KOMPAS.com - Ibadah malam memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam. Di antara bentuk ibadah tersebut, dua istilah yang sering terdengar adalah tahajud dan qiyamul lail.
Keduanya sama-sama dilakukan pada waktu malam dan bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Namun dalam kajian fikih dan tafsir, terdapat perbedaan makna, cakupan, serta praktik antara keduanya yang perlu dipahami umat Muslim.
Pemahaman yang tepat tidak hanya membantu dalam praktik ibadah, tetapi juga menumbuhkan kesadaran spiritual bahwa malam adalah waktu terbaik untuk bermunajat, bermeditasi spiritual, dan memperkuat hubungan vertikal dengan Sang Pencipta.
Baca juga: Perbedaan Qiyamul Lail, Shalat Tahajud, dan Shalat Malam
Secara bahasa, tahajud berasal dari kata hajada yang berarti bangun dari tidur. Dalam konteks syariat, tahajud merujuk pada shalat malam yang dilakukan setelah seseorang tidur terlebih dahulu.
Dalam kitab Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah jilid 2 halaman 232 disebutkan bahwa tahajud adalah shalat malam yang dilakukan setelah tidur, meskipun tidurnya hanya sebentar. Pendapat ini banyak dianut oleh ulama dari kalangan tabi’in dan fuqaha.
Pendapat ini diperkuat oleh riwayat yang dinukil dari Al-Hajjaj bin ‘Amr Al-Anshari yang menjelaskan bahwa seseorang tidak disebut bertahajud jika hanya shalat malam tanpa tidur terlebih dahulu. Makna “bangun” menjadi unsur utama dalam definisi tahajud.
Dalam Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa Rasulullah SAW biasa tidur terlebih dahulu sebelum melaksanakan shalat malam, lalu bangun di sepertiga malam terakhir untuk melaksanakan tahajud dengan penuh kekhusyukan.
Baca juga: Panduan Lengkap Sholat Tahajud: Keutamaan, Waktu Terbaik, dan Bacaan Doanya
Berbeda dengan tahajud, qiyamul lail memiliki cakupan makna yang lebih luas. Secara bahasa, qiyamul lail berarti menghidupkan malam dengan ibadah.
Dalam praktiknya, qiyamul lail tidak hanya terbatas pada shalat, tetapi mencakup membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, hingga melakukan shalat sunnah lainnya.
Dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi dijelaskan bahwa qiyamul lail mencakup setiap aktivitas ibadah yang dilakukan pada malam hari, baik sebelum tidur maupun setelah bangun tidur.
Artinya, seseorang yang melaksanakan shalat sunnah setelah Isya, membaca Al-Qur’an, lalu tidur, tetap termasuk dalam kategori qiyamul lail.
Waktu pelaksanaan qiyamul lail dimulai setelah shalat Isya hingga terbit fajar. Tidak ada batasan minimal durasi, selama seseorang menghidupkan malam dengan ibadah meskipun hanya dalam waktu singkat.
Baca juga: Panduan Sholat Istikharah untuk Memilih Jodoh: Langkah dan Doa
Secara substansial, tahajud merupakan bagian dari qiyamul lail, tetapi tidak semua qiyamul lail dapat disebut tahajud. Perbedaan paling mendasar terletak pada syarat tidur.
Tahajud mensyaratkan adanya tidur terlebih dahulu sebelum bangun untuk shalat malam. Sedangkan qiyamul lail tidak mensyaratkan hal tersebut dan bisa dilakukan kapan saja pada malam hari setelah Isya.
Selain itu, tahajud secara khusus merujuk pada shalat, sementara qiyamul lail mencakup berbagai bentuk ibadah malam.
Dengan demikian, qiyamul lail memiliki spektrum ibadah yang lebih luas, sedangkan tahajud bersifat lebih spesifik.
Baca juga: Ini Waktu Paling Utama Shalat Tahajud dan Witir Menurut Sunnah Nabi
Al-Qur’an memberikan perhatian besar terhadap ibadah malam sebagai ciri orang-orang yang bertakwa.
Dalam Surah Al-Isra ayat 79, Allah SWT berfirman:
“Dan pada sebagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”
Ayat ini menunjukkan bahwa tahajud memiliki nilai spiritual tinggi karena menjadi sarana peningkatan derajat seorang hamba di sisi Allah.
Dalam Surah As-Sajdah ayat 16 juga disebutkan:
“Lambung mereka jauh dari tempat tidur, mereka berdoa kepada Tuhan mereka dengan rasa takut dan harap.”
Menurut Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini menggambarkan karakter orang beriman yang meninggalkan kenyamanan tidur demi bermunajat kepada Allah pada malam hari.
Baca juga: Panduan Lengkap Sholat Tahajud: Niat, Tata Cara, hingga Doa Panjang Rasulullah SAW
Keutamaan tahajud dan qiyamul lail sangat banyak disebutkan dalam hadis Nabi SAW. Dalam riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa shalat malam adalah sebaik-baik shalat sunnah setelah shalat wajib.
Dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali dijelaskan bahwa ibadah malam memiliki pengaruh besar terhadap kebersihan hati, ketajaman spiritual, dan ketenangan jiwa. Saat malam sunyi, fokus ibadah menjadi lebih kuat karena minim gangguan duniawi.
Secara psikologis, ibadah malam juga melatih disiplin diri, kesabaran, serta kekuatan mental yang berdampak positif pada kehidupan sosial dan spiritual seorang Muslim.
Baca juga: Doa Setelah Sholat Tahajud: Melangitkan Doa Kala Pintu Doa Terbuka
Para ulama sepakat bahwa tahajud memiliki keutamaan khusus karena dilakukan setelah tidur yang menunjukkan pengorbanan fisik dan kesungguhan ibadah. Namun qiyamul lail tetap bernilai besar meskipun dilakukan sebelum tidur.
Dalam konteks kehidupan modern yang penuh kesibukan, umat Islam dianjurkan menyesuaikan kemampuan tanpa meninggalkan semangat menghidupkan malam.
Baik tahajud maupun qiyamul lail sama-sama menjadi sarana meraih kedekatan dengan Allah selama dilakukan dengan ikhlas dan konsisten.
Tahajud dan qiyamul lail merupakan dua ibadah malam yang saling berkaitan, tetapi memiliki perbedaan dari sisi makna dan praktik.
Tahajud lebih khusus karena mensyaratkan tidur terlebih dahulu, sementara qiyamul lail mencakup seluruh aktivitas ibadah malam.
Dengan memahami perbedaan ini, umat Muslim dapat menjalankan ibadah malam secara lebih terarah dan optimal.
Di tengah kesibukan dunia, menghidupkan malam dengan doa, shalat, dan dzikir menjadi jalan spiritual untuk menenangkan jiwa serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang