KOMPAS.com - Sejarah peradaban Islam tidak dapat dilepaskan dari peran institusi kekhalifahan yang selama berabad-abad menjadi motor penggerak perubahan sosial, politik, dan intelektual dunia.
Dari sebuah komunitas kecil di Jazirah Arab, umat Islam berkembang menjadi kekuatan global yang menghubungkan Timur dan Barat, serta meletakkan fondasi penting bagi kemajuan ilmu pengetahuan modern.
Dalam catatan sejarah, kekhalifahan bukan sekadar sistem pemerintahan, melainkan juga wadah pembentukan peradaban.
Baca juga: Kisah Utsman bin Affan: Khalifah Dermawan yang Gugur Syahid
Di bawah kepemimpinan para khalifah, nilai-nilai keadilan, ilmu, dan etika publik dipraktikkan dalam tata kelola negara.
Inilah yang menjadikan masa kejayaan Islam sering disebut sebagai salah satu periode paling produktif dalam sejarah manusia.
Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M, umat Islam menghadapi tantangan besar dalam menjaga persatuan dan keberlanjutan kepemimpinan.
Dari sinilah lahir periode Khulafaur Rasyidin, yang menjadi fondasi politik dan administrasi Islam.
Dalam buku Sejarah Peradaban Islam karya Prof. Dr. Badri Yatim dijelaskan bahwa masa Khulafaur Rasyidin merupakan fase transisi penting, di mana nilai-nilai kenabian diterjemahkan ke dalam sistem pemerintahan yang terstruktur.
Abu Bakar Ash-Shiddiq memulai konsolidasi internal, Umar bin Khattab memperluas wilayah sekaligus membangun sistem administrasi negara, Utsman bin Affan mengukuhkan kodifikasi Al-Qur’an, dan Ali bin Abi Thalib berupaya menjaga stabilitas politik di tengah konflik internal.
Keempat khalifah ini meletakkan dasar etika kepemimpinan yang menekankan amanah, musyawarah, dan tanggung jawab sosial. Prinsip inilah yang menjadi ciri khas awal pemerintahan Islam.
Baca juga: Harun al-Rasyid: Kekuasaan, Ilmu, dan Wajah Ganda Sebuah Peradaban
Perubahan besar terjadi ketika sistem pemerintahan beralih ke bentuk dinasti pada masa Bani Umayyah dengan pusat kekuasaan di Damaskus.
Di era ini, wilayah Islam mengalami ekspansi yang sangat luas. Dari Afrika Utara hingga Semenanjung Iberia di Barat, serta dari Persia hingga Asia Tengah di Timur, kekuasaan Islam membentang melintasi tiga benua.
Dalam buku The Arabs: A History karya Eugene Rogan disebutkan bahwa Dinasti Umayyah berhasil membangun struktur administrasi yang relatif stabil dan memperkenalkan standarisasi bahasa Arab sebagai bahasa resmi negara.
Langkah ini tidak hanya mempermudah birokrasi, tetapi juga memperkuat identitas budaya Islam.
Selain itu, pencetakan mata uang sendiri dan pembangunan infrastruktur publik, seperti masjid dan pusat pemerintahan, menunjukkan bahwa kekhalifahan mulai bertransformasi menjadi negara dengan sistem ekonomi dan politik yang mapan.
Arsitektur monumental seperti Kubah Shakhrah (Dome of the Rock) di Yerusalem menjadi simbol kejayaan sekaligus identitas peradaban Islam.
Baca juga: Doa untuk Pemimpin: Amalan Sunyi yang Dampaknya Besar bagi Negeri
Puncak kemajuan intelektual Islam terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad.
Periode ini sering disebut sebagai The Islamic Golden Age, ketika ilmu pengetahuan berkembang pesat dan melahirkan tokoh-tokoh besar lintas disiplin.
Menurut George Saliba dalam bukunya Islamic Science and the Making of the European Renaissance, kemajuan sains di dunia Islam tidak hanya berfungsi sebagai jembatan penerjemahan ilmu Yunani, tetapi juga menghasilkan inovasi orisinal.
Ilmuwan Muslim mengembangkan metode eksperimental, matematika, kedokteran, astronomi, dan filsafat yang kemudian menjadi rujukan bagi Eropa.
Salah satu institusi penting pada masa ini adalah Baitul Hikmah atau House of Wisdom. Lembaga ini berfungsi sebagai pusat riset, perpustakaan, dan penerjemahan.
Karya-karya ilmiah dari berbagai peradaban diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, lalu dikembangkan lebih lanjut.
Dari sinilah lahir tokoh seperti Al-Khwarizmi yang merumuskan konsep aljabar dan algoritma, Ibnu Sina yang menulis ensiklopedia kedokteran Al-Qanun fi al-Tibb, serta Ibnu Al-Haytham yang meletakkan dasar ilmu optika modern.
Baca juga: Kisah Unik Nabi Idris AS: Nabi Pertama yang Mengajarkan Tulisan dan Peradaban
Kejayaan peradaban Islam tidak hanya terpusat di Timur Tengah. Di Andalusia, Spanyol Muslim menjadi pusat pertemuan budaya dan ilmu pengetahuan.
Kota Cordoba dikenal memiliki perpustakaan besar, universitas, dan fasilitas publik yang jauh melampaui standar Eropa pada masanya.
Dalam buku Al-Andalus: Sejarah Peradaban Islam di Spanyol karya Ahmad Syalabi dijelaskan bahwa masyarakat Andalusia hidup dalam atmosfer intelektual yang terbuka.
Muslim, Yahudi, dan Nasrani dapat berinteraksi dalam ruang akademik, menciptakan iklim toleransi yang produktif.
Sementara itu, di kawasan Anatolia dan Eropa Timur, Kekhalifahan Turki Utsmani tampil sebagai kekuatan politik dan militer utama.
Penaklukan Konstantinopel pada tahun 1453 oleh Sultan Muhammad Al-Fatih menandai perubahan peta geopolitik dunia.
Kota tersebut kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan, kebudayaan, dan diplomasi internasional.
Baca juga: November, MUI Akan Gelar Munas 2025 untuk Tentukan Pemimpin Baru
Jejak kekhalifahan Islam masih terasa hingga hari ini. Konsep universitas, rumah sakit modern, metode ilmiah, hingga sistem administrasi publik banyak terinspirasi dari praktik peradaban Islam klasik.
Dalam buku Lost History: The Enduring Legacy of Muslim Scientists karya Michael H. Morgan, disebutkan bahwa kontribusi ilmuwan Muslim sering kali terlupakan dalam narasi sejarah Barat, padahal peran mereka sangat menentukan dalam membentuk peradaban global.
Dari matematika hingga farmasi, dari astronomi hingga teknik sipil, warisan Islam menjadi fondasi yang menopang kemajuan modern.
Baca juga: Kisah Utsman bin Affan: Khalifah Dermawan yang Gugur Syahid
Mengingat masa kejayaan kekhalifahan Islam bukan sekadar romantisme masa lalu. Sejarah ini menyimpan pelajaran penting tentang bagaimana sebuah peradaban dapat tumbuh melalui sinergi antara iman, ilmu, dan etika sosial.
Ketika keadilan ditegakkan, ilmu dihargai, dan perbedaan dikelola dengan bijak, kemajuan menjadi keniscayaan.
Bagi umat Islam hari ini, refleksi sejarah ini menjadi pengingat bahwa kejayaan bukan diwariskan secara otomatis, melainkan harus dibangun melalui kerja keras, pendidikan, dan komitmen moral.
Dengan semangat tersebut, nilai-nilai luhur peradaban Islam dapat kembali berkontribusi bagi kemanusiaan global di masa depan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang