Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Akhir Tragis Kehidupan Abu Lahab, Penentang Utama Dakwah Rasulullah SAW

Kompas.com, 26 November 2025, 16:26 WIB
Agus Susanto

Penulis

KOMPAS.com - Abu Lahab menjadi penentang dakwah Nabi Muhammad SAW paling keras semasa hidupnya. Ia beserta istrinya selalu membuat intrik untuk menghancurkan dakwah keponakannya tersebut.

Kisah Abu Lahab dan istrinya diabadikan dalam Al Quran, yaitu surat Al Lahab. Ini menjadi pelajaran bagi orang beriman bahwa pernah ada orang yang bergitu keras menentang dakwah Nabi Muhammad SAW.

Baca juga: Kisah Uwais Al Qarni: Memperoleh Derajat Tinggi karena Berbakti pada Ibu

Dalam surat Al Lahab, digambarkan bagaimana Abu Lahab dan istri akan mendapat celaka dan siksaan keras di akhirat. Namun tidak hanya di akhirat saja Abu Lahab mengalami celaka. Akhir hidupnya pun sangat tragis.

Untuk memahami akhir hidup Abu Lahab, berikut kisahnya seperti dikutip dari buku Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam.

Tidak Ikut Perang Badar

Perang pertama umat Islam dan kaum kafir Quraisy terjadi pada bulan Ramadhan tahun kedua hijriah. Pada perang tersebut, Abu Lahab tidak turut serta. Ia sedang mengalami sakit saat itu. Ia mengutus Al Ash bin Hisyam untuk menggantikannya.

Tidak turut sertanya Abu Lahab dalam perang Badar tentu menimbulkan kekecewaan. Namun itu merupakan cara Allah untuk menghinakan Abu Lahab. Jika turut perang Badar, bisa jadi ia tewas seperti halnya Abu Jahal dan Umayyah bin Khalaf.

Orang yang mati di medan perang pastinya disebut sebagai pahlawan bagi kaumnya. Ia juga dianggap mati terhormat.

Baca juga: Kisah Umar bin Khattab: Pemimpin Berani dan Adil dalam Sejarah Islam

Jatuh Sakitnya Abu Lahab

Ketika perang Badar usai, Abu Sufyan bin Harits pulang dari medan perang. Abu Lahab kemudian menjumpainya untuk menanyakan kekalahan kaum Musyrikin di perang Badar. Abu Sufyan kemudian menceritakan tentang adanya pasukan dengan pakaian serba putih dan mengendarai kuda belang yang terbang antara langit dan bumi.

Abu Rafi', mantan hamba sahaya Rasulullah yang telah masuk Islam dan menyembunyikan keislamannya mendengar apa yang disampaikan Abu Sufyan. Dengan spontan, ia menyatakan bahwa sosok-sosok tersebut adalah malaikat.

Abu Lahab tak terima dengan pernyataan tersebut dan menyerang Abu Rafi’. Melihat kejadian tersebut, Ummu Fadhl (istri Abbas bin Abdul Muthalib) mengambil sebatang kayu dan memukulkan ke kepala Abu Lahab hingga berlumuran darah.

Baca juga: Kisah Lengkap Nabi Idris AS

Akhir Tragis Kehidupan Abu Lahab

Semenjak terkena pukulan itu, Abu Lahab menderita sakit. Berselang tujuh hari, luka tersebut semakin besar dan membusuk. Ia mengeluarkan bau busuk yang menyengat hingga orang-orang menjauhinya.

Bahkan istri yang selama ini setia juga meninggalkannya bersama anak-anaknya. Abu Lahab mengerang kesakitan sendirian hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Ia mati dalam keadaan terhina dan sendirian.

Demikianlah akhir kehidupan tragis gembong kaum musyrikin Quraisy. Semoga menjadi pelajaran berharga.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com