Penulis
KOMPAS.com - Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah ke-8 Bani Umayyah. Kepemimpinannya yang luar biasa membuatnya disebut sebagai Khalifah Rasyidin kelima. Ia memimpin dengan keadilan dan kebijaksanaan layaknya zaman Khulafaur Rasyidin.
Di bawah kepemimpinanya yang singkat, yaitu dalam rentang waktu kurang dari dua tahun, ia mampu mewujudkan keadilan dan kemakmuran bagi rakyatnya. Sosok khalifah ini kerap disebut sebagai anomali dalam sejarah kekuasaan, karena memilih hidup sederhana dan menempatkan amanah di atas kepentingan elite.
Baca juga: Kisah Utsman bin Affan: Khalifah Dermawan yang Gugur Syahid
Umar bin Abdul Aziz lahir di Hulwan, Mesir, sekitar tahun 61 atau 63 H (681–683 M). Ayahnya, Abdul Aziz bin Marwan adalah gubernur Mesir dari Bani Umayyah. Ibunya, Ummu ‘Ashim binti ‘Ashim, adalah cucu dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.
Sejarawan Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyinggung bahwa garis nasab ini bukan sekadar kebanggaan, melainkan warisan nilai. Dari kakeknya, Umar bin Khattab, mengalir karakter tegas dalam keadilan,zuhud dakam kehidupan, dan takut kepada Allah.
Sejak kecil, Umar tumbuh di lingkungan istana, tetapi jiwanya tidak sepenuhnya larut dalam kemewahan. Menginjak usia belia, Umar bin Abdul Aziz pindah ke Madinah untuk menuntut ilmu. Ia tumbuh dibawah gemblengan ketat dari para gurunya, yaitu generasi Tabi'in seperti Sa’id bin al-Musayyib, Urwah bin Zubair, dan Salim bin Abdullah.
Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A‘lam an-Nubala’ menyebut Umar sebagai sosok yang alim, faqih, dan wara’ bahkan sebelum menjadi pemimpin. Madinah membentuknya menjadi pribadi yang mencintai ilmu, zuhud terhadap dunia, dan sensitif terhadap kezaliman.
Baca juga: Kisah Mush’ab bin Umair: Pemuda yang Rela Meninggalkan Kemewahan Dunia
Sebagai bagian dari keluarga Bani Umayyah, Umar bin Abdul Aziz tak bisa lepas dari karir politik. Di masa pemerintahan Khalifah Al Walid bin Abdul Malik, Umar diangkat menjadi Gubernur Madinah, tepatnya tahun 87 H.
Ia memimpin dengan pendekatan berbeda: mengutamakan musyawarah, mendengar keluhan rakyat, dan membuka pintu kritik. Selama memimpin Madinah, Umar bin Abdul Aziz melakukan rekonsiliasi terhadap penduduk Madinah yang pernah mengalami konflik kekuasaan dengan Dinasti Umayyah.
Dalam Tarikh Ath Thabari dijelaskan bahwa Umar bin Abdul Aziz mengangkat sepuluh tokoh terkemuka di Madinah untuk menjadi Dewan Syura'. Gubernur tidak akan mengambil keputusan tanpa melibatkan Dewan Syura' tersebut.
Hal ini membuat kondusif suasana di Madinah hingga banyak orang berkunjung ke sana, termasuk kelompok Syiah. Perkembangan ini membuat Khalifah Al Walid mencopot Umar bin Abdul Aziz sebagai Gubernur atas hasutan Hajjaj bin Yusuf.
Hajjaj bin Yusuf berdalih maraknya kedatangan kelompok Syiah ke Madinah dapat membahayakan posisi kekhalifahan. Umar bin Abdul Aziz kemudian digantikan oleh Khalid bin Abdullah.
Baca juga: Doa untuk Pemimpin: Amalan Sunyi yang Dampaknya Besar bagi Negeri
Pada tahun 96 H, Kursi kekhalifahan berganti dari Al Walid bin Abdul Malik yang wafat, digantikan saudaranya, Sulaiman bin Abdul Malik. Pada masa kepemimpinan Sulaiman bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi penasehat Sang Khalifah.
Kebijaksanaan dan sifat unggul membuat Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik sangat mempercayai Umar bin Abdul Aziz.
Pada tahun 99 H, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik wafat. Melalui wasiat yang mengejutkan banyak pihak, Umar bin Abdul Aziz ditunjuk sebagai khalifah. Padahal masih ada adik-adiknya dan juga anaknya yang masih muda.
Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat al-Kubra meriwayatkan bahwa Umar menangis ketika baiat disampaikan kepadanya. Kalimat pertamanya sebagai khalifah bukan janji kejayaan, melainkan:
“Aku bukan orang terbaik di antara kalian, tetapi aku dibebani amanah ini.”
Sejak hari itu, arah kekuasaan berubah drastis. Umar bin Abdul Aziz melakukan reformasi besar-besaran dalam sistem pemerintahannya. Ada beberapa langkah yang diambil Umar bin Abdul Aziz, yaitu:
Baca juga: Kisah Umar Bin Khattab, Dari Penentang Menjadi Pembela Islam
Khalifah Umar bin Abdul Aziz pada awalnya hidup dalam kecukupan karena kedudukannya sebagai bagian dari keluarga Bani Umayyah dan sebagai penasehat Khalifah. Namun sejak diangkat menjadi khalifah, semuanya berubah.
Ia mengembalikan seluruh fasilitas negara yang pernah dinikmatinya. Sebagai kendaraan dinas, ia hanya menyisakan keledai yang biasa dikendarainya. Seluruh protokol negara yang menghamburkan uang dihilangkan.
Bahkan untuk keluarganya, ia memberlakukan hidup yang ketat. Satu kisah yang sangat menyentuh adalah ketika anaknya ingin bertemu di malam hari. Umar terlebih dahulu menanyakan apa keperluannya, urusan negara atau pribadi.
Ketika anaknya mengatakan urusan pribadi, maka lentera yang digunakan dimatikannya. Keduanya berbicara dalam gelap.
Baca juga: Biografi Singkat Ali bin Abi Thalib: Antara Kesederhanaan, Keberanian, dan Keteguhan Iman
Pencapaian terbesar Umar bin Abdul Aziz terlihat pada sistem kesejahteraan. Dalam catatan Ibnu Sa‘ad di Thabaqat al-Kubra, disebutkan bahwa para amil zakat di beberapa wilayah kesulitan menemukan penerima zakat. Kondisi rakyat sudah terbebas dari kemiskinan. Rakyat hidup dengan sejahtera.
Dana zakat kemudian dialihkan untuk membebaskan budak, melunasi utang rakyat, dan membantu pernikahan bagi yang tidak mampu.
Gambaran keadilan dan kemakmuran di zaman Umar bin Abdul Aziz sampai membuat serigala tidak mau memangsa domba. Hal ini digambarkan dalam kitab Hikayat Islamiyyah Qablan Naumi lil Atfhal karya Najwa Husain Abdul Aziz.
Seorang ulama melihat bagaimana serigala berbaur dengan domba tetapi tidak memangsanya. Ketika kejadian itu ditanyakan kepada penggembala domba, ia menjawab:
"Wahai saudaraku apa yang tuan lihat itu adalah karamah dan bukti keadilan khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam memimpin”.
Dalam waktu kurang dari dua tahun, keadilan dan kemakmuran yang luar biasa dapat diwujudkan.
Baca juga: Kisah Sumur Raumah: Sedekah Abadi Utsman Bin Affan Hingga Saat Ini
Keadilan dan kesejahteraan yang terwujud selama masa kepemimpinannya ternyata tidak membuat semua orang senang. Ada beberapa pihak, yang sayangnya datang dari keluarga besarnya, yang tidak menyukai kepemimpinnanya.
Eksklusifitas dan semua fasilitas mewah keluarga Besar Bani Umayyah yang telah dilucuti membuat mereka tidak nyaman. Akhirnya, sebuah intrik dilakukan.
Seorang pelayan dikirimkan oleh petinggi Bani Umayyah untuk membunuh Sang Khalifah. Racun dibubuhkan ke dalam makanannya hingga akhirnya Khalifah mulia tersebut menghembuskan nafas terakhirnya.
Ibnu Atsir dalam Al-Kamil fi at-Tarikh, mencatat adanya dugaan Umar bin Abdul Aziz wafat karena diracun, meski tanpa bukti pasti. Mungkin karena ditutupi untuk menghindari gejolak yang terjadi.
Baca juga: Kisah Nabi Sulaiman AS: Pemimpin Bijak dengan Karunia Besar
Umar bin Abdul Aziz mungkin hanya memimpin sebentar, kurang dari dua tahun, tetapi sejarah mencatatnya panjang.
Umar bin Abdul Aziz membuktikan bahwa kekuasaan yang bersih, menjadikan Al Quran dan hadits sebagai pedoman, dan menegakkan keadilan mampu menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat.
Kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz ini relevan menjadi teladan dan bagi penguasa di sepanjang zaman.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang