Editor
KOMPAS.com-Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mengawal langsung rangkaian kegiatan Napak Tilas Jejak Restu Pendirian NU dengan rute Bangkalan–Jombang, Jawa Timur.
Sejak Minggu dini hari, Gus Yahya berada di kompleks Pondok Pesantren Syaichona Moh Cholil, Bangkalan, sebagai titik awal kegiatan tersebut.
Ia mengawali agenda dengan melaksanakan Shalat Subuh berjamaah di Masjid Syaichona Cholil yang dilanjutkan dengan pembacaan tahlil di maqbarah Syaichona Moh Cholil.
Baca juga: Kepengurusan PBNU Kembali ke Awal, Gus Yahya Tetap Ketua Umum
Gus Yahya menegaskan bahwa kegiatan napak tilas memiliki makna spiritual yang mendalam bagi perjalanan Nahdlatul Ulama.
“Napak tilas ini bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi menghadirkan kembali kesadaran bahwa NU berdiri di atas restu para guru dan ulama dengan landasan spiritual yang sangat kuat,” ujar Gus Yahya melalui keterangan resmi di Jakarta, Minggu (4/1/2025), seperti ditulis Antara.
Usai tahlil, Gus Yahya secara resmi melepas keberangkatan KHR Ach Azaim Ibrahimy bersama ribuan peserta longmarch.
Pelepasan tersebut menandai dimulainya perjalanan napak tilas rute bersejarah saat Kiai As’ad Syamsul Arifin menyampaikan isyarat restu dari Syaichona Moh Cholil kepada KH Hasyim Asy’ari.
Gus Yahya menilai perjalanan spiritual tersebut memuat pesan penting bagi arah kepemimpinan NU pada masa kini.
“Yang sedang kita jaga bukan hanya organisasi secara struktural, tetapi amanah rohani yang diwariskan para pendiri NU,” ujar Gus Yahya.
Baca juga: Islah Lirboyo Diperkuat di Surabaya, Gus Yahya: Kita Sudah Kembali pada Kebersamaan
Puncak kegiatan napak tilas dijadwalkan berlangsung di kawasan Pesantren Tebuireng, Jombang.
Agenda tersebut ditandai dengan prosesi penyerahan simbol-simbol sejarah berupa tongkat dan tasbih.
KHR Ach Azaim Ibrahimy selaku dzurriyah Kiai As’ad menyerahkan pusaka tersebut kepada perwakilan dzurriyah KH Hasyim Asy’ari.
Pusaka tersebut kemudian diteruskan kepada Rais Aam PBNU sebelum diserahkan kepada Ketua Umum PBNU.
Panitia penyelenggara menegaskan bahwa estafet simbolik itu menjadi penanda kesinambungan spiritual dalam kepemimpinan Nahdlatul Ulama.
Melalui kegiatan napak tilas ini, PBNU berharap kader NU semakin memahami bahwa kelahiran Nahdlatul Ulama tidak hanya berlandaskan kesepakatan formal.
PBNU menekankan bahwa NU tumbuh dari restu para guru, isyarat spiritual, serta ketulusan para ulama dalam membangun jam’iyah yang berkhidmat bagi umat dan bangsa.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang