425 jemaah selama bulan Rajab.
Dari jumlah tersebut, 14.875.003 jemaah menunaikan ibadah umrah. Masjidil Haram mencatat kunjungan sekitar 34.954.367 jemaah, termasuk puluhan ribu yang melaksanakan shalat di area Hijr Ismail.
Sementara itu, Masjid Nabawi di Madinah menerima 25.074.922 jemaah dengan 1.293.867 jemaah berhasil memasuki Raudhah Al-Sharifah, area yang dikenal sebagai taman surga.
Selain itu, lebih dari 2,5 juta jemaah tercatat menyampaikan salam kepada Rasulullah SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan Umar bin Khattab.
Otoritas Dua Masjid Suci menilai lonjakan ini sebagai bukti keberhasilan sistem pengelolaan jemaah yang semakin modern, terorganisasi, dan berbasis teknologi.
Baca juga: Saudi Tegaskan Aturan Speaker Masjid Saat Ramadhan, Jemaah Perlu Tahu
Rajab dikenal sebagai salah satu bulan haram yang dimuliakan Allah. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
Innâ ‘iddatasy-syuhûri ‘indallâhitsnâ ‘asyara syahran fî kitâbillâh... minhâ arba‘atun hurum
Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah ada dua belas bulan... di antaranya ada empat bulan haram.” (QS At-Taubah: 36)
Para ulama menjelaskan bahwa Rajab merupakan pintu awal untuk membangun kesiapan ibadah sebelum memasuki Sya’ban dan Ramadhan.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitab Lathaif al-Ma’arif menyebut Rajab sebagai bulan menanam, Sya’ban bulan menyiram, dan Ramadhan bulan memanen amal.
Lonjakan jemaah Rajab 2026 menunjukkan bahwa kesadaran spiritual ini semakin hidup di tengah umat Islam global.
Masjidil Haram dan Masjid Nabawi memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Allah SWT berfirman:
Subhânalladzî asrâ bi‘abdihî lailan minal masjidil harâmi ilal masjidil aqshâ
Artinya: “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha.” (QS Al-Isra: 1)
Ayat ini menunjukkan bahwa Masjidil Haram bukan hanya pusat ibadah, tetapi juga titik awal perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW.
Adapun Masjid Nabawi menjadi saksi sejarah dakwah Rasulullah dan tempat peristirahatan beliau.
Dalam buku Haji Umrah Dan Ziarah Menurut Kitab Dan Sunnah karya Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baaz, dijelaskan bahwa berkunjung ke Masjid Nabawi dan menyampaikan salam kepada Nabi merupakan amalan penuh adab dan cinta, bukan sekadar wisata religi.
Baca juga: Warga Indonesia, Simak Aturan Baru Ramadhan di Arab Saudi
Sebagian ulama klasik menyebut keutamaan umrah di bulan Rajab. Dalam kitab Ritual Bid'ah Dalam Setahun karya Abdullah bin Abdul Aziz At-Tuwaijiry dijelaskan bahwa Umar bin Khattab pernah menganjurkan umrah Rajab sebagai bentuk penghidupan bulan mulia.
Ibnu Sirin, seorang tabi’in besar, juga menukil praktik para salaf yang memilih Rajab untuk berumrah agar waktu haji dan umrah tidak bertabrakan.
Ibnu Rajab al-Hanbali turut menyebut Rajab sebagai bulan yang disukai untuk memperbanyak safar ibadah.
Meski tidak ada hadits shahih yang secara khusus menetapkan keutamaan umrah Rajab, para ulama sepakat bahwa memperbanyak ibadah di bulan mulia tetap bernilai besar di sisi Allah.
Lonjakan jemaah Rajab 2026 juga ditopang oleh transformasi layanan Masjidil Haram dan Nabawi.
Sistem pemantauan jemaah berbasis digital, pengaturan pintu masuk otomatis, hingga penjadwalan Raudhah berbasis aplikasi membantu mengurangi kepadatan dan meningkatkan kenyamanan.
Dalam buku Manajemen Pelayanan Jamaah Haji dan Umrah karya Prof. Abdul Karim Zaidan, disebutkan bahwa pengelolaan jemaah merupakan bagian dari amanah syar’i yang harus dijalankan secara profesional, karena menyangkut keselamatan jutaan tamu Allah.
Baca juga: Mengungkap Keistimewaan Malam 27 Rajab bagi Umat Islam
Angka 78 juta bukan sekadar statistik. Ia adalah potret kerinduan manusia kepada rumah Allah.
Di balik data, ada jutaan doa yang dipanjatkan, air mata yang jatuh di hadapan Ka’bah, serta harapan yang disandarkan di Raudhah.
Fenomena Rajab 2026 menjadi pengingat bahwa spiritualitas Islam tetap hidup di tengah dunia modern.
Ketika teknologi berkembang pesat, hati manusia tetap mencari ketenangan di tempat yang sama sejak ribuan tahun lalu, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Dan ketika Ramadhan semakin dekat, Tanah Suci kembali bersiap menyambut gelombang rindu berikutnya yang lebih besar, lebih dalam, dan lebih penuh makna.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang