KOMPAS.com - Menjelang datangnya bulan Ramadhan, umat Islam tidak hanya menyiapkan jadwal sahur dan berbuka.
Ada satu persiapan penting yang kerap luput dari perhatian, yakni menjaga kesucian diri sebelum memulai ibadah puasa.
Di sinilah mandi, khususnya mandi wajib, memiliki peran penting sebagai pintu awal menuju ibadah yang sah dan bermakna.
Dalam Islam, kesucian bukan semata persoalan fisik, tetapi juga spiritual. Mandi sebelum puasa menjadi simbol kesiapan lahir dan batin untuk memasuki bulan suci yang penuh keberkahan.
Pertanyaannya, bagaimana niat mandi yang benar? Apa hukumnya dalam konteks puasa Ramadhan? Dan bagaimana pandangan ulama tentang praktik ini?
Puasa Ramadhan diwajibkan bagi umat Islam sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an:
Yā ayyuhallażīna āmanū kutiba ‘alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba ‘alallażīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menunjukkan bahwa puasa bukan hanya aktivitas menahan diri dari makan dan minum, tetapi proses pembentukan ketakwaan.
Menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah, ketakwaan lahir dari kesadaran spiritual yang dimulai dari kebersihan lahiriah dan batiniah.
Karena itu, mandi sebagai bentuk thaharah atau bersuci menjadi bagian penting dalam mempersiapkan ibadah puasa.
Baca juga: Awal Puasa 2026, Ini Hikmah Puasa Ramadhan Menurut Alquran
Secara fikih, mandi bukan syarat sah puasa. Seseorang yang berpuasa dalam keadaan junub tetap sah puasanya, selama ia berniat puasa sebelum fajar dan tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.
Namun, orang yang berada dalam keadaan hadas besar tetap diwajibkan mandi agar dapat melaksanakan shalat Subuh dan ibadah lainnya.
Dalam kitab Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa Rasulullah SAW pernah memasuki waktu Subuh dalam keadaan junub, lalu mandi dan tetap melanjutkan puasa.
Hal ini menunjukkan bahwa puasa tidak batal karena junub, tetapi mandi tetap menjadi kewajiban untuk menjaga kesucian ibadah.
Karena itu, mandi sebelum puasa Ramadhan lebih dipahami sebagai bentuk kesempurnaan ibadah, bukan sekadar kewajiban teknis.
Niat merupakan fondasi utama dalam setiap ibadah. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
Artinya: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam konteks mandi wajib, niat membedakan antara mandi biasa dengan mandi yang bernilai ibadah.
Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab menjelaskan bahwa niat mandi wajib dilakukan di dalam hati bersamaan dengan aliran air pertama yang membasahi tubuh.
Lafadz niat yang lazim digunakan adalah:
Nawaitu ghusla liraf‘il hadatsil akbari fardhan lillāhi ta‘ālā.
Artinya: “Aku niat mandi untuk menghilangkan hadas besar, fardhu karena Allah Ta’ala.”
Niat ini tidak harus diucapkan dengan lisan, tetapi cukup dihadirkan dalam hati dengan kesadaran penuh bahwa mandi dilakukan untuk mengangkat hadas besar demi menjalankan ibadah.
Baca juga: Puasa Kurang Berapa Hari? Hitung Mundur Ramadhan 2026, Tinggal Berapa Minggu Lagi
Agar mandi sah dan sesuai tuntunan sunnah, terdapat urutan yang dianjurkan. Dalam Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani dijelaskan bahwa Rasulullah SAW memulai mandi dengan langkah-langkah teratur.
Secara ringkas, tata caranya meliputi:
Urutan ini bukan sekadar teknis, tetapi mengajarkan kedisiplinan dan kesungguhan dalam menjaga kesucian diri.
Waktu mandi wajib paling ideal adalah sebelum terbit fajar, agar seseorang dapat memulai puasa dalam keadaan suci dan langsung melaksanakan shalat Subuh.
Namun, jika mandi dilakukan setelah Subuh, puasanya tetap sah selama niat puasa telah dilakukan pada malam hari.
Untuk mandi sunnah, seperti mandi menyambut malam Ramadhan, mandi sebelum tarawih, atau mandi malam ganjil di sepuluh hari terakhir, waktunya lebih fleksibel dan bersifat anjuran spiritual.
Baca juga: Sidang Isbat Puasa 2026 Digelar 17 Februari, Ini Jadwal dan Rangkaian Penentuan Awal Ramadhan 1447 H
Mandi bukan hanya membersihkan tubuh, tetapi juga simbol pembersihan jiwa. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa air dalam ibadah thaharah melambangkan penyucian hati dari sifat sombong, iri, dan lalai.
Dalam konteks Ramadhan, mandi sebelum puasa dapat dimaknai sebagai komitmen untuk memulai bulan suci dengan lembaran baru.
Ia menjadi momen refleksi diri, menata niat, dan mempersiapkan hati agar lebih peka terhadap nilai ibadah.
Niat mandi puasa Ramadhan bukan sekadar formalitas fikih. Ia adalah gerbang awal menuju ibadah yang sah, bersih, dan bermakna.
Dengan memahami tata cara mandi, niat yang benar, serta makna spiritual di baliknya, umat Islam dapat menyambut Ramadhan dengan kesiapan lahir dan batin.
Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang membangun kesadaran diri. Dari niat mandi hingga niat puasa, semua menjadi rangkaian ibadah yang saling terhubung.
Di sanalah letak keindahan Islam, yaitu mengajarkan kebersihan fisik, ketenangan jiwa, dan kedekatan dengan Allah dalam satu kesatuan ibadah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang