KOMPAS.com - Menjelang Ramadhan, umat Islam memasuki bulan Sya’ban—sebuah fase spiritual yang sering disebut sebagai “jembatan menuju Ramadhan”.
Salah satu momentum paling dinanti dalam bulan ini adalah malam Nisfu Syaban, malam pertengahan bulan yang sejak berabad-abad lalu diperlakukan secara istimewa oleh generasi awal umat Islam.
Menariknya, tradisi menghidupkan malam Nisfu Syaban bukan fenomena baru. Catatan sejarah menunjukkan bahwa masyarakat Makkah dan Madinah telah lama menghidupkan malam ini dengan rangkaian ibadah yang intens.
Dari shalat malam, thawaf, hingga khataman Alquran, semua dilakukan sebagai bentuk persiapan ruhani menyambut bulan suci Ramadhan.
Baca juga: Mengapa Nisfu Syaban Baca Yasin 3 Kali? Ini Penjelasannya
Sya’ban memiliki kedudukan tersendiri dalam tradisi Islam. Salah satu keutamaannya berkaitan dengan perintah bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW yang turun pada bulan ini. Allah SWT berfirman:
Innallāha wa malā'ikatahu yuṣallūna ‘alan-nabiyy, yā ayyuhallażīna āmanū ṣallū ‘alaihi wa sallimū taslīmā.
Artinya: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS Al-Ahzab: 56).
Ayat ini menjadi dasar kuat mengapa bulan Sya’ban sering disebut sebagai bulan shalawat dan bulan penyucian hati, sebelum umat Islam memasuki madrasah spiritual bernama Ramadhan.
Baca juga: Amalan Malam Nisfu Syaban: Keutamaan, Dalil, dan Panduan Ibadah
Tradisi menghidupkan malam Nisfu Syaban di Makkah tercatat dalam karya klasik ulama sejarah.
Muhammad bin Ishaq al-Fakihani dalam kitab Akhbar Makkah fi Qadim ad-Dahr wa Haditsihi menjelaskan bahwa masyarakat Makkah sejak masa awal Islam telah menjadikan malam ini sebagai momentum ibadah massal.
Kutipan ini dinukil oleh Hanif Luthfi dalam buku Malam Nisfu Syaban terbitan Rumah Fiqih Publishing:
“Penduduk Makkah sejak dahulu hingga zamanku, apabila malam Nisfu Syaban tiba, mayoritas dari mereka—laki-laki dan perempuan—keluar menuju Masjidil Haram. Mereka melaksanakan shalat, thawaf, membaca Al-Qur’an hingga pagi hari, bahkan sebagian mengkhatamkannya dalam satu malam.”
Tradisi ini menunjukkan bahwa Nisfu Syaban bukan sekadar malam simbolik, tetapi menjadi ruang kolektif bagi masyarakat Makkah untuk memperkuat ikatan spiritual dengan Allah.
Baca juga: Puasa Syaban dan Rajab: Bacaan Niat, Keutamaannya, serta Bolehkah Digabung dengan Qadha Ramadhan?
Dalam catatan yang sama, al-Fakihani menyebutkan bahwa sebagian masyarakat juga mengambil air Zamzam pada malam Nisfu Syaban.
Air tersebut diminum, digunakan mandi, dan diberikan kepada orang sakit dengan niat mencari keberkahan.
Ada pula jamaah yang melaksanakan shalat malam hingga 100 rakaat dengan membaca Surah Al-Fatihah dan Al-Ikhlas berulang kali dalam setiap rakaat.
Meski praktik ini bersifat tradisi lokal, semangat dasarnya tetap sama yaitu memperbanyak amal di malam yang diyakini penuh rahmat.
Baca juga: Nisfu Syaban 2026: Doa Berbuka Puasa dan Waktu Mustajab
Tidak hanya masyarakat awam, para ulama besar pun menjadikan malam Nisfu Syaban sebagai momentum ibadah istimewa.
Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam kitab Qimat az-Zaman ‘Inda al-Ulama menulis tentang kebiasaan Imam Ibnu Asakir:
“Ibnu Asakir dikenal sangat tekun beribadah. Ia menghidupkan malam Nisfu Syaban dan dua hari raya dengan shalat dan zikir.”
Sementara itu, Ibnu al-Jauzi al-Hanbali dalam At-Tabshirah mengingatkan umat Islam agar tidak melewatkan malam ini:
“Wahai para hamba Allah, malam ini adalah Nisfu Syaban. Ia adalah malam yang agung. Allah memperhatikan para hamba-Nya dan memberi ampunan, kecuali bagi orang yang berpaling dari-Nya.”
Pandangan yang lebih kuat datang dari kalangan tabi’in. Atha’ bin Yasar, ulama Madinah, menyebut bahwa Nisfu Syaban merupakan malam paling utama setelah Lailatul Qadar. Pernyataan ini dikutip oleh Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma’arif:
“Tidak ada satu malam setelah Lailatul Qadar yang lebih mulia daripada malam Nisfu Syaban.”
Ibnu Rajab juga mencatat bahwa para tabi’in di wilayah Syam seperti Khalid bin Mi’dan, Makhul, dan Luqman bin Amir sangat bersungguh-sungguh menghidupkan malam ini dengan shalat dan munajat.
Baca juga: Kapan Malam Nisfu Syaban 1447 H? Ini Jadwal Resmi dari LF PBNU
Fenomena ini menunjukkan bahwa Nisfu Syaban bukan sekadar tradisi kultural, tetapi lahir dari kesadaran kolektif umat Islam untuk menata ulang hubungan spiritual sebelum Ramadhan tiba.
Dalam perspektif tasawuf, malam ini dipandang sebagai “malam muhasabah kosmik”, saat manusia diajak menata ulang niat, memperbaiki dosa, serta membuka lembaran baru sebelum memasuki bulan puasa.
Hari ini, tradisi Nisfu Syaban masih hidup di berbagai belahan dunia Muslim, termasuk Indonesia. Mulai dari doa bersama, pembacaan Yasin, shalat malam berjamaah, hingga pengajian akbar.
Semua itu bermuara pada satu tujuan untuk menyambut Ramadhan bukan hanya dengan tubuh yang siap berpuasa, tetapi dengan hati yang telah dibersihkan dari dendam, iri, dan dosa masa lalu.
Malam Nisfu Syaban, sebagaimana diwariskan masyarakat Makkah dan para ulama salaf, bukan sekadar ritual.
Ia adalah undangan sunyi dari langit agar manusia berhenti sejenak, menengok ke dalam diri, dan kembali pulang kepada Tuhannya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang