KOMPAS.com – Di antara nama-nama perempuan mulia dalam sejarah Islam, sosok Ummu Aiman menempati posisi yang sangat istimewa.
Ia bukan sekadar sahabat, melainkan figur yang oleh Nabi Muhammad sendiri disebut sebagai “ibuku setelah ibuku”.
Jejak hidupnya melintasi tiga fase besar, masa jahiliah, era kenabian, hingga awal kekhalifahan.
Dari padang pasir yang gersang hingga medan perang yang penuh risiko, kisahnya menghadirkan potret keteguhan iman, cinta, dan pengorbanan yang jarang disorot.
Ummu Aiman lahir dengan nama Barkah binti Tsa’labah, seorang perempuan keturunan Habasyah (kini Ethiopia).
Ia datang ke Makkah dalam sistem perbudakan Arab pra-Islam, lalu menjadi bagian dari keluarga Bani Hasyim.
Ia berada di rumah Abdullah bin Abdul Muthalib dan kemudian mendampingi Aminah binti Wahab setelah pernikahan.
Dalam berbagai riwayat, Barkah dikenal sebagai sosok setia yang tidak hanya bekerja, tetapi juga menjadi sahabat dekat bagi Aminah.
Menurut Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat al-Kubra, Barkah menjadi saksi berbagai peristiwa penting, termasuk tanda-tanda kelahiran Nabi.
Ia bahkan termasuk orang pertama yang menyambut kelahiran bayi Muhammad, sebuah momen yang kelak mengubah sejarah dunia.
Baca juga: Siapa Safinah? Kisah Budak Persia Jadi Pelayan Setia Rasulullah
Sejak kecil, Nabi Muhammad telah kehilangan ayahnya. Dalam fase inilah peran Ummu Aiman menjadi sangat vital. Ia merawat, menjaga, dan menemani Nabi seperti seorang ibu.
Ketika Nabi berusia enam tahun, ia ikut dalam perjalanan ke Yatsrib bersama Aminah. Namun dalam perjalanan pulang, Aminah wafat.
Dalam kondisi penuh duka, Ummu Aiman membawa pulang Nabi kecil ke Makkah, menjaga keselamatannya.
Setelah itu, pengasuhan beralih kepada Abdul Muthalib, lalu kepada Abu Thalib. Meski demikian, Ummu Aiman tetap menjadi figur yang tak terpisahkan dari kehidupan Nabi.
Dalam Al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah karya Ibnu Hajar disebutkan bahwa Rasulullah sering mengenangnya dengan penuh kasih, bahkan menyebutnya sebagai bagian dari keluarganya yang tersisa.
Ketika Nabi menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, Ummu Aiman dimerdekakan. Namun hubungan mereka tidak berubah justru semakin erat.
Rasulullah memperkenalkannya kepada Khadijah dengan penuh penghormatan. Dalam berbagai riwayat disebutkan beliau berkata, “Dia adalah ibuku setelah ibuku.”
Dorongan Nabi dan Khadijah membuat Ummu Aiman akhirnya menikah dengan Ubaid bin Zaid.
Dari pernikahan ini lahir Aiman, yang kemudian menjadi asal julukan “Ummu Aiman”.
Setelah suaminya wafat, ia kembali hidup dekat dengan Nabi dan keluarganya.
Ketika wahyu pertama turun di Gua Hira, Ummu Aiman termasuk golongan awal yang beriman (as-sabiqunal awwalun). Keimanannya tidak sekadar lisan, tetapi dibuktikan dengan tindakan nyata.
Ia ikut membantu dakwah secara diam-diam, bahkan menembus blokade Quraisy untuk menyampaikan pesan kepada Nabi. Keberaniannya menjadikannya salah satu perempuan tangguh dalam sejarah Islam.
Dalam literatur klasik seperti Nisa’ Haula Rasul karya Muhammad Burhan, disebutkan bahwa ia juga aktif dalam berbagai peristiwa penting, termasuk membantu logistik dan perawatan pasukan.
Baca juga: Jejak Rasulullah di Muzdalifah, Kisah Masjid al-Mash’ar al-Haram
Rasulullah kemudian menganjurkan para sahabat untuk menikahi Ummu Aiman. Zaid bin Haritsah menerima anjuran tersebut.
Dari pernikahan ini lahir Usamah bin Zaid, sosok yang kelak menjadi panglima pasukan Islam di usia muda dan sangat dicintai Rasulullah.
Keluarga ini menjadi simbol keteguhan iman dan pengabdian total kepada Islam.
Peran Ummu Aiman tidak berhenti di ranah domestik. Ia hadir langsung di medan perang, seperti dalam Perang Uhud dan Khaybar.
Dalam Perang Uhud, ketika sebagian pasukan mundur akibat kabar palsu wafatnya Nabi, Ummu Aiman justru maju. Ia memberi minum pasukan, merawat luka, bahkan berani menegur para prajurit yang mundur.
Riwayat dalam Ath-Thabaqat al-Kubra menyebutkan bahwa ia pernah terluka akibat serangan panah. Namun hal itu tidak menghentikan perjuangannya.
Lebih dari itu, ia juga merasakan kehilangan besar, suaminya Zaid gugur di Perang Mu’tah, dan putranya Aiman syahid dalam perjuangan. Semua diterimanya dengan kesabaran luar biasa.
Tahun 11 Hijriah menjadi titik paling menyedihkan dalam hidupnya. Nabi Muhammad wafat, meninggalkan duka yang mendalam bagi seluruh umat, termasuk Ummu Aiman.
Dalam riwayat Ibnu Hajar, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab pernah mengunjunginya.
Saat itu, Ummu Aiman menangis tersedu. Ketika ditanya, ia menjawab bahwa ia tidak menangis karena Nabi wafat, melainkan karena wahyu dari langit telah terputus.
Pernyataan ini menunjukkan kedalaman spiritualnya bahwa yang ia rasakan bukan hanya kehilangan pribadi, tetapi juga perubahan besar dalam kehidupan umat.
Selain sebagai saksi sejarah, Ummu Aiman juga menjadi perawi hadis. Riwayatnya tercatat dalam berbagai kitab, seperti Shahih Muslim, Musnad Ahmad, dan Sunan Abu Dawud.
Menurut Imam Suyuthi dalam ad-Durr al-Mantsur, riwayat darinya mencakup berbagai aspek kehidupan Nabi, termasuk urusan rumah tangga dan peristiwa penting.
Keberadaannya dalam sanad hadis menunjukkan bahwa ia bukan hanya pelaku sejarah, tetapi juga penjaga memori kolektif umat Islam.
Baca juga: Siapa Sahabat di Samping Makam Rasulullah? Ini Kisah Abu Bakar & Umar
Menurut Ibnu Katsir, Ummu Aiman wafat beberapa bulan setelah Nabi. Namun riwayat lain menyebut ia hidup hingga masa kekhalifahan Utsman bin Affan.
Artinya, ia benar-benar menjadi saksi tiga zaman:
Kisah Ummu Aiman bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah representasi keteguhan, kesetiaan, dan cinta yang melampaui batas biologis.
Ia bukan ibu kandung Nabi, tetapi kehadirannya mengisi ruang keibuan dalam masa-masa paling krusial kehidupan Rasulullah.
Dalam perspektif Islam, kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh asal-usul, melainkan oleh iman dan amal.
Ummu Aiman menjadi bukti nyata bahwa seorang perempuan, bahkan dari latar belakang perbudakan, dapat mencapai derajat yang sangat tinggi di sisi Allah.
Ummu Aiman adalah potret hidup tentang loyalitas tanpa syarat, iman yang kokoh, dan pengorbanan yang total. Ia bukan hanya “pengasuh Nabi”, tetapi penjaga warisan spiritual yang terus hidup hingga kini.
Di tengah arus sejarah yang terus berubah, kisahnya tetap relevan, mengajarkan bahwa kemuliaan sejati terletak pada hati yang setia, bukan pada status atau rupa.
Dan dari padang pasir yang sunyi itu, jejaknya terus berbicara tentang cinta, iman, dan keteguhan yang tak pernah lekang oleh waktu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang