KOMPAS.com - Menjelang pertengahan bulan Sya’ban, sebagian umat Islam mulai memperbanyak ibadah malam, membaca Yasin, berdoa, dan memohon ampunan.
Tradisi ini bukan tanpa dasar. Dalam khazanah keislaman klasik, malam Nisfu Sya’ban bahkan disebut sebagai “hari raya para malaikat”.
Sebuah sebutan yang terdengar unik sekaligus memantik rasa ingin tahu mengapa malaikat memiliki “hari raya” dan apa kaitannya dengan pengangkatan amal manusia?
Baca juga: Mengapa Nisfu Syaban Baca Yasin 3 Kali? Ini Penjelasannya
Sya’ban menempati posisi istimewa di antara dua bulan agung, Rajab dan Ramadhan. Meski tidak termasuk empat bulan haram (asyhurul hurum), Rasulullah SAW justru memperbanyak ibadah di bulan ini.
Dalam riwayat An-Nasa’i dan Ahmad, Usamah bin Zaid bertanya mengapa Nabi banyak berpuasa di Sya’ban.
Rasulullah SAW menjawab:
“Itulah bulan yang sering dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Pada bulan itu amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin ketika amalku diangkat, aku sedang berpuasa.”
Hadis ini menunjukkan bahwa Sya’ban memiliki fungsi spiritual penting sebagai momentum evaluasi amal tahunan.
Baca juga: Amalan Malam Nisfu Syaban: Keutamaan, Dalil, dan Panduan Ibadah
Keutamaan lain bulan Sya’ban dikaitkan dengan turunnya perintah bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Allah SWT berfirman dalam Alquran:
Innallāha wa malā'ikatahu yuṣallūna ‘alan-nabī, yā ayyuhallażīna āmanū ṣallū ‘alaihi wa sallimū taslīmā.
Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepada Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS Al-Ahzab: 56)
Menurut sejumlah ulama, ayat ini mempertegas kedudukan Sya’ban sebagai bulan shalawat, karena praktik bershalawat menjadi amalan utama yang dianjurkan menjelang Ramadhan.
Baca juga: Akhir Bulan Rajab Tinggal Hitungan Hari, Ini Jadwal Awal Syaban 1447 H dan Keutamaannya
Malam Nisfu Sya’ban, yang jatuh pada tanggal 15 Sya’ban, dipandang sebagai malam penuh rahmat.
Dalam hadis riwayat Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman, Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila tiba malam Nisfu Sya’ban, maka Allah menyeru: adakah yang memohon ampun, Aku ampuni; adakah yang meminta, Aku kabulkan.”
Hadis ini menjadi landasan kuat bagi umat Islam untuk menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan doa, istighfar, dan shalat malam.
Baca juga: Doa Malam Nisfu Syaban: Bacaan, Keutamaan, dan Cara Mengamalkannya
Dalam kitab Fadlilah al-Muharram wa Rajab wa Sya’ban, karya KH Sholeh Darat Semarang, dijelaskan bahwa Nisfu Sya’ban disebut sebagai hari raya para malaikat karena pada malam inilah malaikat menyampaikan laporan amal manusia kepada Allah SWT dalam skala besar.
KH Sholeh Darat menjelaskan bahwa malaikat tidak mengenal tidur dan waktu istirahat seperti manusia.
Oleh sebab itu, perayaan spiritual mereka terjadi pada malam hari, bukan siang. Sebagaimana manusia memiliki Idul Fitri dan Idul Adha, malaikat memiliki “hari kemuliaan” saat tugas besar mereka yaitu pencatatan dan pelaporan amal hingga mencapai puncaknya.
Pandangan ini juga sejalan dengan konsep dalam hadis tentang pengangkatan amal. Dalam Shahih Muslim diriwayatkan bahwa amal siang diangkat sebelum malam dan amal malam sebelum siang. Namun laporan tahunan yang bersifat luas disebut para ulama terjadi di bulan Sya’ban.
Dalam perspektif teologis, malaikat memiliki peran vital dalam sistem pencatatan amal. Malaikat Raqib dan Atid mencatat seluruh perbuatan manusia, baik kecil maupun besar. Al-Qur’an menegaskan:
“Dan sesungguhnya bagi kalian ada malaikat-malaikat yang mengawasi, yang mulia dan mencatat.” (QS Al-Infithar: 10–11)
Nisfu Sya’ban menjadi momentum simbolik ketika laporan amal tahunan itu “diserahkan”. Karena itulah para malaikat digambarkan sibuk bersujud, berdoa, dan memohonkan ampun bagi umat Nabi Muhammad SAW.
Baca juga: Kapan Malam Nisfu Syaban 1447 H? Ini Jadwal Resmi dari LF PBNU
KH Sholeh Darat mencatat bahwa ulama besar seperti Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan sama-sama menganjurkan umat Islam untuk menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan ibadah. Bentuknya bukan sekadar ritual, melainkan refleksi spiritual menjelang Ramadhan.
Sebagian ulama menganjurkan membaca Surah Yasin tiga kali dengan niat berbeda, memohon panjang umur dalam ketaatan, perlindungan dari musibah, dan rezeki yang berkah. Praktik ini berkembang sebagai bagian dari tradisi keagamaan masyarakat Muslim Indonesia.
Nisfu Sya’ban bukan sekadar malam ritual, melainkan titik refleksi. Jika malaikat sedang “merekap laporan amal”, maka manusia diberi kesempatan memperbaiki catatan hidupnya sebelum Ramadhan tiba.
Dalam konteks ini, Nisfu Sya’ban menjadi jembatan spiritual antara masa lalu dan masa depan: menutup lembaran dosa dengan taubat, sekaligus membuka halaman baru dengan niat ibadah yang lebih serius.
Bagi umat Islam, inilah saat paling tepat untuk memperbanyak istighfar, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan mempersiapkan diri menyambut bulan suci Ramadhan dengan hati yang lebih bersih.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang