Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Umar Bin Khattab, Dari Penentang Menjadi Pembela Islam

Kompas.com, 24 Desember 2025, 10:42 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Nama Umar bin Khattab RA dikenal dalam sejarah Islam sebagai simbol ketegasan dan keadilan.

Namun, sebelum menjadi salah satu sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW, Umar justru berada di barisan paling keras menentang Islam.

Ia berasal dari Bani Adi, memiliki kedudukan terpandang di kalangan Quraisy, serta dikenal berwatak tegas dan berani.

Bagi kaum Quraisy, Umar adalah benteng terakhir yang menjaga tradisi lama dari ajaran baru yang dibawa Nabi Muhammad SAW.

Penentangan Umar terhadap Islam bukan sekadar perbedaan keyakinan, melainkan juga kekhawatiran akan runtuhnya tatanan sosial dan kekuasaan Quraisy. Ia melihat Islam sebagai ancaman terhadap kehormatan leluhur dan stabilitas Makkah.

Baca juga: Perjuangan dan Bakti Tanpa Batas kepada Ibu, Kisah Uwais al-Qarni

Perjalanan Umar Bin Khattab Masuk Islam

Dikutip dari buku Umar bin Khattab karya Muhammad Husain Haekal, titik balik hidup Umar terjadi pada satu peristiwa yang kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah dakwah Islam.

Dalam keadaan marah, Umar berangkat dengan niat membunuh Nabi Muhammad SAW. Namun di tengah perjalanan, ia mendapat kabar bahwa adiknya, Fatimah binti Khattab, telah memeluk Islam.

Amarah Umar pun beralih arah. Ia mendatangi rumah adiknya dan mendapati Fatimah serta suaminya sedang membaca ayat-ayat Al-Qur’an.

Pertemuan itu berujung ketegangan, bahkan kekerasan. Namun, ketika Umar melihat darah di wajah adiknya dan mendengar keteguhan imannya, hatinya mulai terguncang.

Umar kemudian meminta untuk membaca lembaran yang berisi Surah Thaha. Ayat-ayat Al-Qur’an itu menyentuh nuraninya.

Kekerasan hatinya perlahan luluh, digantikan kesadaran bahwa ajaran yang dibawakan Nabi Muhammad SAW bukanlah kebohongan.

Dari rumah adiknya, Umar melangkah menuju Darul Arqam dan menyatakan keislamannya di hadapan Rasulullah SAW.

Masuk Islamnya Umar menjadi peristiwa monumental. Kaum Muslimin yang selama ini berdakwah secara sembunyi-sembunyi mulai berani menampakkan diri. Umar menjadi kekuatan baru yang mengubah posisi umat Islam di Makkah.

Baca juga: Syahid yang Berjalan di Bumi, Kisah Pengorbanan Thalhah bin Ubaidillah

Dari Pembela Islam hingga Sahabat Utama Nabi

Setelah memeluk Islam, Umar bin Khattab RA tampil sebagai pembela yang teguh. Ia tidak ragu menyatakan keimanannya secara terbuka, menghadapi tekanan Quraisy dengan keberanian yang sama seperti ketika ia menentang Islam dahulu.

Dalam berbagai peristiwa penting, Umar selalu berada di sisi Nabi Muhammad SAW. Ia turut serta dalam peperangan, musyawarah, dan keputusan-keputusan strategis umat Islam.

Ketegasan Umar sering kali berpadu dengan kepekaan iman, menjadikannya sosok yang disegani kawan maupun lawan.

Rasulullah SAW bahkan menyebut Umar sebagai sosok yang diberi ilham, karena pandangan-pandangannya kerap sejalan dengan wahyu yang kemudian turun.

Hal ini menunjukkan kedalaman pemahaman dan kejernihan nurani Umar setelah memeluk Islam.

Baca juga: Kisah Cinta Al-Fatih Penakluk Konstantinopel, Antara Pernikahan Politik dan Pengabdian pada Islam

Umar Bin Khattab sebagai Pemimpin Umat

Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, Umar bin Khattab dipercaya memimpin umat Islam sebagai khalifah kedua.

Di masa kepemimpinannya, wilayah Islam berkembang pesat, melintasi Jazirah Arab hingga Persia dan Romawi Timur.

Namun, perluasan wilayah itu tidak membuat Umar tenggelam dalam kemegahan. Ia dikenal hidup sederhana, berjalan tanpa pengawal, dan mendengar langsung keluhan rakyatnya.

Umar memandang kepemimpinan sebagai amanah berat yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Keadilan menjadi ciri utama pemerintahannya. Umar tidak segan menegur pejabat yang menyalahgunakan wewenang, bahkan jika mereka adalah kerabat dekat.

Ketegasannya bukan lahir dari kekerasan, melainkan dari rasa takut kepada Allah dan kepedulian terhadap keadilan sosial.

Warisan Keteladanan Umar Bin Khattab

Kisah Umar bin Khattab RA menunjukkan bahwa hidayah Allah dapat mengubah siapa pun, bahkan mereka yang paling keras menentang kebenaran. Dari musuh Islam, Umar menjelma menjadi pelindung dan pemimpin yang dicintai umat.

Perjalanan hidupnya menegaskan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada otot atau kekuasaan, melainkan pada keberanian menerima kebenaran dan konsistensi menjalankannya.

Hingga kini, Umar bin Khattab tetap dikenang sebagai teladan tentang iman, keadilan, dan kepemimpinan yang berakar pada ketakwaan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muktamar Ilmu Pengetahuan IV Dibuka, UIN Sunan Kudus Jadi Pusat Konsolidasi Ilmuwan NU
Muktamar Ilmu Pengetahuan IV Dibuka, UIN Sunan Kudus Jadi Pusat Konsolidasi Ilmuwan NU
Aktual
Al-Quran Fushshilat 34: Redam Benci, Ubah Musuh Jadi Sahabat Sejati
Al-Quran Fushshilat 34: Redam Benci, Ubah Musuh Jadi Sahabat Sejati
Aktual
Surah Asy-Syura Ayat 40: Antara Keadilan Qishash dan Indahnya Pintu Maaf
Surah Asy-Syura Ayat 40: Antara Keadilan Qishash dan Indahnya Pintu Maaf
Aktual
Doa Taubat dan Memohon Ampunan kepada Allah SWT, Lengkap dengan Arab dan Artinya
Doa Taubat dan Memohon Ampunan kepada Allah SWT, Lengkap dengan Arab dan Artinya
Aktual
Hukum Mengirim Stiker Doa di WhatsApp, Apakah Bernilai Ibadah? Ini Penjelasan Ulama
Hukum Mengirim Stiker Doa di WhatsApp, Apakah Bernilai Ibadah? Ini Penjelasan Ulama
Aktual
Tak Bisa Puasa Asyura karena Haid? Muslimah Tetap Bisa Raih Keutamaannya dengan 4 Amalan Ini
Tak Bisa Puasa Asyura karena Haid? Muslimah Tetap Bisa Raih Keutamaannya dengan 4 Amalan Ini
Aktual
Hukum Mengonsumsi Obat Mengandung Alkohol Menurut Islam, Boleh atau Tidak? Ini Penjelasan MUI
Hukum Mengonsumsi Obat Mengandung Alkohol Menurut Islam, Boleh atau Tidak? Ini Penjelasan MUI
Aktual
359 Jamaah Haji Kloter 16 Debarkasi Banjarmasin Tiba di Tanah Air
359 Jamaah Haji Kloter 16 Debarkasi Banjarmasin Tiba di Tanah Air
Aktual
KUA Layani Curhat Warga tentang Masalah Keluarga hingga Luka Batin
KUA Layani Curhat Warga tentang Masalah Keluarga hingga Luka Batin
Aktual
Istighatsah Akbar di Malang: Doa untuk Presiden Prabowo Subianto
Istighatsah Akbar di Malang: Doa untuk Presiden Prabowo Subianto
Aktual
BPKH Buka Rekrutmen Pegawai 2026, Simak 9 Formasi, Syarat, dan Jadwal Pendaftarannya
BPKH Buka Rekrutmen Pegawai 2026, Simak 9 Formasi, Syarat, dan Jadwal Pendaftarannya
Aktual
MUI Fasilitasi KPR untuk Dai dan Guru Ngaji agar Punya Rumah Sendiri
MUI Fasilitasi KPR untuk Dai dan Guru Ngaji agar Punya Rumah Sendiri
Aktual
Kemenhaj Dorong Revisi UU Pengelolaan Keuangan Haji, Dana Dikelola Lebih Transparan
Kemenhaj Dorong Revisi UU Pengelolaan Keuangan Haji, Dana Dikelola Lebih Transparan
Aktual
Kemenhaj Akan Perketat Syarat Kesehatan Haji 2027, Jamaah Berkomorbid Jadi Sorotan
Kemenhaj Akan Perketat Syarat Kesehatan Haji 2027, Jamaah Berkomorbid Jadi Sorotan
Aktual
Indonesia Resmi Kantongi Izin Empty Leg Penerbangan Haji dari Arab Saudi, Apa Dampaknya?
Indonesia Resmi Kantongi Izin Empty Leg Penerbangan Haji dari Arab Saudi, Apa Dampaknya?
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com