Editor
KOMPAS.com-Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan, manusia berada pada beberapa tingkatan dalam sholat, terutama dilihat dari kualitas khusyuk dan kehadiran hati.
Khusyuk memiliki kedudukan yang sangat penting karena menjadi penentu nilai sholat di sisi Allah, meskipun sholat tanpa khusyuk tetap sah selama rukun dan syaratnya terpenuhi.
Sholat yang dilakukan tanpa khusyuk hanya menggugurkan kewajiban, tetapi tidak menghadirkan pahala karena hati tidak benar-benar hadir dalam ibadah.
Baca juga: Tata Cara Sholat di Kendaraan saat Perjalanan agar Tetap Sah
Allah menempatkan khusyuk sebagai ciri utama orang beriman yang meraih keberuntungan, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Mu’minun ayat 1–2.
Sementara itu, perintah menjaga sholat secara berkesinambungan disebutkan pada ayat ke-9 dalam surah yang sama, menunjukkan bahwa kualitas shalat lebih didahulukan daripada sekadar kontinuitasnya.
Allah berfirman,
قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۙ الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خٰشِعُوْنَ
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS Al-Mu’minun [23]: 1–2).
Allah juga berfirman,
وَالَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَوٰتِهِمْ يُحَافِظُوْنَ ۘ
“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” (QS Al-Mu’minun [23]: 9).
Dilansir dari Buku Tafsir Shalat oleh Ammi Nur Baits, dalam kitab al-Wabil ash-Shayyib min al-Kalim ath-Thayyib, Imam Ibnu Qayyim mengklasifikasikan manusia ke dalam lima tingkatan khusyuk dalam shalat.
Tingkatan pertama adalah orang yang menzalimi dirinya sendiri, yaitu mereka yang meremehkan wudhu, waktu sholat, batasan-batasannya, serta rukun-rukunnya.
Tingkatan kedua adalah orang yang menjaga waktu, rukun lahiriah, dan wudhu sholat, tetapi tidak bersungguh-sungguh melawan waswas dan lintasan pikiran.
Kelompok ini larut bersama bisikan jiwa sehingga sholat dilakukan tanpa kehadiran batin yang utuh.
Tingkatan ketiga adalah orang yang menjaga rukun dan batasan sholat serta bersungguh-sungguh melawan waswas dan gangguan pikiran.
Baca juga: Panduan Lengkap Sholat Tahajud: Niat, Tata Cara, hingga Doa Panjang Rasulullah SAW
Ia berada dalam kondisi sholat sekaligus berjihad melawan musuh batin yang berusaha mencuri nilai ibadahnya.
Tingkatan keempat adalah orang yang menegakkan sholat dengan menyempurnakan seluruh hak, rukun, dan batasannya.
Seluruh perhatian dan hatinya tercurah untuk menjaga kesempurnaan sholat dan penghambaan kepada Rabb-nya.
Tingkatan kelima adalah orang yang melakukan sholat seperti tingkatan keempat, tetapi disertai kehadiran hati yang sepenuhnya diletakkan di hadapan Allah.
Ia memandang Allah dengan mata hatinya, senantiasa merasa diawasi, dipenuhi rasa cinta dan pengagungan, seakan-akan ia melihat dan menyaksikan-Nya.
Pada tingkatan ini, bisikan, lintasan pikiran, dan hijab antara hamba dan Rabb-nya telah sirna.
Perbedaan antara tingkatan ini dan tingkatan lainnya diibaratkan lebih jauh daripada jarak antara langit dan bumi.
Orang pada tingkatan kelima merasakan kebahagiaan sejati dalam shalat karena ia sibuk bermunajat dan dekat dengan Rabb-nya.
Baca juga: Sholat Jamak di Perjalanan: Pengertian, Jenis, dan Syaratnya
Dilansir dari laman MUI, Imam Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa golongan pertama layak mendapat hukuman, golongan kedua akan dihisab, golongan ketiga dihapuskan dosa-dosanya, golongan keempat memperoleh pahala, dan golongan kelima senantiasa didekatkan kepada Allah.
Penjelasan ini menegaskan bahwa sholat bukan sekadar rangkaian gerakan fisik, melainkan perjalanan hati menuju Allah Subhanahu wa ta’ala.
Tingkatan khusyuk menunjukkan sejauh mana seorang hamba benar-benar menghadirkan Rabb-nya dalam shalat.
Sebagian manusia hanya menggugurkan kewajiban, sebagian berjuang melawan waswas, sebagian larut dalam kekhusyukan, dan sebagian lainnya menjadikan shalat sebagai penyejuk mata.
Semakin tinggi tingkat khusyuk seseorang, semakin dekat pula ia dengan Allah dan semakin besar ketenangan yang dirasakan dalam hidupnya.
Doa pun dipanjatkan agar shalat menjadi sumber kebahagiaan dan kedekatan dengan Allah,
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ صَلَاتَنَا قُرَّةَ أَعْيُنِنَا، وَارْزُقْنَا فِيهَا خُشُوعًا صَادِقًا
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah shalat kami sebagai penyejuk mata kami, dan anugerahkan kepada kami kekhusyukan yang tulus.”
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang