Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Keteguhan Nabi Ilyas AS Menghadapi Bani Israil yang Membangkang

Kompas.com, 5 Januari 2026, 12:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Nabi Ilyas AS adalah salah satu nabi yang disebut dalam Alquran dan dipercayai memiliki kisah unik serta penuh perenungan.

Ia diutus untuk mengajak Bani Israil kembali kepada tauhid, namun dakwahnya tidak mudah diterima oleh kaumnya.

Bahkan dalam tradisi tertentu, terdapat keyakinan bahwa beliau masih hidup hingga hari ini sebuah keyakinan yang sarat makna spiritual.

Latar Belakang dan Penugasan Nabi Ilyas AS

Dalam Alquran, Nabi Ilyas AS disebutkan sebagai salah satu rasul Allah dan termasuk orang-orang yang saleh. Nama Nabi Ilyas tercantum dalam Surat As-Saffat dan Surat Al-An’am:

Tradisi Islam menyatakan bahwa Nabi Ilyas AS adalah keturunan keempat dari Nabi Harun AS, terlahir ke dalam keluarga yang dikenal di kalangan Bani Israil.

Baca juga: Ketika Nabi Pergi, Umat Bertobat: Kisah Nabi Yunus AS

Dakwah kepada Bani Israil yang Membangkang

Dikutip dari buku Kisah-kisah Pembebasan dalam Qur'an karya Eko Prasetyo, Nabi Ilyas AS diutus kepada Bani Israil yang kembali melakukan penyembahan berhala setelah masa Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS.

Kaum ini dikenal menyembah berhala bernama Ba’al yang dibuat dari emas dan dipusatkan di tempat ibadah.

Dalam perjuangan dakwahnya, Nabi Ilyas AS menyerukan kepada kaumnya untuk bertauhid kepada Allah SWT dan meninggalkan penyembahan pada simbol-simbol selainNya. Namun suara seruan beliau kerap diabaikan, bahkan dicegah dengan cemoohan.

Mukjizat dan Tantangan Iman

Salah satu peristiwa penting yang dikaitkan dengan Nabi Ilyas AS adalah doanya yang menyebabkan hujan turun setelah kekeringan panjang, sebagai bentuk tanda kebesaran Allah SWT.

Dalam kisah ini, Nabi Ilyas memancing para penyembah Ba’al untuk menunjukkan apakah ilah mereka mampu mendatangkan hujan dan nyatanya hanya doa kepada Allah yang dikabulkan.

Setelah itu, beliau sempat menjadi buronan kaum penyembah berhala yang menganggap dakwahnya sebagai ancaman.

Beliau bersembunyi di sebuah gua dan Allah SWT menjaga beliau dengan mengirim burung yang membawa makanan serta minuman.

Ketika musuh-musuhnya mengepung, Allah mendatangkan azab berupa gempa yang menghancurkan kaum yang ingkar itu.

Baca juga: Kisah Musa dan Harun, Dakwah Lembut di Hadapan Penguasa Zalim

Keberadaan Nabi Ilyas AS

Salah satu aspek yang paling banyak dibicarakan tentang Nabi Ilyas AS adalah keyakinan bahwa beliau masih hidup hingga sekarang.

Menurut narasi yang berkembang, ketika malaikat Izrail datang untuk mencabut nyawanya, Nabi Ilyas AS meminta agar ajalnya ditunda sampai hari kiamat karena rasa malu merasa belum cukup berzikir kepada Allah SWT. Allah pun mengabulkan permohonan itu.

Namun perlu ditegaskan bahwa keyakinan tentang Nabi Ilyas AS masih hidup hingga hari ini bukanlah doktrin agama yang mutlak dalam semua mazhab Islam.

Ini lebih merupakan tradisi cerita dan tafsir populer yang berkembang di kalangan umat Muslim dan tidak disebut secara tegas dalam nash Alquran maupun hadis sahih.

Banyak ulama menjelaskan bahwa kisah tersebut merupakan penafsiran spiritual tentang kedekatan dan keistimewaan beliau, bukan fakta historis yang bisa dibuktikan secara empiris.

Baca juga: Kisah Nabi Yusuf di Balik Jeruji dan Makna Kekuasaan yang Adil

Warisan Dakwah dan Keteladanan Iman

Terlepas dari perdebatan mengenai apakah Nabi Ilyas AS masih hidup hingga kini, kisah perjuangannya tetap menghadirkan pelajaran moral yang kuat.

Ia tampil sebagai sosok yang teguh dalam iman di tengah penolakan kaumnya yang berpaling pada penyembahan berhala.

Meski seruannya berulang kali ditolak, Nabi Ilyas AS tidak bergeser dari dakwah tauhid, menunjukkan bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh banyaknya pengikut, melainkan oleh kesetiaan kepada perintah Allah SWT.

Keteguhan itu disertai kesabaran dan kepasrahan mendalam. Nabi Ilyas AS menghadapi tantangan bukan dengan kemarahan, melainkan dengan doa dan keyakinan bahwa pertolongan Allah selalu hadir bagi hamba-Nya yang sabar.

Dalam riwayat-riwayat selanjutnya, ajaran tauhid yang dibawanya diteruskan oleh murid setianya, Nabi Ilyasa AS, menegaskan bahwa perjuangan kenabian tidak berhenti pada satu generasi, tetapi berlanjut sebagai amanah spiritual lintas zaman.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com