Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gus Yahya Kawal Napak Tilas Jejak Restu Pendirian NU Bangkalan–Jombang

Kompas.com, 4 Januari 2026, 18:39 WIB
Khairina

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com-Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mengawal langsung rangkaian kegiatan Napak Tilas Jejak Restu Pendirian NU dengan rute Bangkalan–Jombang, Jawa Timur.

Sejak Minggu dini hari, Gus Yahya berada di kompleks Pondok Pesantren Syaichona Moh Cholil, Bangkalan, sebagai titik awal kegiatan tersebut.

Ia mengawali agenda dengan melaksanakan Shalat Subuh berjamaah di Masjid Syaichona Cholil yang dilanjutkan dengan pembacaan tahlil di maqbarah Syaichona Moh Cholil.

Baca juga: Kepengurusan PBNU Kembali ke Awal, Gus Yahya Tetap Ketua Umum

Gus Yahya menegaskan bahwa kegiatan napak tilas memiliki makna spiritual yang mendalam bagi perjalanan Nahdlatul Ulama.

“Napak tilas ini bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi menghadirkan kembali kesadaran bahwa NU berdiri di atas restu para guru dan ulama dengan landasan spiritual yang sangat kuat,” ujar Gus Yahya melalui keterangan resmi di Jakarta, Minggu (4/1/2025), seperti ditulis Antara.

Usai tahlil, Gus Yahya secara resmi melepas keberangkatan KHR Ach Azaim Ibrahimy bersama ribuan peserta longmarch.

Pelepasan tersebut menandai dimulainya perjalanan napak tilas rute bersejarah saat Kiai As’ad Syamsul Arifin menyampaikan isyarat restu dari Syaichona Moh Cholil kepada KH Hasyim Asy’ari.

Gus Yahya menilai perjalanan spiritual tersebut memuat pesan penting bagi arah kepemimpinan NU pada masa kini.

“Yang sedang kita jaga bukan hanya organisasi secara struktural, tetapi amanah rohani yang diwariskan para pendiri NU,” ujar Gus Yahya.

Baca juga: Islah Lirboyo Diperkuat di Surabaya, Gus Yahya: Kita Sudah Kembali pada Kebersamaan

Puncak kegiatan napak tilas dijadwalkan berlangsung di kawasan Pesantren Tebuireng, Jombang.

Agenda tersebut ditandai dengan prosesi penyerahan simbol-simbol sejarah berupa tongkat dan tasbih.

KHR Ach Azaim Ibrahimy selaku dzurriyah Kiai As’ad menyerahkan pusaka tersebut kepada perwakilan dzurriyah KH Hasyim Asy’ari.

Pusaka tersebut kemudian diteruskan kepada Rais Aam PBNU sebelum diserahkan kepada Ketua Umum PBNU.

Panitia penyelenggara menegaskan bahwa estafet simbolik itu menjadi penanda kesinambungan spiritual dalam kepemimpinan Nahdlatul Ulama.

Melalui kegiatan napak tilas ini, PBNU berharap kader NU semakin memahami bahwa kelahiran Nahdlatul Ulama tidak hanya berlandaskan kesepakatan formal.

PBNU menekankan bahwa NU tumbuh dari restu para guru, isyarat spiritual, serta ketulusan para ulama dalam membangun jam’iyah yang berkhidmat bagi umat dan bangsa.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com