Penulis
KOMPAS.com - Ali bin Abi Thalib adalah salah satu sosok agung dalam sejarah Islam. Ia bukan hanya sahabat dekat Rasulullah SAW, tetapi juga sepupu, menantu, serta khalifah keempat yang memimpin umat Islam pada masa paling genting.
Kepemimpinan Ali bin Abi Thalib berlangsung di tengah badai perpecahan internal yang mengguncang persatuan kaum muslimin.
Para sejarawan Islam klasik seperti Imam ath-Thabari, Ibnu Katsir, dan Ibnu Qutaybah sepakat bahwa masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib adalah periode paling berat dalam sejarah Khulafaur Rasyidin. Masa ini diwarnai fitnah, perang saudara, dan konflik politik yang kompleks.
Baca juga: Kisah Utsman bin Affan: Khalifah Dermawan yang Gugur Syahid
Ali bin Abi Thalib lahir di Makkah sekitar tahun 600 M dari keluarga Bani Hasyim, suku terhormat di kalangan Quraisy. Ayahnya, Abu Thalib, adalah paman sekaligus pelindung Nabi Muhammad SAW. Karena kondisi ekonomi keluarga Nabi yang sulit, Ali kecil diasuh langsung oleh Rasulullah SAW sejak usia dini.
Ali bin Abi Thalib adalah anak kecil pertama yang masuk Islam. Ia tumbuh dalam naungan Islam yang kental. Itulah sebabnya keimanan, keberanian, dan pengorbanannya untuk Islam tidak diragukan lagi.
Ali mendapat gelar “Karramallahu Wajhah”, karena ia tidak pernah menyembah berhala sepanjang hidupnya, berbeda dengan kebiasaan masyarakat Arab saat itu.
Dalam kitab Al-Isti’ab fi Ma’rifat al-Ashab karya Ibnu Abd al-Barr, disebutkan bahwa Ali adalah salah satu sahabat yang paling memahami hukum Islam dan sering dipercaya Rasulullah dalam urusan penting, termasuk saat hijrah ke Madinah, di mana Ali dengan berani tidur di ranjang Nabi demi mengecoh kaum Quraisy.
Fatima Az Zahra, putri Rasulullah SAW mulai tumbuh dewasa. Banyak Sahabat yang meminta izin Rasulullah SAW untuk meminangnya. Namun tak satupun yang diterima.
Para Sahabat kemudian membujuk Ali bin Abi Thalib untuk melamar putri Manusia Agung tersebut. Semua Ali tidak punya keberanian karena keterbatasan yang dimiliki. Sampai akhirnya para Sahabat menguatkan.
Maka menikahlah Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah Az-Zahra dalam kesederhanaan yang penuh keberkahan. Mahar pernikahan mereka hanyalah sebuah baju besi milik Ali, sebagaimana dicatat dalam Tarikh ath-Thabari.
Dari pernikahan ini lahir Hasan dan Husain, dua cucu Rasulullah yang kelak dikenal sebagai penghulu pemuda surga, sebagaimana diriwayatkan dalam banyak kitab hadits dan sejarah, termasuk Al-Bidayah wan Nihayah.
Baca juga: Umar bin Abdul Aziz dan Kepemimpinan Singkat yang Menghadirkan Kemakmuran Rakyat
Setelah wafatnya Khalifah Utsman bin Affan secara tragis, umat Islam berada dalam kondisi penuh ketegangan. Fitnah besar (al-fitnah al-kubra) meluas dan kepercayaan antar golongan mulai runtuh.
Mayoritas kaum muslimin di Madinah membaiat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah keempat. Namun, pengangkatannya tidak diterima secara universal. Muawiyah bin Abi Sufyan, gubernur Syam saat itu, menuntut penegakan hukum atas pembunuh Utsman sebelum mengakui kepemimpinan Ali.
Peristiwa ini dijelaskan secara rinci dalam kitab Al-Imamah wa as-Siyasah karya Ibnu Qutaybah, yang menggambarkan betapa sulitnya posisi Ali sebagai pemimpin yang harus menjaga keadilan di tengah tuntutan politik dan emosi umat.
Umat Islam terpecah menjadi tiga golongan, yaitu umat Islam yang mendukung Ali bin Abi Thalib, barisan yang mendukung Muawiyah bin Abi Sufyan, dan kaum yang keluar dari keduanya yang disebut kaum Khawarij.
Perpecahan antar uma Islam mencapai puncak ketika meletus dua perang besar yang menyebabkan ribuan kaum Muslimin gugur di medan perang.
Perang ini terjadi antara pasukan Ali dan pasukan yang dipimpin oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha, Talhah, dan Zubair. Perang ini merupakan tragedi besar pertama umat Islam dan dicatat secara objektif oleh Imam ath-Thabari dalam Tarikhnya.
Pada perang ini, pasukan Ali bin Abi Thalib keluar sebagai pemenang. Tidak seperti perang pada umumnya, tidak ada tawanan perang dalam tragedi ini. Ummul Mukminin Aisyah dan Sahabat mulia Talhah bin Ubaidillah dan Zubair bin awam pun tetap dihormati dan dibebaskan.
Baca juga: Anak-Anak Nabi Muhammad SAW: Inilah Nama dan Kisah Lengkapnya
Perang kedua meledak antara pasukan Ali bin Abi Thalib dengan pasukan Muawiyah bin Abi Sufyan. Konflik ini berujung pada peristiwa tahkim (arbitrase) yang justru memperparah perpecahan dan melahirkan kelompok Khawarij.
Tidak ada solusi penyatuan setelah perang ini terjadi. Dua kubu tetap pada jalannya masing-masing. Ali bin Abi Thalib tetap menjalankan kekuasaan di Kufah, sementara Muawiyah bin Abi Sufyan memimpin di Syam.
Munculnya kaum Khawarij sebagai dampak konflik umat Islam memunculkan barisan sakit hati. Kaum Khawarij menganggap Ali, Muawiyah, dan Amr bin Ash sebagai penyebab perpecahan umat. Mereka merencanakan pembunuhan terhadap ketiganya secara bersamaan.
Dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah disebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib ditikam oleh Abdurrahman bin Muljam saat hendak menunaikan shalat Subuh di Masjid Kufah pada tahun 40 H. Ali wafat dua hari kemudian dalam keadaan syahid.
Sementara dua sasaran pembunuhan lainnya selamat. Amr bin Ash selamat karena sedang sakit dan tidak berangkat ke masjid. Sedangkan Muawiyah bin Abi Sufyan berhasil dilukai tetapi tidak sampai meninggal dunia.
Dengan wafatnya Ali bin Abi Thalib, Muawiyah memproklamirkan diri sebagai khalifah. Meskipun di pihak Ali bin Abi Thalib mengangkat Hasan bin Ali sebagai Khalifah. Pada akhirnya, Hasan bin Ali mengalah demi persatuan umat Islam. Pucuk pimpinan diserahkan ke Muawiyah, itulah awal era Dinasti Umayyah.
Baca juga: Kisah Cinta Ali bin Abi Thalib dan Fatimah yang Penuh Kesabaran
Berikut ini pelajaran berharga dari kehidupan Ali bin Abi Thalib dalam hal kesederhanaan, keberanian, dan keteguhan iman.
Latar belakang keluarga Ali bin Abi Thalib adalah keluarga yang sederhana. Meskipun Ayahnya adalah pemuka Quraisy, tapi termasuk yang hidupnya sederhana, tidak mempunyai banyak harta.
Selama menjalani kehidupan, Ali bin Abi Thalib hidup dalam kesederhanaan. Bajunya bertambal dan pernah menggadaikan barangnya kepada orang Yahudi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Saat hidup berkeluarga, Ali bin Abi Thalib dan sang istri, Fatimah Az Zahra tetap hidup dalam kesederhanaan. Meskipun dari kalangan mulia dan dekat dengan manusia mulia, tidak membuat gengsi untuk hidup sederhana.
Bahkan saat menjadi khalifah, ia tetap hidup dalam kesederhanaan dan menolak kemewahan. Iman yang sudah merasuk ke dalam jiwa tidak memandang kemewahan dan harta benda sebagai sumber kenikmatan.
Keberanian terbesar Ali bin Abi Thalib diperlihatkan saat peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW. Usianya yang masih muda tidak menggentarkannya untuk menggantikan Nabi Muhammad di tempat tidur.
Resiko dari keputusan tersebut adalah nyawa bisa melayang. Namun keberanian itu tumbuh karena keimanan yang luar biasa dan mendapat peneguhan dari manusia paling mulia.
Dalam berbagai pertempuran, Ali bin Abi Thalib juga selalu berada di garda terdepan. Pada perang Badar, ia menjadi tiga jagoan yang diajukan Rasulullah SAW untuk memulai peperangan. Ia pun berhasil mengalahkan musuh dengan mudahnya.
Baca juga: Kisah Tokoh Pemuda Islam Teladan dari Ali bin Abi Thalib hingga Imam Bukhari
Keteguhan iman Ali bin Abi Thalib tak perlu diragukan lagi. Ia adalah manusia paling mulia keempat dan sudah dijamin masuk surga. Orang yang mempunyai kedudukan tersebut tentu adalah orang yang sangat teguh imannya.
Keteguhan iman ini diperlihatkan saat ia menjadi khalifah. Masa kepemimpinannya dipenuhi dengan konflik internal. Namun dengan keteguhan iman, ia dapat melaksanakan tugasnya dengan menjunjung tinggi prinsip keadilan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang