Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBNU Instruksikan Shalat Gaib untuk Korban Bencana Alam, Gus Yahya Sampaikan Belasungkawa

Kompas.com, 30 November 2025, 08:37 WIB
Khairina

Penulis

KOMPAS.com-Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menginstruksikan pelaksanaan sholat gaib di seluruh lingkungan NU bagi para korban meninggal akibat rentetan bencana alam di berbagai wilayah Indonesia.

Gus Yahya menyampaikan keprihatinan mendalam atas bencana yang menelan korban jiwa, menyebabkan luka-luka, serta merusak permukiman warga dalam beberapa waktu terakhir.

Ia menegaskan pentingnya solidaritas sosial sekaligus gerakan doa bersama demi keselamatan bangsa di tengah situasi yang terus berkembang.

“Kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada seluruh keluarga korban yang wafat,” ujar Gus Yahya dalam pernyataannya di Jakarta, Sabtu (29/11/2025).

Baca juga: Ajak Selesaikan Konflik PBNU lewat Muktamar, Gus Yahya: Mari Jaga Keutuhan NU

Ia berharap para korban meninggal mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT dan seluruh penyintas memperoleh ketabahan.

“Semoga para almarhum dan almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT,” kata Gus Yahya.

Ia turut mendoakan para korban luka dan para penyintas agar diberikan kekuatan menghadapi masa sulit.

“Untuk para korban luka dan para penyintas, kami doakan kesembuhan, kekuatan, dan ketabahan,” ujarnya.

Baca juga: Saifullah Yusuf Diganti, PBNU Rotasi Sekjen dan Bendahara Umum dalam Rapat Harian Tanfidziyah

Gus Yahya menginstruksikan seluruh struktur NU dari pusat hingga daerah, termasuk badan otonom, lembaga, pesantren, dan jamaah, melaksanakan shalat gaib di wilayah masing-masing.

Ia meminta penyelenggaraan istighatsah dan doa bersama sebagai ikhtiar memohon keselamatan bagi masyarakat Indonesia.

“Ini saatnya kita memperkuat solidaritas kemanusiaan,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa NU harus hadir sebagai kekuatan sosial yang menolong warga dan menjaga semangat persaudaraan di tengah ujian bencana.

“NU harus hadir untuk saling menolong, mengutamakan kepedulian sosial, dan menjaga semangat persaudaraan di tengah masyarakat yang sedang diuji,” kata Gus Yahya.

Baca juga: PWNU Tiga Wilayah Serukan Islah Redakan Dinamika Internal PBNU

Ia mendorong seluruh masyarakat Indonesia memperkokoh gotong royong dan nilai kemanusiaan sebagai modal menghadapi bencana yang tidak dapat diprediksi.

“Semoga Allah SWT melindungi bangsa Indonesia dari berbagai bencana dan memberikan kekuatan kepada masyarakat dalam menghadapi ujian ini,” tutupnya.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com