KOMPAS.com - Memasuki hari ke-20 Ramadan 1447 Hijriah pada Selasa (10/3/2026), suasana menjelang Hari Raya Idul Fitri mulai terasa di berbagai daerah di Indonesia.
Sejumlah masyarakat mulai merencanakan perjalanan mudik, menyiapkan kebutuhan Lebaran, hingga mengatur jadwal libur bersama keluarga.
Pada tahun 2026, masa libur Idul Fitri diperkirakan menjadi cukup panjang. Selain libur nasional dan cuti bersama, pemerintah juga menetapkan kebijakan Work From Anywhere (WFA) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN).
Kebijakan ini diharapkan dapat membantu mengurangi kepadatan mobilitas menjelang arus mudik serta memberikan fleksibilitas kerja.
Berikut penjelasan lengkap mengenai jadwal WFA ASN, libur nasional Lebaran 2026, serta cuti bersama yang telah ditetapkan pemerintah.
Pemerintah melalui Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi menerbitkan Surat Edaran Menteri PANRB Nomor 2 Tahun 2026 tentang penyesuaian pelaksanaan tugas kedinasan bagi ASN pada masa libur nasional dan cuti bersama Hari Suci Nyepi serta Idul Fitri.
Melalui aturan tersebut, ASN diberikan fleksibilitas bekerja dari lokasi mana saja atau Work From Anywhere (WFA) pada beberapa hari tertentu.
Adapun jadwal WFA bagi ASN adalah sebagai berikut:
Kebijakan ini bertujuan untuk mendukung kelancaran mobilitas masyarakat menjelang mudik Lebaran serta meminimalkan kepadatan transportasi.
Selain untuk ASN, pemerintah juga mengimbau perusahaan swasta menerapkan kebijakan serupa.
Imbauan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan Nomor M/2/HK.04/II/2026 mengenai pelaksanaan kerja dari lokasi lain bagi pekerja atau buruh selama periode libur Nyepi dan Idul Fitri.
Dengan adanya fleksibilitas kerja ini, pekerja diharapkan dapat mengatur perjalanan mudik dengan lebih nyaman tanpa harus meninggalkan tanggung jawab pekerjaan.
Baca juga: Libur Lebaran 2026 untuk Sekolah Dimulai 16 Maret, Siswa Masuk Lagi 30 Maret
Jadwal libur nasional dan cuti bersama Lebaran telah ditetapkan pemerintah melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri, yaitu Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, serta Menteri PANRB.
Berdasarkan keputusan tersebut, libur nasional Idul Fitri 1447 Hijriah dijadwalkan pada:
Tanggal tersebut juga selaras dengan kalender Hijriah yang dipublikasikan oleh Kementerian Agama.
Namun demikian, penetapan resmi Hari Raya Idul Fitri tetap menunggu hasil sidang isbat yang digelar pemerintah.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Abu Rokhmad, menjelaskan bahwa sidang isbat untuk menentukan 1 Syawal 1447 Hijriah akan digelar pada 19 Maret 2026, bertepatan dengan 29 Ramadan.
Penentuan awal Syawal dilakukan berdasarkan metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat atau pengamatan hilal yang diverifikasi oleh para ahli.
Sidang ini biasanya melibatkan berbagai pihak, mulai dari ahli astronomi dari BMKG, peneliti dari BRIN, pengelola observatorium dan planetarium, hingga perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam.
Selain libur nasional, pemerintah juga menetapkan tiga hari cuti bersama Idul Fitri. Tanggal tersebut antara lain:
Jika digabungkan dengan libur nasional, masyarakat Indonesia memiliki lima hari masa libur utama selama periode Lebaran 2026.
Bagi sebagian masyarakat, jadwal ini menjadi referensi penting untuk merencanakan waktu mudik maupun kepulangan dari kampung halaman.
Baca juga: Tanggal Berapa Lebaran 2026? Ini Prediksi Muhammadiyah, Pemerintah, dan Potensi Libur Panjangnya
Menariknya, periode libur Lebaran tahun ini berpotensi menjadi lebih panjang karena berdekatan dengan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948.
Dalam kalender nasional 2026, pemerintah menetapkan:
Jika digabungkan dengan kebijakan WFA pada 16–17 Maret, maka sebagian pekerja berpotensi memiliki waktu lebih fleksibel menjelang masa libur panjang.
Situasi ini memungkinkan masyarakat mengatur perjalanan lebih awal sehingga kepadatan arus mudik dapat tersebar dalam beberapa hari.
Sementara itu, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan tanggal Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
Berdasarkan Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025, organisasi tersebut menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
Penetapan ini menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yakni perhitungan astronomi yang memastikan posisi hilal sudah berada di atas ufuk setelah matahari terbenam.
Dalam kajian ilmu falak, metode hisab telah lama digunakan dalam penentuan kalender Islam. Dalam buku Ilmu Falak Praktis karya Susiknan Azhari, dijelaskan bahwa hisab merupakan metode astronomi untuk menghitung posisi bulan secara matematis sehingga dapat memperkirakan awal bulan Hijriah secara akurat.
Namun di Indonesia, pemerintah tetap mengombinasikan metode hisab dengan rukyat atau pengamatan langsung hilal untuk menentukan awal bulan Hijriah secara resmi.
Baca juga: Ganjil Genap di Jakarta Ditiadakan Selama Libur Nyepi dan Idul Fitri 18-24 Maret 2026
Libur Lebaran selalu menjadi momen penting bagi masyarakat Indonesia. Tradisi mudik, silaturahmi, serta berbagai kegiatan keluarga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri.
Dalam buku Tradisi Lebaran di Indonesia karya Haidar Bagir, dijelaskan bahwa Lebaran bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga fenomena sosial yang memperkuat hubungan keluarga dan solidaritas masyarakat.
Karena itu, penyesuaian jadwal kerja seperti WFA dan cuti bersama diharapkan dapat memberi ruang bagi masyarakat untuk menjalani tradisi tersebut tanpa mengganggu aktivitas pekerjaan.
Dengan jadwal libur, cuti bersama, serta kebijakan kerja fleksibel yang telah diumumkan pemerintah, masyarakat kini dapat mulai merencanakan perjalanan mudik atau liburan Lebaran dengan lebih matang.
Namun, kepastian tanggal Hari Raya Idul Fitri tetap akan diumumkan setelah pemerintah menggelar sidang isbat pada 19 Maret 2026.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang