Penulis
KOMPAS.com - Malam Nisfu Sya’ban merupakan salah satu malam yang memiliki tempat tersendiri dalam tradisi keislaman. Setiap pertengahan bulan Sya’ban, umat Islam di berbagai belahan dunia memperbanyak ibadah, doa, dan istighfar. Namun, tidak jarang muncul perdebatan: apakah amalan malam Nisfu Sya’ban memiliki dasar syariat?
Para ulama sejak generasi salaf hingga khalaf telah membahas malam Nisfu Sya’ban secara mendalam, baik dari sisi hadits, fikih, maupun praktik ibadah. Berikut pembahasan mengenai malam Nisfu Sya'ban dalam tinjauan para Ulama.
Baca juga: Mengapa Nisfu Syaban Baca Yasin 3 Kali? Ini Penjelasannya
Sejumlah hadits menyebutkan keutamaan malam Nisfu Sya’ban. Di antaranya hadits yang diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu:
“Allah melihat seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, lalu Dia mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibnu Hibban)
Keberadaan malam nisfu Sya'ban ini kerap menjadi perdebatan. Namun Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Tabyin Al-‘Ajab menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang Nisfu Sya’ban, jika dikumpulkan, menunjukkan adanya asal keutamaan malam tersebut.
Imam As-Suyuthi dalam Ad-Durar Al-Mantsurah menegaskan bahwa hadits-hadits tentang Nisfu Sya’ban tidak sampai derajat palsu (maudhu’), melainkan berada antara dhaif (lemah) dan hasan lighairihi (hadits dhaif tetapi menjadi hasan karena banyak jalur periwayatannya).
Sementara itu, Imam Ahmad bin Hanbal—sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Latha’if Al-Ma’arif—menerima hadits-hadits fadhail (keutamaan amal) meskipun tidak mencapai derajat shahih, selama tidak berkaitan dengan hukum halal-haram.
Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa menyatakan bahwa malam Nisfu Sya’ban memiliki keutamaan, dan sebagian salaf menghidupkannya dengan ibadah. Namun, beliau mengingatkan agar tidak menjadikannya sebagai perayaan khusus yang menyelisihi tuntunan Nabi SAW.
Pendekatan ini mencerminkan sikap wasathiyah (moderat): mengakui keutamaan, mengamalkan ibadah umum, dan menghindari bid’ah. Oleh karena itu, melakukan amalan-amalan di malam nisfu Sya'ban diperbolehkan selama tidak melakukan amalan yang tidak ada dasarnya.
Baca juga: Kapan Malam Nisfu Syaban 2026? Ini Kalender dan Amalan Utamanya
Inilah beberapa amalan yang dianjurkan untuk dikerjakan di malam nisfu Sya'ban:
Para ulama sepakat bahwa malam Nisfu Sya’ban adalah waktu yang baik untuk berdoa. Imam Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman meriwayatkan atsar dari sebagian tabi’in Syam yang menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan doa dan istighfar.
Ibnu Rajab menegaskan bahwa menghidupkan malam tersebut dengan doa adalah amalan yang dianjurkan, karena sejalan dengan prinsip umum syariat.
Shalat malam termasuk ibadah yang dianjurkan di setiap waktu. Ulama seperti Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ menegaskan bahwa shalat sunnah pada malam Nisfu Sya’ban boleh dilakukan, selama tidak meyakini adanya jumlah rakaat atau bacaan khusus yang tidak berdalil.
Dengan kata lain, shalat malam dilakukan sebagaimana shalat sunnah biasa, bukan dengan ritual yang diada-adakan tanpa dasar.
Dzikir dan membaca Al-Qur’an termasuk amalan yang dianjurkan setiap waktu, terlebih pada malam yang memiliki keutamaan. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menyebut Nisfu Sya’ban sebagai salah satu malam yang dimuliakan oleh banyak ulama salaf.
Meskipun fokus pembahasan adalah malam Nisfu Sya’ban, para ulama mengaitkannya dengan sunnah memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Dalam hadits shahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan bahwa Rasulullah SAW banyak berpuasa di bulan Sya’ban.
Baca juga: Akhir Bulan Rajab Tinggal Hitungan Hari, Ini Jadwal Awal Syaban 1447 H dan Keutamaannya
Sebagian praktik seperti sholat Nisfu Sya’ban dengan jumlah rakaat dan bacaan tertentu disebutkan dalam kitab-kitab belakangan, namun tidak memiliki sanad yang kuat. Amalan tidak berdasar ini tidak dianjutkan untuk dikerjakan.
Imam Ibnul Jauzi dalam Al-Maudhu’at mengkritik hadits-hadits palsu tentang shalat 100 rakaat di malam Nisfu Sya’ban. Karena itu, mayoritas ulama mengingatkan agar umat Islam tidak mengkhususkan ritual tertentu tanpa dalil yang sahih.
Malam Nisfu Sya’ban merupakan momentum spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui doa, istighfar, shalat malam, dan dzikir. Tinjauan para ulama menunjukkan bahwa keutamaan malam ini memiliki dasar, meskipun umat Islam perlu berhati-hati dari praktik yang tidak berdalil.
Dengan memahami Nisfu Sya’ban secara ilmiah dan proporsional, umat Islam dapat menghidupkan malam tersebut dalam koridor sunnah dan tuntunan ulama.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang